Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
None

Kemenag Kembangkan Wawasan Multikultural, Dianggap “Baju” Lain Paham Pluralisme

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Mei 2015 13:05 1:05 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Mei 2015 13:05
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Kementerian Agama melalui Pusat Kerukunan Umat Beragama  (PKUB) terus berupaya untuk mengembangkan wawasan multicultural tokoh agama.

Upaya untuk membina kerukunan antar umat beragama ini dikemas dalam bentuk Worskhop Pengembangan Wawasan Multikultural yang diselenggarakan selama dua hari, 22 – 23 Mei, di Yogyakarta.

Sesuai dengan semangat kerukunan, Workshop ini mengangkat tema Diversity is Reality, Unity is Necessity, keberagaman adalah sebuah keniscayaan, persatuan adalah suatu keharusan.

Workshop hasil kerjasama PKUB dengan Kanwil Kemenag DIY dan Kankemenag Kabupaten Sleman ini diikuti 100 orang yang merupakan tokoh-tokoh lintas agama. Selama dua hari pelaksanaan workshop, peserta akan didampingi tim dari UIN Sunan Kalijaga.

Kepala PKUB Mubarok yang membuka acara ini menjelaskan Indonesia merupakan bangsa yang terdiri dari ribuan pulau dengan segala macam perbedaannya. Pendiri bangsa tentu sudah memikirkan itu semua sehingga dalam UUD 1945 sudah tercermin menjaga potensi negatif yang ditimbulkan dari perbedaan.

Baca Juga

Tahun Baru Hijriah, Kini Punya Makna Perubahan Orientasi Hidup dan Kepedulian Sosial
Cegah Anak Obesitas, Inggris Larang Makanan Manis dan Gorengan di Sekolah
Iran Hujani Israel dengan Rudal Usai Trump Klaim Kemampuannya Melemah
200 Tentara AS Terluka, Iran Nyatakan Siap Perang Panjang
Jerman Penjarakan Seorang Pria Libanon Anggota Hizbullah

“Kalimat yang digunakan dalam misi negara yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 adalah menjaga segenap tumpah darah Indonesia,” tegas Mubarok, Jumat (22/05/2015) dikutip laman Kemenag.

Keberagaman, lanjut Mubarok, adalah sebuah takdir, meski kadang menimbulkan percikan konflik yang tidak nyaman. Namun itu semua, menurutnya, tetap wajar terjadi.

“Dalam keluarga saja kadang bertengkar,” kata Mubarok.

Kepala PKUB mencontohkan orang Sumatera yang gaya bicaranya keras, bisa dianggap sedang marah oleh orang Yogya yang terkenal halus.

Di sisi lain, Mubarok menandaskan workshop ini bertujuan agar peserta dapat memiliki pemahaman yang lebih baik akan suatu perbedaan.

“Kami di PKUB memiliki misi untuk menjaga kerukunan. Rukun itu adalah kebersamaan yang mendalam, lebih dari sekadar damai,” terang Mubarok lagi.

Ia melanjutkan, perbedaan yang terjadi di wilayah agama sudah diatur baik oleh negara.

“Negara kita bukan negara agama, tapi juga bukan negara sekuler,” ingat Mubarok. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, jelasnya lebih jauh, menandaskan tiap gerak langkah bangsa ini harus dilandasi Ketuhanan. “Pasal 29 UUD 1945 merupakan acuan pokok bagi kita dalam beragama,” terangnya lagi.

Negara memberikan kebebasan dalam beragama bagi seluruh penduduk.

“Baik WNI maupun WNA yang tinggal di Indonesia bebas menjalankan agamanya. Agama apa saja, terlebih bagi WNA mereka boleh membawa agama mereka datang ke sini,” beber Mubarok yang pernah menjabat Kepala Biro Hukum dan Kerjasama Luar Negeri Kemenag itu.

Kabag TU Kanwil Kemenag DIY Zainal Abidin yang mewakili Kakanwil Prof. Nizar mengungkapkan penduduk di DIY berjumlah sekitar 3,4 juta jiwa dengan mayoritas Islam sebanyak 96%. Sementara umat Konghucu kurang dari 180 orang.

“Kondisi keberagamaan umumnya berjalan baik. Masing-masing agama saling hormati keyakinan,” terang Zainal Abidin. Menurut mantan Kabid Urais dan Binsyar Kemenag DIY itu, Yogya juga dikenal sebagai city of tolerance.

Sementara itu  peneliti Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya mengatakan, istilah multicultural adalah nama lain gerakan liberalisme. Karena itu masyarakat harus ikut mengawasinya.

“Istilah multikulturalisme itu biasanya baju lain dari paham liberalisme dan pluralisme yang menganggap semua agama sama dan sama-sama benar. Masyarakat harus ikut mengawasi dan memantau jika ada kajian-kajian yang hanya akan menyesatkan umat,” ujarnya kepada hidayatullah.com, Jumat siang.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Kemenagkonflikliberalisme
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Begini Cara Inggris Memecah Dunia Arab [1]
Tulisan selanjutnya Begini Cara Inggris Memecah Dunia Arab [2]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda

Berita
14 Juli 2026 21:00
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaNone

Kurma Israel Beredar di Eropa dengan Label Palsu

20 Februari 2026 07:00
BeritaNone

Video: Pria Disabilitas di Nepal Viral Menjaga Masjid dari Serangan Kelompok Radikal

11 Februari 2026 05:26
None

“Kemunafikan Barat Terbongkar”: Celah Hukum Pernikahan Anak di AS Disorot Aktivis HAM

2 Februari 2026 19:30
None

Tolak Gabung ‘Dewan Perdamaian’, Jerman: Penyimpangan Sistem Internasional

23 Januari 2026 09:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?