Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Asa “Ulama” Lajang Pengupas Bawang

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 1 Desember 2013 07:16 7:16 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 1 Desember 2013 07:16
Bagikan
Fahrullah
Bagikan

RUANGAN ini biasa saja, luasnya sekitar 4×10 meter persegi. Dindingnya terdiri dari batu-bata tanpa plester, anyaman bambu, dan kain bekas spanduk. Sebuah kursi bambu nongkrong di pojokan ruangan. Di sampingnya, berderet tiga panci besar, di antaranya berisi nasi yang masih panas.

Namun bagi Ahmad Fahrullah, ruangan yang tak lain dapur umum Pesantren Al-Bahjah itu menjadi istimewa. Dari situ, hal berbeda dirasakan remaja keturunan Kamboja-Cina-Vietnam ini, yang tidak ditemukannya di Terengganu, Malaysia, tempat dia dilahirkan.

Selama mondok di pesantren yang terletak di Jalan Pangeran Cakra Buana, No. 179, Sendang, Sumber, Kabupaten Cirebon itu, dia mendapati kebersamaan dengan para santri. Sama-sama masak, sama-sama makan. cukup berkesan baginya meski baru setahun lebih mondok.

“Di sini suasana pondok, di sana (Malaysia) kan makan sendirian-sendirian. Di sini kan makan bareng, ada barokahnya. Terus makannya ‘asal-asalan’ gitu, nda pa-pa. Kan (kalau) di luar kan ayam gitu. Kalau di sini kan banyak temen, di sana kan kurang,” terang Fahrullah, sapaan remaja 15 tahun ini.

Berbeda kewarganegaraan tak menyulitkannya beradaptasi dengan lingkungan. Pelajar bermata agak sipit ini tampak akrab dengan rekan-rekannya.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Fahrullah bercerita, dia diminta orangtuanya bertahan di pondok berkultur Nahdliyin itu selama 10 tahun. Walau kerjanya banyak di dapur; mengupas bawang atau memotong tempe, dia optimis kelak menjadi orang yang berguna bagi umat. Baginya, tugas di dapur hanyalah proses menuju cita-cita yang diharapkan ayahnya.

“Kalau orangtua maunya itu jadinya ulama. Ana (saya. Red) tuh ikut aja. Suruh apa ya udah ikut aja, dituruti diarahkan ke mana,” tuturnya saat bincang-bincang dengan Hidayatullah.com di dapur umum kampus utama Al-Bahjah, Selasa, 8 Muharram 1435 H (12/11/2013) lalu.

Paling tidak, baginya, Fahrullah bisa menjadi pembantu para ulama. Dia punya gambaran, jika sekiranya Ahmad Duzuki kelak menjadi ulama, dia siap menjadi semacam asistennya.

Duzuki, 16 tahun, adalah kakak kandung Fahrullah yang juga mondok di Al-Bahjah. Menuru Fahrullah, Duzuki tergolong santri yang memiliki semangat belajar sejak kecil. Sayang, saat media ini hendak menemui Duzuki, menurut kawannya dia sedang istirahat setelah semalam bertugas ronda kampus.

Pengganti Ayah

Fahrullah tak memungkiri, di awal keberadaannya sebagai santri ada perasaan goncang, ingin pulang terus. Lama-kelamaan dia pun betah. Selama mondok, banyak peningkatan yang dia dapatkan, terutama dari segi keagamaan Islam.

“Kalau dulu kan kalau di sekolahnya (Malaysia) agamanya nda diketati gitu. Kalau di sini kan belajar fikih, aqidah,” dalih santri yang pernah 2 tahun belajar di Sekolah Menengah Kebangsaan (SMK) Kijal, Terengganu ini.

Disinggung Buya Yahya, dai Nahdliyin pendiri Al-Bahjah ini sosok yang spesial di mata Fahrullah. Buya dia anggap sebagai pengganti orangtuanya yang jauh di kampung.

“Saya anggap (Buya) sebagai guru, sebagai ayah. Dia beda sih sama yang lain. Cara ambil perhatiannya. Tegurannya ya langsung dibenerin (kalau) ada yang salah,” ungkapnya.

