Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Santri: Antara Dakwah dan Islah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 Maret 2016 08:50 8:50 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 Maret 2016 08:50
Bagikan
[Ilustrasi] Santri sedang mengulangi hafalan al-Qur'an.
Bagikan

Oleh: Fida’ Ahmad Syuhada

 

BERBICARA tentang pendidikan Islam di Indonesia memang tak bisa lepas dari pondok pesantren. Pondok pesantren telah ada di Indonesia sejak zaman Walisongo, tepatnya saat pendidikan Islam dimulai pada tahun 1596 sebagai cikal bakal munculnya pondok pesantren. Maka tak heran jika pondok pesantren menjadi sebuah sistem pendidikan yang khas di Indonesia. Pesantren pun kemudian membuktikan perananya bagi bangsa, baik dari segi keilmuan, pembangunan sosial, hingga perjuangan membela tanah air.

Sejak mulanya, pesantren dianggap sebagai tempat utama penggemblengan agama alias tarbiyah diniyah bagi anak-anak muslim. Sehingga tak heran masyarakat kemudian mengasosiasikanya sebagai ‘tempatnya orang-orang baik’. Dan memang seharusnyalah seperti itu. Di setiap pesantren, baik yang menyebut salafiyah maupun yang modern, aspek utama yang paling membedakan dengan sistem pendidikan lain adalah keilmuan dan pembangunan karakter Islamnya yang lebih unggul. Sejak dulu, santri yang kembali ke kampung dan masyarakatnya, akan mendapat stigma sebagai ‘orang baik’ atau ‘seharusnya baik’ dan dapat menjadi tauladan diantara sebayanya

Di tengah masyarakat yang kebanyakan awam terhadap agama, adanya dakwah dan ishlah (perbaikan) tentu amat dibutuhkan. Dan santri serta lulusan pesantren adalah harapan utama untuk menjadi garda terdepan dalam mengisi peran ini. Dakwah dan ishlah bukan hanya ceramah agama, tapi nilai-nilai Islam yang dibawa ke setiap lini kehidupan. Maka pembangunan karakter Islam adalah keniscayaan. Pesantren harus merupakan tempat yang unggul menghasilkan manusia-manusia beradab yang mampu menjadi titik-titik cahaya dalam masyarakat. Dengan kata lain, santri seharusnya merupakan pionir Islam dalam dakwah dan ishlah ini.

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Harapan ideal ini pada kenyataanya berbenturan dengan tantangan zaman. Baik bagi pesantren maupun santri itu sendiri. Arus sekuler, dengan berbagai problematikanya, membuat beberapa pesantren mulai kehilangan orientasi dan terjebak pada pragmatisme. Sehingga kualitas pendidikan Islam yang harusnya merupakan keunggulan pesantren pun semakin berkurang. Sedang santri, anak-anak muda yang dididik dalam pesantren, harus menghadapi realita masyarakat berupa pergaulan bebas dan degradasi moral dengan berbagai kasusnya.

Suasana kondusif yang ada dalam pesantren ternyata belum cukup kuat untuk menahan imbas pengaruh luar. Masih banyak fenomena santri yang di pesantren tampak beradab Islami, tapi begitu di luar pesantren sudah susah dibedakan dengan remaja lainya. Begitu juga dengan fenomena lain yang menunjukkan prilaku santri yang justru terasa jauh dari pendidikan Islam.

Hal ini tentu patut disesalkan. Ada sekitar 3,65 juta santri dari sekitar 2.500 pesantren. Kalaulah semuanya memenuhi harapan profil santri dan pesantren ideal, tentu masyarakat ini akan lebih bercahaya dengan izzah Islam.

Standar yang membedakan santri dengan orang lainya, selain ilmu Islam adalah adab yang menghiasi prilakunya. Sebagaimana perkataan Ust Fauzil Adhim, “Boarding school (pesantren) tanpa ta’dib (penanaman adab) tak ada bedanya dengan tempat kos.” Di pesantren, tugas ta’dib ada pada para guru atau ustadz dan kyai. Sedang saat di rumah dan sebelum anak masuk pesantren, ta’dib ini merupakan kewajiban orangtua.

Walaupun ta’dib merupakan tugas orangtua dan guru, santri harus memiliki kesadaran, bahwa menjadi pribadi yang beradab adalah tugas setiap individu muslim. Jika santri sudah tak ada bedanya dengan anak kos, maka jangankan dakwah dan ishlah, bisa jadi ia justru akan berulah dan menambah masalah.

Allahuyarham KH Abdullah Said, saat mendirikan Pesantren Hidayatullah, mencita-citakan terciptanya lingkungan dengan suasana Islami dan kehidupan Qur’ani. Beliau menginginkan terbangunya prototipe kampung Madinah, sebagai oase di kehidupan yang semakin jauh dari nilai Islam, dan benteng yang dapat menangkal rembesan globalisasi yang kejam. Sehingga anak-anak Islam dapat terjaga din-nya dan output dari lingkungan ini adalah kader-kader Islam sebagai pionir dalam masyarakat di luar. Pesantren dan santri ideal seperti inilah yang selayaknya terus ada dalam menghadapi tantangan zaman.

Jika pesantren tetap teguh menjalankan peran sebagai kawah candradimuka pendidikan dan pembangunan akhlak Islam. Dan santri dapat menjalankan perananya sebagai pionir dakwah dan ishlah dalam masyarakat, maka insyaAllah, cita-cita peradaban Islam akan menemukan jalan lempangnya. Tapi jika santri tak lagi berbeda dalam adab dan visinya. Sehingga tak lagi menjadi garda terdepan dakwah dan ishlah. Maka idiom ‘apa gunanya belajar di pesantren’, rasanya layak untuk direnungkan. Wallahu a’lam.*

Penulis adalah santri Pengabdian di Hidayatullah Sleman

 

 

 

 

 

 

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dakwahislamperadaban Islampesantrensantri
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya KPI Banjir Dukungan Untuk Konsisten Melarang Tayangan Karakter Banci
Tulisan selanjutnya sejarawan penghargaan israel Gereja Persatuan Methodist bergabung dengan gerakan BDS

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?