Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita dari Anda

‘Comprehensive Sexuality Education’ Berpotensi Benturkan Orang Tua dan Anak

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 Desember 2015 22:17 10:17 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 Desember 2015 11:06
Bagikan
Ilustrasi: guru/orang tua menggunakan alat bantu, boneka memulai pendidikan seksualitas
Bagikan

Hidayatullah.com–Pembahasan pendidikan seksualitas kerap memenuhi berbagai media menjelang peringatan hari AIDS Sedunia tiap tanggal 1 Desember.

WHO melansir faktor tertinggi penyebab tersebarnya penyakit mematikan ini adalah karena seks bebas.

Oleh karena itu, tak jarang pula berbagai pelatihan terkait kesehatan reproduksi diselenggarakan untuk para guru dan murid, sebagai upaya mengurangi penyebaran HIV/AIDS. Misalnya CSE Fair 2015 yang diselenggarakan UPT LBK UNJ, bertajuk “Pendidikan Seksualitas Komprehensif untuk Semua”, di Aula Brigjen Latief Hendraningrat, Kampus A Universitas Negeri Jakarta, Senin (30/11/2015).

Namun nada kecewa datang dari Tetraswari Diahingati, S.E, ibu dari empat anak yang juga aktif di AILA (Aliansi Cinta Keluarga) dan CGS (the Center for Gender Studies).

Menurutnya, Comprehensive Sexuality Education (CSE) berpotensi membuat benturan keras antara anak dan orang tua.

Baca Juga

Puluhan Murid SPI Jakarta Angkatan ke-13 Dinyatakan Lulus  
Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga
Hidayatullah Samarinda Dirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Outbound Seru di TSOT  Prigen Pasuruan
Tutup Dauroh, Pesantren Hidayatullah Kupang Berbagi Bingkisan Ramadhan Kepada Warga non-Muslim Sekitar

“Setelah remaja mendapatkan pemahaman mengenai CSE, akan terjadi benturan keras antara anak dan orang tua. Mengapa demikian? Karena orang tua tidak diberi peran terhadap penentuan perkembangan seksualitas anak. Mereka hanya dibolehkan menjadi fasilitator, tanpa boleh memutuskan. Maka, ketika pemahaman orang tua berbeda dengan apa yang didapat anak dari CSE, benturan bisa terjadi. Hubungan orang tua dan anak akan menjadi menjauh,” Jelasnya seusai acara.

Tra, sapaan hangat untuknya, menegaskan bahwa CSE Fair adalah propaganda untuk melakukan program CSE di lembaga-lembaga pendidikan kita (Indonesia). Khususnya lembaga-lembaga pendidikan tingkat dasar dan menengah. Padahal konsep tersebut bermasalah.

“Tadinya saya pikir CSE akan memberikan ilmu baru pada saya tentang bagaimana menyampaiakan sexuality education pada remaja. Ternyata CSE adalah penenaman konsep barat tentang diri, dan hak diri termasuk hak seksualitas seseorang, khususnya remaja, yang tidak boleh digangu gugat oleh siapapun kecuali diri sendiri,” tegasnya.

Pada sesi awal, Jo Reinders dari Rutgers WPF Belanda memang menyatakan CSE itu mencakup aspek yang sangat luas. Tidak hanya berbicara tentang penyakit, HIV/AIDS, IMS, kekerasan seksual, tapi juga tentang pubertas, kesadaran diri, dan kebanggaan diri. Seksualitas itu indah, maka CSE tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membekali dengan skill untuk bisa membuat pilihan. Mengatakan ya atau tidak. Membantu membuat kesepakatan dan keputusan.

“We also talk about love, feelings, respect, responsibility, negotiation, choices, and gender. Who am I? How do I feel comfortable? Not only about HIV/ AIDS, IMS and abuse. Sexuality is beautiful,” ujarnya di hadapan sekitar 200 pendidik dan peserta didik yang hadir.

Tra yang juga aktif di Peduli Sahabat ini menyatakan bahwa CSE sangat tidak sesuai dengan konsep pendidikan pemuda Islam. Menurutnya, pada CSE, remaja diberi pemahaman bahwa tubuh kita adalah hak diri kita dan tanggungjawab diri sendiri. Maka jika kita sudah memilih, terlepas apapun pilihan itu-apakah ingin melakukan seks sebelum menikah, setelah menikah,  atau homoseksual, transgender, tidak boleh ada seorangpun yang menggugat.

“Mereka tidak fokus untuk mengajarkan anak-anak agar menghindari hubungan seksual sebelum menikah. Mereka hanya mengajari anatomi tubuh, perubahan pada tubuh dan hormon, serta risiko-risiko yang terjadi. Selebihnya terserah anak-anak. Jika mereka siap menanggung segala risiko, silakan saja. Jika tidak ingin hamil atau tertular HIV maka pakailah kondom. Bukankah ini mengerikan?” tanyanya retoris.

Sosok yang pernah tinggal di Amerika ini pun menyayangkan konsep CSE tidak memperhatikan budaya dan agama setempat. Serta tidak mengindahkan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga.

“Nilai dan norma yang berlaku dan dianut dianggap tidak ada karena itu semua mereka anggap mengekang kebebasan. Modul dan alat peraga mereka pun vulgar, jauh dari nilai-nilai Islam,” pungkasnya.

CSE Fair 2015 ini menyelenggarakan dua sesi diskusi. Yang pertama membahas “CSE is important, why wait?”. Kedua, tentang bullying berbasis gender.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan diskusi paralel dengan empat tema berbeda. Rencananya, kegiatan yang baru pertama kali ini diadakan ini akan terus diselenggarakan tiap tahunnya.*/kiriman Nunu Karlina (Jakarta)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anakComprehensive Sexuality EducationCSEhomoseksuallgbtorang tuaseks bebas
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya “Islam Teh Sunda, Sunda Teh Islam” [2]
Tulisan selanjutnya Ciri Hati yang Telah Mendapat Celupan al-Quran

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Berita
4 Juni 2026 09:00
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Berita dari Anda

Diskusi Kepemimpinan LIDMI, Pendiri INSISTS Sampaikan Konsep Adab dalam Melahirkan Pemimpin Beradab

24 Desember 2022 21:00
Berita dari Anda

Muhammadiyah Yaman Gelar Audiensi dan Sosialisasi Strategi Dakwah

22 Desember 2022 10:32
Berita dari Anda

Wakil Ketua I DPRD PPU Hadiri LTC Pemuda Hidayatullah di IKN

4 Desember 2022 21:21
Berita dari Anda

Hinaan “Anjinghu Akbar” Muncul Kembali, SPI Mengecam Keras

1 Desember 2022 19:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?