Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Mau Dibawa Kemana Kurikulum Kita?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 Maret 2023 23:48 11:48 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Maret 2023 07:11
Bagikan
Siswa SMA Darunnajah mengerjakan soal mata pelajatan Kimia saat Ujian Nasional (UN) di SMA Darunnajah, Jakarta Selatan, Selasa (15/4). Hari ke-3 UN para siswa mengerjakan mata pelajaran Matematika dan Kimia. Sebanyak 93 siswa di SMA tersebut yang mengikuti Ujian Nasional.
Bagikan

Pengarang kitab Arrasul Almuallim menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ mempunyai 40 metode dalam menyampaikan materi pada para sahabatnya, mau dibawa kemana kurikulum kita?

Oleh: Herman Anas

Hidayatullah.com | KURIKULUM  adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Pengertian kurikulum ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003.

Diakui atau tidak kurikulum di negeri ini gonta-ganti. Maka ada adagium ganti menteri ganti kurikulum. Bahkan saat ini satu menteri ada 3 kurikulum yang bisa menjadi pilihan.

Sejarah mencatat perubahan tersebut mulai tahun 1947, 1952, 1964,1975,1984,1994, 2004, 2006, 2013, kurikulum darurat (2019), kurikulum Prototipe (2020) dan kurikulum merdeka (2022).

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Padahal sebenernya tujuan pendidikan itu sederhana, yakni secara sederhana adalah untuk menanamkan iman dan taqwa atau imtaq dan ilmu pengetahuan dan teknologi yang di dalamnya terdapat skill yang berguna untuk menjalani kehidupan dunia dengan baik.

Sebagaimana tertuang dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menjelaskan bahwa fungsi dan tujuan dari pendidikan nasional dituangkan di dalam pasal 3 yang mengatakan bahwa:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Hal ini sebenarnya sesuai dengan pernyataan Imam Ghazali dan Ibnu Khaldun bahwa pendidikan harus berorientasi dunia dan akhirat. Kebahagiaan dunia dan juga akhirat.

Namun, dibalik pergantian kurikulum tersebut tidak diiringi dengan lulusan yang baik secara keimanan dan juga punya skill yang bagus untuk menjalani kehidupan yang baik. Hal ini dibuktikan dengan angka kenakalan remaja yang tinggi.

Di Indonesia salah satu bentuk kenakalan remaja yang marak dijumpai, terutama di kota-kota besar adalah tawuran pelajar. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat terjadinya tren peningkatan angka kasus tawuran di kalangan pelajar sepanjang tahun 2018.

Sepanjang tahun 2017 hingga 2018, KPAI mencatat 202 anak berhadapan dengan hukum karena terlibat tawuran. Sementara kekerasan di lingkungan sekolah dengan anak sebagai pelaku sepanjang 2019 tercatat 3 kasus di Gresik, Talakar, dan Ngawi, Jawa Timur.

Kasus di Jember sendiri juga tergolong tinggi. Wakapolres Jember Kompol Kadek Ary Mahardika membeberkan, selama 2021, satreskrim mengungkap 409 kasus.

Sebanyak 329 di antaranya sudah memasuki proses hukum atau ke tahap persidangan. Dibanding tahun 2020 lalu, kata dia, capaian itu menurun 98 kasus dari total 507 kasus. Sementara, kasus yang tengah diproses hukum lanjut juga turun 32 kasus dari total 361 kasus.

Di dalam dunia kerja lulusan kita juga dikeluhkan oleh stakeholder. Dunia usaha banyak mengeluhkan mutu lulusan lembaga pendidikan yang tidak siap kerja.

Oleh karena kurikulum pendidikan tidak sesuai dengan kebutuhan dunia usaha. Setiap dunia usaha senantiasa butuh melatih para calon pegawai sebelum bekerja.

Hal ini juga diakui oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim, bahwa kompetensi dan produktivitas sarjana di duni kerja masih sangat minim.

Hal tersebut menyebabkan tenaga kerja berpendidikan tinggi sulit terserap perusahaan-perusahaan besar, baik yang berskala nasional maupun internasional. Ia mengatakan, minimnya kualitas sarjana disebabkan karena pengalaman magang yang kurang saat kuliah.

