Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Takwa, Qurban dan Kepemimpinan [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 September 2015 10:41 10:41 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 September 2015 12:00
Bagikan
Bagikan

oleh: Ilham Kadir

RELASI antara tiga kata kunci dari judul di atas membawa kita pada momen yang sedang barlangsung hari ini. Hari kebesaran umat Islam, Hari Raya Idul Adha, atau Hari Raya Qurban. Hari yang disyariatkan bagi umat Nabi Muhammad untuk mempersembahkan qurban terbaiknya demi meraih ketakwaan. Di lain pihak, ketakwaan adalah puncak spritual seorang hamba, dan jika takwa melekat pada seorang pemimpin, alamat keberkahan Allah akan menyelimuti para masyarakat, pintu langit akan terus-menerus terbuka pada pemimpin dan masyarakat bertakwa. Tulisan ini akan merajut tiga kata kunci di atas, takwa, qurban, dan kepemimpinan.

Secara etimologis kata takwa merupakan bentuk masdar dari ittaqa–yattaqi yang berarti “menjaga diri dari segala yang membahayakan”. Kata ini berakar dari waqa-yagi-wiqayah yang berarti “menjaga diri menghindari dan menjauhi” yaitu menjaga sesuatu dari segala yang dapat menyakiti dan mencelakan, takwa juga berarti mengetahui dengan akal, memahami dengan hati dan melakukan dengan perbuatan, atau melaksanakan semua perintah allah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kehati-hatian, laksana berjalan di area penuh duri waktu malam gelap gulita.

Takwa mengandung pengertian yang berbeda-beda di kalangan ulama, namun semuanya bermuara pada satu pengertian yaitu seorang hamba melindungi dirinya karena takut akan kemurkaan Allah dan juga siksa-Nya. Hal itu dilakukan dengan melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang-Nya.

Afif Abdulullah Al-Fahah Thabbarah mengatakan Takwa adalah seorang memelihara dirinya dari segala sesuatu yang mengundang kemarahan Allah dan dari segala sesuatu yang mendatangkan mudharat baik dirinya maupun orang lain. Ibnu Rajab rahimahullah berkata bahwa asal takwa adalah seorang hamba membuat pelindung yang melindungi dirinya dari hal-hal yang ditakuti. Jadi ketakwaan seseorang hamba kepada Rabnya adalah ia melindungi dirinya dari hal-hal yang dia takuti, yang datang dari Allah berupa kemurkaan dan azab-Nya dengan melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi kemaksiyatan kepada-Nya.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Orang-orang bertakwa diberi berbagai kelebihan oleh Allah, tidak hanya ketika mereka di akhirat nanti tetapi juga ketika mereka berada di dunia ini.

Beberapa kelebihan mereka disebutkan di dalam al-Quran, antara lain: (1) Dibukakan jalan keluar pada setiap kesulitan yang dihadapinya; (2) Dimudahkan segala urusannya; (3) Dilimpahkan kepadanya berkah dari langit dan bumi; (4) Dianugerahi furqân yakni petunjuk untuk dapat membedakan yang hak dan bathil; (5) Diampuni segala kesalahan dan dihapus segala dosanya; (6). Disediakan surga-surga yang mengalir dibawahnya air terdapat dalam surat Ali Imran[3]: 15; (7). Dikaruniai istri-istri yang disucikan serta mendapat keridhoan allah, terdapat dalam surat Ali Imran[3]: 15.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepadaNya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS: Ali Imron[3]:102).

Jika seorang ingin mencapai derajat takwa mustahil ia dapatkan dalam waktu yang sekejap melainkan melalui proses yang sangat panjang dengan izin Allah. Allah pun tidak melihat hasil melainkan proses melalui ujian-ujian yang diberikan pada hamba-Nya baik dalam bentuk kebaikan maupun keburukan, kelonggaran maupun kesempitan dan sebagainya. Allah pun memberikan keluasaan untuk memilih bagi hambanya dua jalan yang terbentang dihadapannya berupa jalan fujur dan takwa. Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha, (QS. As-Syams[91]:8).

Di sisi lain ayat-ayat al-Qur’an yang bertemakan takwa tersebut pada umumnya sangat berhubungan erat dengan “martabat” dan “peran” yang harus dimainkan manusia di dunia, sebagai bukti keimanan dan pengabdian kepada Allah. Misalnya, ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan masalah ini terungkap dalam Surat al-Hujarat[49]: 13. ”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Dalam ayat tersebut, takwa dipahami sebagai “yang terbaik menunaikan kewajibannya”. Maka, manusia “yang paling mulia dalam pandangan Allah” adalah “yang terbaik dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya”. Inilah yang menjadi salah satu dasar kenapa Allah menciptakan langit dan bumi yang menjadi tempat berdiam makhluk-Nya serta tempat berusaha dan beramal, agar nyata di antara mereka siapa yang taat dan patuh kepada Allah.

Allah juga menegaskan bahwa yang paling mulia di atas semuanya bukanlah yang menjadikan keragaman sebagai faktor yang memunculkan disharmoni, Orang paling mulia adalah orang yang dapat memanfaatkan keragaman itu untuk memaksimalkan peran dirinya, peran sosialnya, peran profesinya, dan peran beragamanya melalui amalan. Bukan hanya amal dalam pengertian shadaqah, akan tetapi amal dalam pengertian karya nyata dan amal shalih. Rasulullah bersabda, bahwa manusia yang paling baik adalah mereka yang menciptakan manfaat, karya, serta amal shalih yang lebih banyak dan lebih baik bagi sesama umat manusia.

Mengenai takwa, ada wasiat khusus dari Nabi, Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertakwa kepada Allah, mendengar dan mentaati, sekalipun kepada budak keturunan Habsyi [Negro]. Maka sesungguhnya, barangsiapa di antara kamu hidup pada saat itu akan menyaksikan banyak perbedaan pendapat. Oleh karena itu, hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu dan waspadalah kamu terhadap perkara yang diada-adakan (bid’ah) karena setiap bid’ah itu sesat,” (HR Ahmad IV , 126-127, Abu dawud, 4583). Dan, Ibnu Rajab mengartikan takwa dalam hadis di atas sebagai garansi untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.

Berkaitan dengan qurban

Sesungguhnya, semua ibadah yang Allah syariatkan kepada umat manusia lewat Rasul-Nya untuk meraih sebuah maqam yang disebut takwa, termasuk qurban. Maka, qurban yang dilakukan tanpa dengan tujuan meraih posisi takwa, tidak hanya sia-sia malah akan melahirka dosa, ini tidak jauh beda dengan puasa, salat, zakat, dan haji, semuanya untuk menjadi wasilah untuk meraih takwa. Ingat, ibadah harus didahului dengan niat yang benar. * (bersambung)

Enrekang, 21 September 2015 H.

Penulis peserta Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) Baznas DDII; Kandidat Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:amalanarafahHaji 2015kurbanQurban
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Shalat Idul Adha 1436 H di Kairo Hari Kamis Dimulai Pukul 6:09 Pagi
Tulisan selanjutnya Umat Islam Harus Mulai Serius Tekuni Kajian LGBT

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Berita
14 Juli 2026 15:30
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?