Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Menyoal Legalisasi Balap Liar

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Januari 2016 13:08 1:08 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Januari 2016 13:00
Bagikan
[Ilustrasi] Balap liar.
Bagikan

Oleh: Imam Nawawi*

 

PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta bersama Ditlantas Polda Metro Jaya dan Ikatan Motor Indonesia (IMI) mengkaji untuk melegalkan balap liar. Hal ini dimaksudkan untuk mewadahi potensi anak muda yang memiliki bakat membalap. Bahkan, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, menilai, pelegalan balap liar akan berdampak positif (Republika, 14/01/2016).

Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishutrans) DKI, Andri Yansyah, pun menyatakan siap mendukung rencana pelegalan balap liar itu, dengan menutup jalan jika memang pelegalan benar dilakukan (Republika, 15/01/2016).

Pelegalan balap liar dengan dalih mewadahi bakat anak muda yang hobi membalap sebenarnya perlu didukung, tetapi tidak dengan cara yang kurang terprogram secara sistematis dan berkesinambungan. Terlebih, dengan cara menutup jalan umum yang merupakan hak dasar warga masyarakat secara umum, yang pada praktiknya nanti boleh jadi akan menimbulkan masalah baru di lapangan.

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Setidaknya, legalisasi balap liar ini akan menyita pekerjaan polisi yang semestinya bisa dimaksimalkan pada problem inti masyarakat. Yuke Yurike misalnya, anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta itu menyatakan bahwa balap liar mesti dilaksanakan dengan harus diawasi secara ketat.

Pertanyaannya, siapa lagi yang akan mengawasi jika bukan polisi? Sementara angka kriminalitas di DKI saja belum sepenuhnya bisa diatasi dengan baik oleh pihak kepolisian.

Pemprov DKI Jakarta semestinya menilai masalah ini secara adil dan bijaksana. Adil dalam pengertian, betapa masih banyaknya hal mendasar yang perlu dipikirkan solusinya. Seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, dan keamanan warga Ibu Kota dalam beraktivitas.

Terjadinya tragedi Sarinah sebetulnya bisa menjadi momentum bagi pemerintah untuk menjamin keamanan di Ibu Kota.

Kemudian, secara bijaksana, Pemprov DKI semestinya tidak serta merta mengambil tindakan cepat dalam mengakomodir aspirasi balap liar dengan segera melegalkannya, tanpa ada perencanaan strategis.

Ada beberapa aspek mendasar yang perlu dipertimbangkan. Mulai dari memikirkan dampak polusi, BBM yang terbuang, kemudian munculnya potensi perjudian, budaya urakan, narkoba, dan perilaku hidup bebas. Termasuk, tidak tepatnya (baca: terbuangnya) anggaran kesehatan untuk menangani pembalap yang mengalami kecelakaan.

Jika pelegalan balap liar ini dipaksakan, dengan tidak mempertimbangkan banyak hal, mungkin sepintas seperti program yang bagus. Tetapi pada hakikatnya pelegalan tersebut tidak lebih dari program prematur yang menggunakan prinsip taking the good from the worst.

Solusi Menyeluruh

Jika memang niat Pemprov DKI mewadahi bakat kaum muda dalam adu balap, mengapa tidak langsung disusun rencana strategis yang menyeluruh. Bukan dengan melegalkan balap liar, sehingga sifat akomodatif ini bisa memberikan nilai tambah bagi pemerintah dan masyarakat secara umum dari berbagai aspek.

Apatah lagi, legalisasi balap liar juga menghendaki ketertiban, mulai dari pendaftaran dan kelengkapan surat izin mengemudi. Artinya, daripada sekadar legalisasi, lebih baik langsung kompetisi dalam bentuk profesi. Mungkin mahal, perlu waktu, tetapi itu jauh lebih solutif ketimbang sekadar ada dan apa adanya.

Acuannya tentu saja pada penyelenggaraan balap motor nomer wahid di dunia, yakni Grand Prix, yang nyata tidak dimulai dari pelegalan balapan liar. Tetapi betul-betul profesi.

Sehingga ke depan, kawula muda yang tergabung dalam program adu balap ini adalah mereka yang profesional, konsisten dan kontinu dalam menjaga kondisi tubuh dan pikiran. Pun mereka bisa terasah dalam menyusun strategi, serta kesiapan dan keahlian dalam membangun team work. Jadi, tidak asal tancap gas dengan keterampilan yang apa adanya. Dengan menerapkan langkah tersebut, dunia otomotif pun akan turut berkembang.

Jika strategi tersebut diambil oleh Pemprov DKI, tentu akselerasi pembangunan manusia dan otomotif semakin nyata dan kian dinamis. Kalau mesti belajar, kita mesti menengok kemampuan Inggris dalam mengelola dan mengemas Barclays Premier League, dimana liga di negeri Ratu Elizabeth itu menjadi tontonan nomor satu di dunia.

Dengan kata lain, jika balap motor di DKI Jakarta dikelola secara sistematis dan berkesinambungan, maka banyak hal yang akan semakin baik; mulai dari adanya wahana baru masyarakat mendapatkan hiburan, hingga pada terbukanya potensi pendapatan luar biasa Pemprov DKI. Karena, balapan yang diselenggarakan mengundang banyak sponsor dan tentu saja berpotensi mengundang tumbuhnya dunia pariwisata.

Tentu akan banyak argumentasi mengemuka. Tetapi, sebagai bangsa yang memiliki cita-cita luhur dan semangat untuk menjadi negeri yang besar dan berpengaruh di dunia, mengapa kita tidak optimis dan bersemangat. Yaitu untuk mewujudkan ide-ide brilian yang dibutuhkan bagi kelangsungan hidup bangsa dan negara, terutama di era Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Logikanya, jangan karena mahal dan memakan waktu yang tidak sebentar, maka berjalan apa adanya. Tetapi berpikir secara ideal, berupaya secara maksimal dan terus berbenah untuk menjadi profesional. Sehingga ke depan generasi muda tidak lagi mengenal istilah balap liar.

Pepatah Barat mengatakan, “Siapa yang naik tanpa kelelahan akan turun tanpa kehormatan.” Artinya, program yang dijalankan secara asal-asalan akan berakhir dengan banyak persoalan dan penyesalan. Semoga tidak! Wallahu a’lam.*

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Majalah Mulia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ahokanak mudabalap liarDKI Jakartaolahraga
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ratusan Eks Pengikut Gafatar Asal Jawa Timur Dipulangkan
Tulisan selanjutnya Yusuf Mansur Muliakan Kiai dan Alumni Gontor

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Berita
4 Juni 2026 11:00
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?