Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Kejujuran Kernet Garuda yang Mengejutkan

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 29 Agustus 2015 12:12 12:12 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 29 Agustus 2015 12:12
Bagikan
Suasana di dalam armada sebelum keberangkatan.
Bagikan

RODA Garuda berputar perlahan meninggalkan Terminal Regional Daya, Kota Makassar. Puluhan penumpang di atasnya sudah mulai bersiap menempuh perjalanan cukup jauh. Saya, mungkin karena terlambat pesan tiket, kebagian kursi paling belakang.

Ini pertama kalinya saya naik Garuda, salah satu bus umum di ibukota Sulawesi Selatan (Sulsel) itu. Sebenarnya ada perasaan kurang sreg, sebab ini bukan bus yang semula mau kutumpangi.

Sebelum ke terminal, Lukman Hakim, kawan yang akan kukunjungi dalam perjalanan ini, merekomendasikan bus Bintang Timur. Pelayanan bus ini dinilainya memuaskan.

Kupesanlah kepada Ahmad Sabil, kawan lain, yang mengantarku ke Terminal Daya, agar mencari bus tersebut. Namun, malam itu, begitu tiba di terminal, bus yang terlihat sesuai jurusan tujuanku adalah Garuda.

Mungkin atas pertimbangan efesiensi waktu, Sabil tak menyarankanku mencari bus lain. “Naik Garuda saja,” ujarnya padaku usai ia berkomunikasi dengan petugas bus.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Sebelum menyetujuinya, saya memastikan sejenak bahwa kondisi bus ini bagus. Bodi Garuda didominsi ungu dengan gambar-gambar “love” warna-warni. Interiornya cukup elit, berformasi kursi 2-2. Full AC. Perjalanan malam ini akan terasa dingin, pikirku.

“Ada (jatah) selimutnya ya?” saya bertanya kepada kernet bus.

“Iya, ada!” jawabnya mantap.

Saya pun mengikuti saran Sabil. Kuserahkan 4 lembar uang Rp 50 ribu padanya untuk membayar tiket.

Sejurus kemudian, Sabtu kedua Agustus 2015 itu, Sabil sudah pulang meninggalkanku. Saya pun mengatur posisi barang di dekat tempat duduk. Sebagian penumpang lain menarik selimut masing-masing. Anehnya, tak kujumpai selimut di kursiku. Begitu pula dengan penumpang di samping kananku. Rupanya cuma kami berdua yang tak kebagian selimut. Nggak bener ini, batinku.

“Mas, di sini kok tidak ada selimutnya?”

Saya bertanya pada seorang kernet yang tadi menjanjikanku ketersediaan selimut. Petugas berkaos hitam itu tampak kebingungan. Ia celingak-celinguk, mencari-cari, siapa tahu selimut jatahku terselip di suatu tempat di bus ini.

Karena tidak ketemu –atau mungkin memang tidak ada, ia meminta kesediaan seorang penumpang wanita di kursi seberangku untuk meminjamkan selimutnya.

“Mbak, selimutnya kita pakai tidak?” tanya sang kernet.

Tradisi orang Sulsel, kata ganti kita biasanya digunakan sebagai “bahasa halus” pengganti kamu.

Wanita tersebut tidak bersedia. Kernet pun pergi ke bagian depan bus, seakan mencari-cari selimut alternatif. Saya mencoba berlapang dada tak kebagian selimut.

Sempat terlintas penyesalan naik bus ini. Tapi tawakal saja, bus pilihan Sabil, yang sudah berbaik hati mengantarku ke terminal, tentu tak sembarangan.

Sebelum berangkat, untuk memastikan bus ini sesuai dengan rute tujuanku, kusempatkan bertanya dua kali kepada penumpang di kanan-kiri.

“Tabe’ (permisi), ini bus ke Lambara ya?”

“Iye!”

“Makasih ki!” sahutku.

Dalam dialog itu, bahasa serta aksen Kalimantan, Jakarta, dan Sulsel kucampur aduk.

Tak berapa lama, saat saya mengatur posisi di atas kursi, datang kernet lain. Pria berseragam ini menyodorkan tiket yang kutunggu dari tadi. Selain tiket, ia juga menyodorkan selembar uang Rp 50 ribu.

“Kelebihan tadi uangnya, dikasih Rp 200 ribu (bukan Rp 150 ribu),” ujarnya seakan menjawab kebingunganku.

Hah?