Seharusnya, magang dilakukan dalam jangka waktu enam bulan agar pengalaman kerja semakin luas. Anak-anak lulusan terbaik Indonesia pintar-pintar, tapi sulit menjadi produktif di dunia kerja. Mereka memerlukan masa orien…

Kurikulum Rasulullah

Kurikulum sebenarnya sederhana dalam agama kita sebagaimana Islam itu mudah. Contoh yang diriwayatkan oleh Jundub bin Abdillah radiyallahuanhu:

عن جُنْدُبِ بن عبد الله قال: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ونحن فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فتعلمنا الإيمان قبل أن نتعلم القرآن ثم تعلمنا القرآن فازددنا به إيماناً ) رواه ابن ماجة (61) والطبراني في المعجم الكبير (1678) والبيهقي في سننه الكبرى (5075) وهو حديث صحيح

Dari Jundub bin Abdillah beliau berkata: “Dahulu kami ketika remaja bersama Rasulullah ﷺ, kami belajar iman sebelum  Al-Quran kemudian setelah kami belajar  Al-Quran bertambahlah keimanan kami. Sedangkan kalian sungguh pada hari ini justru belajar  Al-Quran dulu sebelum belajar iman.” (Riwayat At Thabrani, Al Baihaqi, Ibn Majah.)

Perkataan Jundub bin Abdillah ini ditujukan kepada generasi setelahnya tabiin, Sehingga dalam riwayat Thabrani dalam kitab Al-Mu’jam Al-kabir ada tambahan dari perkata’an Jundub bin Abdillah:

فانكم اليوم تعلمون القران قبل الايمان

“Adapun kalian hari ini belajar qur’an sebelum iman.”

Sebagaimana yang sudah digambarkan Nabi ﷺ, tabiin adalah generasi terbaik setelah sahabat, tentunya di sini ada penurunan kualitas. Begitulah kalau dipandang dari kacamata sahabat.

Bandingkan dengan kondisi saat ini yang tidak mendahulukan kualitas keduanya? Belum lagi jam belajar di sekolah hanya 2 jam kemudian saat ini dirubah jadi 4 jam dalam sepekan.

Permasalahan sangat kompleks. Belum lagi jumlah mata pelajaran yang banyak. Jumlah mata pelajaran terlalu banyak.

Metode Mengajar

Berkaitan dengan metode mengajar, Rasulullah sendiri dalam hadits punya metode mengajar yang sangat banyak disesuaikan dengan kebutuhan, sesuai tempat, orang yang diajak bicara, supaya tidak bosan dst.

Misal dalam hadits Arbain Nawawi. Ada banyak metode menyampaikan materi kepada para sahabat. Pada hadits pertama Rasulullah ﷺ menyampaikan dengan metode ceramah dan menyampaikan fakta.

Kemudian di hadits kedua Rasulullah ﷺ menggunakan metode diskusi (hiwar) berkenaan dengan hadits Jibril. Selanjutnya di hadits yang ketiga Rasulullah menyampaikan dengan metode caramah lagi.

Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah pengarang kitab Arrasul Almuallim menjelaskan bahwa Rasulullah mempunyai 40 metode dalam menyampaikan materi kepada para sahabatnya.

Menyampaikan ilmu adalah pahala tersendiri. Sedangkan mengikuti metode Rasulullah dalam penyampaian ilmu juga pahala sendiri.

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, seharusnya kita sebagai umat Islam tidak boleh minder atas kemajuan barat dalam hal Teknologi. Rasulullah sebagai panutan sudah memberikan contoh secara gamblang dan mendeklarasikan bahwa diutus bukan hanya sebagai Nabi dan Rasul tapi juga sebagai seorang guru.

Hal ini membuat Baginda Nabi punya seperangkat kurikulum, metode mengajar, tahapan dll. Keharusan bagi umat ini untuk menggali.

Contoh dalam hal skill bahasa Zaid bin Tsabit (bukan hanya kokoh dalam bidang agama) hanya butuh 17 hari untuk mempelajar bahasa Suryani. Dibandingkan dengan generasi umat Islam saat ini yang diajari bahasa Inggris mulai SD hingga kuliah tidak bisa bicara juga tidak bisa menulis.

Jadi mau dibawa kemana kurikulum kita ini?*

Mahasiswa pascasarjana UIN KHAS Jember, artikel disampaikan dalam “Seminar Antarbangsa Pendidikan Islam 2023”, Universitas Putra Malaysia, 1 Maret 2023.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinekurikulumpendidikan nasionalPilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Nyawa Seorang Jamaah Umroh Berhasil Diselamatkan Meski Jantungnya Berhenti Selama 10 Menit
Tulisan selanjutnya Rumah Kontainer dari Qatar untuk Korban Gempa Turki Tiba

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta

Berita
31 Agustus 2026 21:23
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global

Terbaru

  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?