Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Di Mana Bisa Kita Temukan Khalifah al-Mu’tashim di Zaman Ini?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 April 2015 16:31 4:31 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 April 2015 16:31
Bagikan
Bagikan

Oleh: Fais al-Fatih

PADA malam hari, kota ini diterangi lampu-lampu yang gemerlapan sehingga pejalan kaki memperoleh cahaya sepanjang sepuluh mil tanpa terputus. Lorong-lorongnya beralaskan batu ubin, dan bersih dari sampah-sampah yang berserakan. Kota ini juga berhiaskan taman-taman yang hijau, memiliki tempat pemandian berjumlah 900 buah, bangunan-bangunan sebanyak 80.000 buah, masjid 800 buah dan berpenduduk lebih dari satu juta jiwa.

Di kota ini terdapat istana az-Zahra yang megah dan keindahannya menyejarah karena bernilai seni tinggi dan dibangun dengan teknologi yang canggih, sampai-sampai sejarawan Turki, Dhiya Pasha mengatakan bahwa istana az-Zahra merupakan keajaiban zaman yang belum pernah terlintas imajinasinya dalam benak arsitek sejak Allah menciptakan alam ini. Kota ini bernama Cordoba, terletak di Andalusia, dimana negara Spanyol kini berada.

Begitulah pemandangan dan suasana ketika umat Islam mencapai zaman keemasannya dalam sejarah.  Peradabannya gemerlap dengan indahnya akhlak dan kemajuan ilmu pengetahuan serta keindahan arsitektur bangunan.

Karen Amstrong, dalam buku Biography of Muhammad mengatakan, “Kaum Muslim adalah peletak dasar peradaban agung di semua aspek peradaban manusia di altar kehidupan ini. Mereka juga meletakkan dasar-dasar metodologi berpikir brilian yang menjadi acuan dasar para pemikir Eropa pada abad pertengahan, bahkan hingga masa kini.”

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Tapi setelah berbagai persoalan datang mendera baik itu dari internal maupun eksternal, maka berlakulah fase kemunduran yang penuh dengan ratapan, tangisan dan penderitaan. Saat Khilafah Utsmaniyah dihapuskan oleh pengkhianat bernama Musthafa Kemal, seorang penyair Turki berkata:

Kini senandung pengantin berbalik menjadi ratapan

Aku meratap di tengah lencana-lencana kegembiraan

Kau dikafankan di malam pengantin dengan pakaiannya

Dan tatkala pagi akan menjelang, engkau telah sirna

Mimbar-mibar dan tempat adzan bergerak untukmu

Sedangkan kerajaan-kerajaan meratap menangisi kepergianmu

India, Walhah dan Mesir demikian bersedih ditinggalkanmu

Menangis dengan air mata yang deras untuk kepergianmu

Syam, Iraq dan Persia semua bertanya-tanya

Adakah oleh orang-orang dari muka bumi, khilafah telah dimusnahkan?

Wahai alangkah malang, dikubur hidup-hidup orang yang merdeka

Dibunuh tanpa melakukan kesalahan dan kejahatan

 

Seorang intelektual asal Aljazair, Malik bin Nabi mengatakan, bahwa sebuah peradaban akan terus menanjak naik tatkala yang menjadi panglimanya adalah ruh. Dengan ruh, sebuah peradaban akan menjadi peradaban yang bersih dan tak terkotori. Pada masa inilah peradaban akan dianggap mencapai puncak yang sebenarnya.

Pada tahapan kedua, peradaban akan mengalami perluasan dan pemekaran wilayah, tatkala yang menjadi pemain dalam peradaban itu adalah akal. Peradaban yang dikendalikan oleh akal akan mengalami tarik menarik yang demikian kencang antara ruh dan hawa nafsu.

Dan jika hawa nafsu menjadi panglimanya, maka terjadilah tahapan yang ketiga, yaitu fase kehancuran dan kebangkrutan. Pada titik inilah peradaban akan meluncur deras ke titik paling bawah dalam sejarah.

