Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cover Story

“Bertransaksi” dengan Allah di Tobelo

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Agustus 2012 22:13
Bagikan
Bagikan

Akhir bulan Oktober 2011, Taufikurrahman duduk bak pesakitan. Jantungnya berdegup kencang. Keringat dinginnya mengalir membasahi wajahnya. Ia sedang menanti pengumuman paling bersejarah sepanjang hidupnya: ditugaskan berdakwah di luar pulau Jawa. Seluruh pasang mata yang hadir tertuju kepadanya saat namanya disebut, “Ustadz Taufikurrahman. Dengan  daerah tugas, Tobelo, Maluku Utara.”

Sontak, lelaki berkulit sawo matang ini langsung bangkit. Tangan kanannya meninju langit seraya bertakbir, “Allahu Akbar.” Tak ketinggalan para peserta lainnya juga ikut bertakbir. Mata mereka berkaca-kaca. Tampak ibunya, Zami, yang duduk di sudut ruangan menitikkan air mata terharu. Taufik, demikian biasa dipanggil, lalu maju ke panggung dan dikalungi surban simbol pelepasan kader dai.

Saat itu, Taufik, pria Kelahiran Pamekasan, Madura Jawa Timur ini sedang mengikuti prosesi penugasan kader dai Sekolah Tinggi Agama Islam Lukman Al-Hakim (STAIL) Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur. Tak pernah terbayang jika ia mendapat amanah dakwah di daerah bekas konflik yang jauh itu. Bahkan, daerah Tobelo, katanya, baru saja ia dengar. Meski begitu, Tobelo tak menyiutkan nyalinya. Semangat dakwahnya tetap berkobar.

Kata Taufik, “Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang.” Maksud peribahasa ini diartikan, jika suatu keputusan telah diambil, maka seharusnya tidak ada lagi keragu-raguan. Jadi, keputusan itu harus dilaksanakan meski akan menghadapi segala kendala yang menghadang.

Tak lama setelah itu, ia berangkat ke daerah tugas seorang diri dan hanya berbekal ongkos secukupnya.

Baca Juga

(Video) Tante Dolly Telah Pergi
(Video) Menguji Toleransi di Bali
Usaha Mengkaji Ulang “Paradigma Baru” LDII
Dr. Ending: Penyerangan Satu Bukti Kesesatan Akidah LDII
Kenapa Mereka Marah?

Sempat Ketar-ketir

Setiba di sana, ia diamanahi membuka pesantren di Desa Togoliua, Kabupaten Tobelo, Maluku Utara. Tak ada teman. Ia melakukannya seorang diri. Padahal, dari cerita masyarakat setempat, Tobelo dulunya pusat konflik antara Islam dan Kristen. Banyak orang Islam meninggal di sana. Dan, alangkah kagetnya ia ketika pertama kali datang langsung disuguhi video pembunuhan oleh anak-anak kecil.

“Ustadz-ustadz, lihat nih video ini,” kata Taufik menirukan.

Ia tercengang sesaat. Ternyata, anak-anak itu masih menyimpan video tersebut di handphone. Padahal, peristiwa naas itu telah lama terjadi. Taufik merinding. Rasa takut mulai merayapi pikirannya. Hampir beberapa pekan lamanya ia mengurung diri dan menangis di kamar. Ia khawatir bila hal paling buruk menerpa dirinya. Namun, seiring waktu, ia pun mulai menguasai diri.

“Bukankah ajal dan hidup manusia itu di tangan Allah. Insya Allah, demi dakwah, saya siap mengemban amanah berat ini meski menuai risiko terburuk sekalipun,” tuturnya sambil mengingat-ingat filosofi perjuangan Thariq bin Ziad.

Tentu keputusan itu tidak mudah. Butuh kekuatan dan keikhlasan yang kuat. Tidak banyak orang bisa melakukannya. Saat itu, ia betul-betul memasrahkan semuanya kepada Allah Ta’ala. Ia telah melakukan “transaksi jual-beli” dengan Allah di medan dakwah.

Taufik pun mulai bergerak. Salah satu tugas yang sudah ada di depan mata adalah menjaga lahan kosong sekitar dua hektar yang akan dibangun pesantren. Hanya baru ada gubuk reot  yang ia tinggali. Tak ada WC. Air juga susah. Terpaksa, ia pun terkadang harus mandi di sungai yang jaraknya sekitar satu kilometer.

Desa Togoliua terletak di Kecamatan Kusuri, Tobelo, Maluku Utara. Mayoritas penduduknya Muslim. Jumlah Muslim di desa ini paling banyak bila dibandingkan daerah yang lainnya atau sekitar 250 KK. Mata pencaharian mereka berkebun. Sebelum konflik, katanya, jumlah Muslim lebih banyak. Namun, setelah terjadinya kerusuhan, jumlah Muslim menyusut.

