Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Insiden anti-Muslim Diperkirakan Terus Meningkat di Prancis

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 23 November 2015 17:18 5:18 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 23 November 2015 17:18
Bagikan
Polisi anti huru-hara berjaga-jaga di Masjid Agung Paris, Prancis.
Bagikan

Hidayatullah.com–Insiden-insiden anti-Muslim, termasuk serangan-serangan terhadap perempuan dan coretan-coretan penuh kebencian, sedang bergejolak di Prancis seminggu setelah para teroris membunuh 129 orang di Paris pada 13 November.

The National Observatory of Islamophobia, satu kelompok yang terkait dengan dewan Muslim resmi Prancis, melaporkan 32 insiden anti-Muslim selama sepekan terakhir. Biasanya mereka hanya menerima empat sampai lima keluhan dari umat Muslim dalam seminggu, menurut ketua dewan Abdallah Zekri, seperti diberitakan VOA, Senin (23/11/2015).

The Collective against Islamophobia in France (CCIF), organisasi independen mengatakan, mereka telah melacak 29 insiden.

Observatory mencatat 178 insiden anti-Muslim pada Januari, bulan terjadinya serangan militan terhadap majalah Charlie Hebdo dan pasar swalayan Yahudi.

Minoritas Muslim yang mencapai lima juta orang di Prancis merupakan yang terbesar jumlahnya di Eropa dan mencakup 8 persen populasi.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Zekri memperkirakan akan ada lebih banyak insiden dalam minggu-minggu mendatang karena serangan-serangan minggu lalu telah mendorong “kelompok-kelompok ultra-nasionalis, ekstrem kanan dan rasis” untuk menarget Muslim.

“Mereka memanfaatkan atmosfer ini untuk menyerang,” ujarnya.

Juru bicara CCIF Yasser Louati mengatakan, kantornya dibanjiri laporan-laporan dan keluhan-keluhan dari para Muslim dan juga panggilan telepon yang meminta nasihat apakah aman mengirim anak ke sekolah.

“Para Muslim telah menjadi musuh di dalam,” ujar Louati, menambahkan bahwa perhatian media terhadap insiden-insiden itu tidak berimbang.

Sebagai contoh, seorang pria meninju seorang perempuan muda berjilbab di Marseille hari Rabu lalu dan merobek pakaiannya dengan pisau, menyebutnya teroris, dalam sebuah insiden yang dipublikasikan secara luas.

Perempuan berjilbab lainnya yang dihantam dengan kereta belanja dan ditendang seseorang di dalam toko kelontong di pinggiran kota Lyon pada hari yang sama, tidak menjadi berita nasional, ujarnya.

Satu hari setelah serangan-serangan di Paris, enam demonstran keluar dari protes anti-migran di Pontivy, kota di Brittany di barat laut Prancis, untuk memukuli seorang pria asal Afrika Utara yang sedang lewat, kata Louati.

Ia juga menyebut insiden lain Minggu pagi dimana sorang pria Turki yang sedang berdiri dekat sebuah restoran kebab di Cambrai, Prancis utara, dilaporkan ditembak dari belakang oleh pelaku yang mengendarai mobil dengan membawa bendera Prancis, meski luka-lukanya tidak serius.

“Mereka mencari orang-orang berkulit sawo matang,” ujarnya.

Coretan-coretan atau grafiti anti-Muslim juga muncul di banyak tempat. Di Evreux di utara Prancis, balai kota dan bangunan-bangunan lainnya diimbuhi grafiti yang bertuliskan “Kematian untuk Muslim” dan “(dengan) koper atau (di dalam) peti mati” — sebuah referensi bagaimana para demonstran ingin Muslim meninggalkan kota itu.

Ada beberapa laporan mengenai gambar swastika yang dilukis di dinding-dinding luar masjid, di wilayah Paris dan di Pontarlier dekat perbatasan Swiss. Media sosial juga membara dengan komentar-komentar anti-Muslim dan rasis sejak serangan-serangan di Paris.

Keadaan darurat diberlakukan di Prancis setelah serangan-serangan di Paris, memicu peningkatan keluhan atas brutalitas polisi, saat para petugas merazia rumah-rumah dan membuat orang-orang menjadi tahanan rumah, ujar Louati.

Dari Nice dekat perbatasan Italia muncul keluhan bahwa polisi telah melukai seorang gadis cilik yang tidur di dalam apartemen yang dirazia polisi Kamis lalu, ujarnya.

Razia di sebuah masjid di pinggiran Paris, Aubervilliers, meninggalkan lubang-lubang di langit-langit, jendela dan pintu yang rusak dan kitab-kitab suci bergeletakan di lantai, menurut para pejabat masjid.

Kepolisian Nasional menolak berkomentar, mengarahkan semua pertanyaan ke Kementerian Dalam Negeri, yang juga tidak menanggapi permintaan atas komentar Jumat lalu.*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:insiden anti-MuslimSerangan Paris
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Gelar Pesta Wirausaha, TDA Ingin Tingkatkan Jumlah Pengusaha
Tulisan selanjutnya Empat Kunci Hidup Berkah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Berita
4 Juni 2026 08:06
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?