Itulah fakta sejarah. Bangsa Arab dahulu bukanlah siapa-siapa. Dipimpin oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, Khulafaur Rasyidin, bani Umawiyah dan bani Abbasiyah, Islam bisa meraih kejayaan dan menjadi soko-guru dalam peradaban. Wilayah kekuasaan mereka terbentang luas dari Andalusia sampai negeri India. Hal ini bisa dicapai karena mereka bersenyawa dengan Islam, Al-Quran dan sunnah dijadikan sebagai pedoman.

Maka ketika mereka terlena dengan musik, tari-tarian, pertunjukan tengah malam dan masuknya perselisihan, maka dicabutlah amanah kepemimpinan itu dari mereka. Allah Subhanahu Wata’ala serahkan kepada bangsa Kurdi dengan tokohnya yang gemilang, Nuruddin Muhammad Zanki dan Shalahuddin al-Ayyubi.

Di tangan mereka, masjid al-Aqsha yang dikuasai Pasukan Salib selama 88 tahun berhasil direbut dan diselamatkan.

Ketika bangsa Kurdi berpaling dari Islam, Allah Subhanahu Wata’ala serahkan estafet kepemimpinan kepada Mamluk, bekas-bekas budak dari Asia Tengah, dan kemudian diberikan kepada bangsa Turki.

Lewat perantara salah satu pemimpinnya yang agung, Sultan Muhammad al-Fatih, Kota Konstantinopel yang telah dijanjikan akan ditaklukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam 8 abad sebelumnya, bertekuk lutut dan menyerah di bawah telapak kakinya.

Kekuasaan Turki Utsmani mencengkram kuat di daratan Eropa dan mampu bertahan selama 6 abad lamanya dan menjadi adidaya yang ditakuti oleh bangsa-bangsa Eropa.

Sunnatullah terus berlaku, ketika sultan-sultan Turki Utsmani menjauh dari syariat Allah dan Rasul-Nya, maka kekuasaan mereka yang terbentang luas dari tanah Hindustan, India hingga wilayah Balkan, Eropa menjadi bercerai berai, seperti makanan yang terhidang di meja, diperebutkan dan disantap dengan buas oleh bangsa Eropa.

Sampai detik ini, belum ada lagi generasi Muslim yang mampu membangkitkan dan menata kembali puing-puing sejarah Islam yang telah runtuh.

Sebaliknya, umat Islam dinistakan dan mendapatkan perlakukan yang sewenang-wenang di berbagai belahan dunia. Jika dulu hanya karena seorang wanita ditawan; “Wahai Muhammad, wahai Mu’tashim!”, ratapnya dalam tawanan. Khalifah al-Mu’tashim langsung menunggang kudanya dan bersama bala tentaranya pergi menyelamatkan dan membebaskan wanita tersebut. “Ku penuhi seruanmu!”, ujar sang khalifah setelah berhasil menyelamatkan wanita tersebut.

Tapi saat ini, ratusan bahkan ribuan wanita Muslimah menjerit dan berteriak, dianiaya, diperkosa dan dizhalimi di Palestina, Suriah, Iraq, Afghanistan, Rohingya dan negeri Islam lainnya, belum ada dari kita yang bisa menyelamatkan dan membebaskan mereka. Betapa menyedihkannya!

Di mana Panglima Sa’ad bin Abi Waqqash yang mengalahkan adidaya Persia?

Di mana sultan Shalahuddin al-Ayyubi yang membebaskan masjid al-Aqsha?

Di mana tentara-tentara Thariq bin Ziyad yang menggemparkan bumi Andalusia?

Di mana pasukan al-Fatih penakluk Konstantinopel, yang membuat gentar Eropa? (Bersambung)…

Penulis adalah anggota Kelompok Studi Palestina (KSP). Kini magister Informatika Opsi Sistem Informasi Institut Teknologi Bandung (ITB)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 16 Negara UE Desak Pelabelan Produk Asal Tepi Barat
Tulisan selanjutnya Bela Muslim Yang Dilecehkan, Gadis Australia Tuai Banyak Pujian

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?