Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Penjara Iran Pasca Revolusi [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Januari 2016 10:18 10:18 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Januari 2016 10:18
Bagikan
Ilustrasi: Tahun-tahun terakhir menjelang revolusi Iran, kekuatan keamanan Shah menampakkan sikap yang semakin keras, khususnya terhadap tawanan
Bagikan

Oleh: Alwi Alatas

 

A padshah who allows his subjects to be oppressed

Will in his day of calamity become a violent foe.

(The Golestan of Saadi)

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

 

PENJARA kadang dilihat sebagai simbol represi dari penguasa zalim. Karena di penjara itu kadang orang-orang yang berseberangan dengan penguasa ditahan dan mengalami penyiksaan. Saat belajar Sejarah di sekolah menengah, kita mendengar cerita tentang Revolusi Prancis tahun 1789 dan diserbunya penjara Bastille oleh kaum revolusioner, menandai jatuhnya rezim yang dianggap otoriter ketika itu, yaitu Louis XVI.

Tentu saja ini tidak berarti sebuah negara tidak memerlukan adanya penjara sebagai bagian dari sistem hukumnya. Hanya saja penguasa yang baik tentu akan membatasi fungsi dan keberadaan penjara dan menghindari penyiksaan terhadap tahanan.

Tulisan ini akan banyak merujuk kepada buku Ervand Abrahamian yang berjudul Tortured Confessions, di samping beberapa rujukan lainnya. Buku ini merupakan karya akademik yang membahas secara detail tentang praktek-praktek penyiksaan di penjara Iran pada masa Shah Reza Pahlavi, anaknya, dan juga pada masa Khomeini. Ia antara lain menggunakan laporan-laporan dari orang-orang yang pernah mendekam dan mengalami penyiksaan di penjara Iran. Review atas buku ini antara lain dimuat di International Journal of Middle East Studies yang diterbitkan oleh Cambridge University Press.

Cara-cara represif dan penyiksaan sudah terjadi sejak era Shah Reza Pahlavi, begitu pula pada masa anaknya, Mohammad. Selama sekitar setengah abad hingga awal 1970-an, penyiksaan (shekanjeh) yang terjadi di penjara Iran boleh dikatakan belum terlalu berat, biasanya dalam bentuk ditamparnya wajah, tidak diberi makanan, penggunaan kata-kata kasar, atau dimasukkan ke sel isolasi selama beberapa hari (Abrahamian, 1999: 2). Sejak awal tahun 1970-an, perlawanan terhadap rezim Shah meningkat menjadi perlawanan bersenjata, baik oleh kalangan muda yang berbasis Islam maupun Marxisme. Shah menghadapi ini dengan menambah personil SAVAK, organisasi intelijen dan keamanan Iran ketika itu, dan melatih personelnya di Amerika dan Israel. Tujuannya adalah untuk menumpas terorisme, yaitu gerakan perlawanan terhadap pemerintah. Sikap pemerintahan Shah terhadap rakyatnya yang dianggap membangkang sepanjang tahun 1970-an dapat dikatakan semakin brutal.

Shah juga memperbaharui sistem penjaranya di beberapa wilayah. Sebuah penjara baru dibangun pada tahun 1971, yaitu Evin, yang segera dikenal sebagai Bastille negara itu. Pada awalnya penjara Evin hanya mampu menampung 320 tahanan, tetapi pada tahun 1977 kapasitasnya diperbesar menjadi 1.500, yang menampung tahanan kriminal dan tahanan politik. Dari jumlah yang terakhir ini, ada 100 buah sel isolasi di blok 209 yang dikhususkan untuk tahanan politik penting. Pada blok tersebut juga terdapat enam ruangan interogasi.

SAVAK diberi kebebasan untuk menyiksa tawanan yang dicurigai terlibat gerilya untuk menggulingkan pemerintah. Mereka terlatih dalam melakukan berbagai bentuk penyiksaan, termasuk mencabut kuku, penyetruman dengan listrik, penyambukan, ditenggelamkan ke dalam air, dan pemerkosaan. Pada pertengahan 1970-an, jumlah tahanan politik mencapai 7.500 orang, sebagian besar ditahan di Evin. Para ulama Syiah dan pengikutnya banyak yang ditahan di penjara ini, begitu pula dengan kelompok kiri (Abrahamian, 1999: 104-110).