Fahrullah menempuh pendidikan di Sekolah Kebangsaan (SK) Kijal –setingkat Sekolah Dasar (SD)– selama 6 tahun. Lanjut ke SMK Kijal selama 2 tahun. Belum selesai di SMK, Fahrullah dan Duzuki langsung diboyong ke Indonesia oleh Muhammad Na’im, ayah mereka. Sebenarnya sudah sejak lama keduanya hendak dimasukkan pesantren.

“Udah dari SD, cuma kan belum ketemu pondok yang cocok. Ya itu baru ketemu sekarang (maksudnya sejak 2011. Red),” terang Fahrullah yang mengaku ayahnya juga lulusan sebuah pesantren dan bisa baca kitab.

Dia menuturkan, ayahnya sempat mengajar di Malaysia, namun ada yang menghalang-halangi dan akhirnya ayahnya berhenti mengajar. Kini, keluarga Muslim mereka tinggal di bandar Kijal, Kemaman, negara bagian Terengganu, Semenanjung Malaysia (Malaysia Barat). Kedua orangtuanya sehari-hari sebagai pedagang. Ketiga adiknya yang perempuan semua juga masih sekolah.

Sejak berada di Cirebon, remaja yang dulunya bercita-cita jadi pilot ini baru sekali pulang kampung. Dia dan kakaknya memanfaatkan libur lebaran Idul Fitri 1434 Hijriyah lalu.

“(Di Malaysia) seminggu. Di sini (jatah pulang kampung) kalau yang jauhnya lima hari. Kalau yang deket tiga hari. Takutnya kalau kelamaan hafalannya hilang. Kalau yang jauh-jauh paling nda pulang,” terangnya.

Beda Indonesia dan Malaysia

Di Al-Bahjah, Buya Yahya menularkan prinsip “tidak ikut campur politik” kepada para muridnya. Namun begitu, Fahrullah cukup memperhatikan kondisi sosial Malaysia dan Indonesia. Ketika ditanya perbedaan masyarakat kedua negara bertetangga itu, penghobi badminton ini menyebut gaya berpakaian salah satunya.

“Di sana tuh pakaiannya beda. Pakaian di sana orang udah tua ya orang tua, ya kelihatan kalau pakaiannya orang tua. Kalau di sini pakaiannya orang muda lihat mukanya orang tua,” terang Fahrullah yang saat itu mengenakan kaos oblong bertuliskan “1 Malaysia” dengan gambar bendera dan sejumlah gedung terkenal di negara jiran tersebut.

Selain itu, menurutnya, di wilayah Nusantara banyak beredar cerita aneh-aneh, berbeda dengan di negaranya. Sedangkan dari segi keagamaan, dia menilai Indonesia dipenuhi banyak aliran dan kepercayaan.

“Kalau di sini ya banyak (aliran) agama apa kayak Wahabi, Syiah itu, banyak sekali. Di sana belum kelihatan. Tapi kemarin ana pulang, sudah ada yang masuk Syiahnya. Pukul-pukul (badan) sendiri, lihat di video,” ungkapnya.

Meski begitu, dia tak bermaksud membanding-bandingkan kedua negara serumpun Melayu itu. Di sisi lain, dia mengklaim Malaysia lebih bersih daripada Indonesia. Pemerintahnya pun menurutnya berpikiran lebih maju.

Di penghujung obrolan dengan Hidayatullah.com pagi itu, Fahrullah berharap, hubungan Indonesia-Malaysia tetap mesra. Apalagi kedua negara ini sama-sama mayoritas Muslim. Pun diharapkan, antara keduanya tidak terjadi kesenjangan. Justru sebaliknya, bersatu.

“(Kesenjangan) itu karena politik semua. Kalau (keduanya) bergabung ya lebih bagus,” tandasnya penuh harap.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Buya YahyaIndonesia-MalaysiaPesantren Al-BahjahsantriWNA
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Amerika akan Musnahkan Senjata Kimia Suriah di Laut
Tulisan selanjutnya Konflik Suriah Menular: Kampung Muslim Libanon Kembali Diserang

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?