Lima kardus berisi buku pelajaran itu segera dirubungi oleh beberapa orang siswa.
Buku yang kini menumpuk di atas meja guru itu baru saja diantar oleh seorang juru antar untuk dibagi kepada seluruh siswa di tiap kelas.
Suasana segera gaduh, tak sedikit yang berebutan. Sepertinya semua menduga bahwa buku-buku yang diantar itu tak sepadan dengan jumlah mereka di kelas.
Ungkapan ‘siapa cepat dia dapat’ akhirnya menjadi jurus andalan yang terpakai saat rebutan itu.
Hasilnyapun mudah ditebak, ada yang tersenyum lebar namun tak sedikit yang berubah jadi cemberut karena merasa tak kebagian seperti yang didapat yang lain.
Suasana masih gaduh ketika Anisa, sang ketua kelas masuk. Entah ada urusan apa di luar, rupanya ketua kelas tak berada di tempat saat kegaduhan sesaat itu terjadi.
“Eh, ada apa ini? Pada ramai dan berhamburan begini?” tanya Anisa tak paham.
“Tadi ada yang antar buku-buku pelajaran dan tidak sempat dibagi langsung direbut satu persatu,” ucap seorang siswa menjelaskan.
“Oh, begitu. Ayo kumpul lagi buku-bukunya,” terdengar suara Anisa memberi komando.
“Dihitung dulu, diatur, setelah itu dibagi rata,” imbuh ketua kelas kembali.
***
Kisah di atas hanya ilustrasi sederhana. Sebuah gambaran ringan seperti apa kondisi suatu masyarakat atau komunitas yang tidak mempunyai pemimpin. Atau mungkin pemimpinnya ada tapi tidak berperan secara maksimal.
Selanjutnya, bisa dibayangkan jika kumpulan manusia tersebut kehilangan figur seorang pemimpin.
Jika suasana kelas di atas bisa kacau dan tak terkendali sekejap, lalu bagaimana dengan tatanan masyarakat yang lebih luas dan kompleks permasalahannya.
Hal yang serupa bisa terjadi ketika sikap adil dan amanah itu hilang dari seorang pemimpin.
Ibarat bom waktu, masyarakat itu hanya bisa menghitung waktu untuk merasakan ketimpangan, kezhaliman, keserakahan, dan kekacauan yang merajalela di tengah mereka.
Dalam Islam, kepemimpinan atau menjadi pemimpin adalah tugas besar dan amanah yang berat.
Seorang pemimpin harus bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang dikepalainya. Sikap amanah menjadi modal dasar seorang pemimpin. Tanpanya, segala sesuatu hanya berujung kepada kehancuran semata.
Sayangnya, fenomena kehidupan di akhir zaman ini terrasa kian mencemaskan.
Sebagian manusia seolah tak lagi peduli dengan urusan kejujuran dan keteladanan seorang pemimpin.
Mereka terlihat tak lagi takut dengan peringatan beratnya tugas tersebut. Alih-alih merasa khawatir, sebagian masyarakat bahkan berlomba menjadi pemimpin.
Akibatnya, saling merendahkan, menjatuhkan di antara mereka menjadi tak terelakkan lagi.
Termasuk di antara sebab kehancuran adalah ketika pemimpin itu lebih mementingkan dirinya sendiri daripada urusan rakyat atau jamaah yang dipimpinnya.
Sebab ia bagian daripada bentuk sikap yang tidak bertanggung jawab.
Hendaknya setiap pemimpin tahu masalah yang terjadi dalam kepemimpinannya.
Tentu saja yang dimaksud bukan sekedar koleksi masalah tanpa adanya solusi yang efektif dari setiap persoalan.
Keberanian memutuskan perkara secara adil adalah bagian dari kecakapan yang patut dimiliki seorang pemimpin.
Ia tidak boleh berbuat sekehendak maunya saja. Sebab hal itu juga bagian dari menyiakan amanah yang diterima.
Sebagai penutup, mari meresapi makna hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (Saw) mengenai amanah berikut ini:
“Apabila amanah disia-siakan, maka tunggulah saat kehancurannya,” Para sahabat lalu bertanya maksud dari amanah yang disia-siakan tersebut. Rasulullah menjawab, “Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya tunggulah saat kehancurannya.” (Riwayat al Bukhari).*/Musyarrafah, mahasiswi LIPIA Jakarta