Di antara tokoh agama yang pernah mendekam di penjara Evin adalah Ayatollah Hossein Ali Montazeri. Ia merupakan tokoh penting di kalangan pendukung Khomeini, menjadi orang kedua dan calon pengganti Khomeini, sebelum berbalik dan menjadi oposisi di akhir masa pemerintahannya (Sahimi, 21 Desember 2009; Tehran, 20 Desember 2009).

Hal yang sering dilakukan oleh pemerintah terhadap tahanan pada tahun 1970-an adalah penyiksaan untuk mendapatkan “pengakuan kesalahan secara publik” (public recantation). Dengan kata lain, tahanan disiksa hingga mereka mengaku bersalah. Pengakuan mereka direkam untuk dipublikasikan antara lain di radio dan televisi (Abrahamian, 1999: 114-115). Pengakuan kesalahan secara publik tidak hanya terjadi di Iran, tetapi juga di beberapa negara lainnya. “Pengakuan kesalahan di beberapa masyarakat yang sangat berbeda ini adalah sama persis karena mereka memainkan fungsi yang sama,” tulis Abrahamian (1999: 6), “yaitu … sebagai propaganda positif bagi diri mereka [pemerintah] dan sebagai propaganda negatif terhadap musuh-musuh nyata dan khayalan mereka.”

Pada tahun-tahun terakhir menjelang revolusi, kekuatan keamanan Shah menampakkan sikap yang semakin keras, khususnya terhadap tawanan. Bagaimanapun, itu semua tidak membuat kekuasaannya bertahan lebih lama. Shah jatuh dari kedudukannya pada tahun 1979. Revolusi berhasil dengan gemilang. Beberapa kaum revolusioner yang marah menyerbu Evin dan merusak ruangan interogasi. Keadaan di penjara Evin mengalami perbaikan pada tahun-tahun pertama revolusi. Penyiksaan hampir tidak ada lagi (Abrahamian, 1999: 127), tetapi itu tidak bertahan lama.

Khomeini merupakan pemimpin yang paling menonjol dan populer di kalangan kaum revolusioner, tetapi ia dan kaum agamawan yang dipimpinnya bukan satu-satunya pihak yang berperan dalam revolusi Iran. Ada beberapa kelompok lainnya yang ikut terlibat, di antaranya kaum kiri dan Mojahedin Khalq (tentang kelompok-kelompok yang berpartisipasi dalam revolusi lihat Moazami, 2003: 308-312). Namun Khomeini dan para pengikutnya kemudian mengambil alih revolusi sepenuhnya.

Apa yang terjadi berikutnya adalah seperti bunyi sebuah perkataan yang terkenal, “revolusi memakan anak sendiri”. Satu persatu kelompok pro-revolusi di luar kelompok Khomeini tersingkir. Mereka melakukan perlawanan terhadap kubu Khomeini, termasuk dengan senjata, dan segera menjadi musuh negara. Hanya sekitar dua tahun setelah terjadinya revolusi, pemerintah Iran yang baru dengan Khomeini sebagai pimpinan tertinggi mulai menampilkan wajah yang lebih keras. Penyiksaan dan eksekusi di penjara yang sempat vakum mulai muncul lagi. Kalau pada awal revolusi hampir semua korban eksekusi adalah para pendukung rezim Shah, atau sering disebut kaum royalist, kini para pendukung revolusi sendiri mulai menjadi korban.* (BERSAMBUNG)

Penulis buku Shalahuddin Al Ayyubi dan Perang Salib III

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:iranpenjarapenyiksaanrevolusi iransavakShah Reza Pahlevishekanjehsyiah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kecam Teror Sarinah, DPP Hidayatullah: Berpegang Teguhlah pada Islam
Tulisan selanjutnya Kematian dan Keuangan Keluarga

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?