Banyak penduduk di desa ini berasal dari Maluku ditambah sebagian dari Jawa yang bertransmigrasi. Kendati mayoritas Muslim, tapi menurut pantauan Taufik, semangat beribadah masyarakat masih memprihatinkan. Buktinya, dari sekitar empat masjid yang ada, hampir semuanya sepi dari syiar Islam. Bahkan, jamaah shalat Jumat saja tak lebih dari dua shaf. “Pasca kerusuhan, banyak ustadz yang pergi dan tak kembali. Mungkin karena minimnya bimbingan jadi semarak beragama masyarakat redup,” ujarnya.

Yang membuatnya lebih miris lagi adalah kalangan remajanya yang suka minum-minuman keras dan memakai anting-anting di telinga. Ia sempat kaget bukan main. Pernah suatu saat ia mengajar di sebuah madrasah tsanawiyah. Iseng-iseng ia bertanya kepada siswanya, ternyata tak ada yang shalat Subuh. Tidak hanya itu, jumlah rakaat shalat Ashar saja banyak yang lupa. “Kalau rakaat shalat saja lupa bagaimana dengan mengerjakannya,” katanya.  

Kondisi itulah yang menjadi keprihatinan banyak orang. Sebenarnya, pasca kerusuhan ada sebagian anak yang dikirim menimba ilmu di pesantren di Jawa. Namun, saat kembali mereka justru ikut terpengaruh budaya buruk: nongkrong, meminum khamr, dan memakai tindik.  

Kondisi seperti itulah yang dihadapi Taufik. Ia mulai mengatur rencana. Di sela-sela kesibukannya membangun masjid, ia membina remaja dan anak-anak. Namun, tidak mudah memulai dakwah di tempat yang baru, apalagi seorang diri. Untungnya, ia mempunyai kemampuan beladiri. Ia menarik perhatian para remaja dengan mengajari mereka ilmu beladiri  yang pernah dipelajarinya saat menimba ilmu di Pesantren Banyuanyar, Pamekasan Madura. “Alhamdulillah, mereka cukup tertarik dan banyak yang minta belajar,” terangnya.

Setelah akrab, baru mereka diajari ngaji al-Qur`an. Taufik membagi waktu antara ngaji dan belajar beladiri. Untuk ngaji waktunya selepas Ashar, sedangkan beladiri malam hari. Berawal dari situ, ia pun bisa mendirikan Taman Pendidikan al-Qur`an (TPQ), yang menampung sekitar 70 siswa.

Ia juga melebarkan sayap dakwahnya dengan mengisi tausiyah ibu-ibu. Berkat kemampuannya menelaah Kitab Kuning membuatnya cukup fasih berbicara soal fikih.

Suatu saat, ada seorang pegawai KUA Tobelo melihat kemampuannya itu. Langsung saja Taufik ditawari menjadi salah satu anggota Tim Fatwa MUI Tobelo.

Mendirikan Pesantren

Taufik mendapat amanah mendirikan pesantren. Kini, sebuah masjid sedang dalam proses penyelesaian. Rencananya, di atas lahan seluas dua hektar itu akan dibangun Madrasah Aliyah Darul Arqam.

Untuk memperkuat dakwahnya, medio Juni lalu, anak dari pasangan Hamzah dan Zami ini pulang ke kampungnya, Pamekasan untuk menyempurnakan agamanya. Ia mempersunting gadis pilihanya, Nur Imamah yang masih satu kampung dengan Taufik.  

“Insya Allah, dengan adanya istri, saya bisa lebih konsentrasi dan kuat mengemban tugas  dakwah di sana,” harapnya. Selamat berjuang.* Syaiful Anshor, koresponden Suara Hidayatullah

Rubrik ini atas kerjasama hidayatullah.com dengan Pos Dai, untuk informasi berbagai program dakwah dapat di klik di www.posdai.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hadiri Bukber Atase Saudi, 500-an Napi Dihimbau Tobat
Tulisan selanjutnya Maidah ar-Rahman, Bukti Berkah Ramadhan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Berita
31 Mei 2026 04:41
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Suka Duka Perjuangan Da’I di Daerah Pelosok Kupang NTT

24 Mei 2013 09:38

Bertahan di Tengah Kesunyian demi Dakwah

21 Mei 2013 17:15

Penjaga Akidah Muslimah Dari Larantuka (2)

16 Mei 2013 10:55

Penjaga Akidah Muslimah Dari Larantuka (1)

13 Mei 2013 12:32
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?