Kuputar ingatanku ke belakang. Tadi uang yang kuserahkan ke Sabil Rp 200 ribu. Tiketnya seharga Rp 140 ribu. Sebelumnya sudah dikembalikan Rp 10 ribu oleh kernet.

Berarti tadi Sabil lupa jumlah uang pembayarannya. Alhamdulillah banget. Tak kusangka kernetnya sejujur itu.

“Makasih ki,” ujarku segera –masih berlagak bahasa Sulsel– kepada petugas bus begitu menerima uang kembalian darinya.

Saya senyum-senyum sendiri. Kalau sekiranya saat ini diriku sedang di terminal bus di Jakarta, entah uang lebih tersebut dikembalikan atau tidak. Allahu a’lam!

Kejutan Lain

Jam di ponsel Android-ku menunjukkan pukul 19.40 WITA. Garuda mulai bergeser dari terminal. Cerita kejujuran kernet tersebut segera kubagikan ke media sosial. Namun saya malah dipojokkan. Bukan soal kejujuran itu, tapi soal penempatan bahasaku saat beraksen Sulsel.

“Kok bilang ‘makasih ki’? Dalam kamus bahasa Makassar dan Bugis, tambahan kata ki, setelah kata terima kasih kayaknya kurang pas. Kata ‘makasih di’, lebih tepat. Artinya ‘makasih ya’,” terang seorang kawan.

Ada juga yang mengkritik dialogku sebelumnya dengan penumpang wanita. Kata kawan di facebook, dialog itu kalau ala orang Sulsel seharusnya begini:

“Mau ke mana ki?”

“Mau ke Lambara. Benar ji ini bisnya to?

“Iye, benar ji.”

“Makasih banyak di!”

Di awal-awal perjalanan menuju Lambara Harapan, sebuah kampung di Kecamatan Burau, Kabupaten Luwu Timur itu, hampir tak henti kutertawakan diri sendiri.

Bayangkan, gara-gara “di” dan “ki”, saya di-bully…. Beberapa hari di Makassar rupanya belum cukup bagiku untuk menguasai perbendaharaan bahasa setempat.

Keesokan harinya, Ahad (09/08/2015), sekitar pukul lima dinihari. Saya terbangun dari tidur. Bus masih melintas di Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu. Melalui BBM, Lukman memperkirakan saya tiba di Lambara sekitar pukul 6.30 pagi.

Sementara itu waktu Shubuh sudah masuk. Saya siap-siap bertayammum. Rupanya, tak lama kemudian, bus berhenti di depan Masjid Nurul Muttaqin Kurri-Kurri, Masamba.

“Yang mau shalat Shubuh, Shubuh,” kernet berkaos hitam berteriak kepada para penumpang. Sebagian orang turun.

Bus Garuda saat berhenti di depan Masjid Nurul Muttaqin Kurri-Kurri, Masamba. [Foto: Syakur]
Bus Garuda saat berhenti di depan Masjid Nurul Muttaqin Kurri-Kurri, Masamba. [Foto: Syakur]
Pemandangan ini menarik perhatianku. Barusan rasanya saya naik bus umum yang berhenti khusus untuk shalat Shubuh. Di masjid, kami; kernet dan sejumlah penumpang, pun shalat berjamaah. Usai itu perjalanan dilanjutkan.

Pukul 06.39 WITA, bus bernopol DD7842AY itu menurunkanku di depan toko Juwita, dekat plang nama Pesantren Hidayatullah, Lambara Harapan, Desa Laro. Lukman telah menungguku. Pesantren tempatnya itu berjarak sekitar 150 meter dari jalan raya.

Kuceritakan padanya soal bus yang berhenti di masjid. “Memang begitu di sini. Garuda itu yang punya Muslim. Tapi bus lain yang punya non-Muslim juga begitu. Kalau Shubuh berhenti di masjid,” terang Lukman.

Begitu kuceritakan kalau dalam perjalan semalam saya hanya makan roti tawar dan minuman ringan, dia keheranan. “Loh, emangnya Garuda nda’ singgah di tempat makan?”

“Nggak tuh. Mungkin singgah pas saya tidur!” jawabanku membuat mahasiswa Universitas Islam Madinah yang lagi mudik itu heran. Sebelumnya dia sempat ngotot menyarankanku naik Bintang Timur.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:buskernetMakassarpenumpangshalatsubuh
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mahasiswa Sambut Positif “Gerakan ITS Cinta Shubuh”
Tulisan selanjutnya Jadikan Tahlilan Sebagai Barometer Pancasilais adalah Pemikiran Sempit

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Berita
30 Mei 2026 10:28
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?