Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

(Mis)Interprestasi ‘Ayat-Ayat Pluralisme’

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 April 2024 11:32 11:32 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 April 2024 11:30
Bagikan
Bagikan

Menurut Al-Quran kebanyakan Ahlul Kitab tidak beriman karena mereka mendustakan Nabi Muhammad ﷺ,  wahyu dan menolak syariatnya, jadi klaim “ayat pluralisme’ sangat dipertanyakan

Oleh: Dr. Syamsuddin Arif  

Hidayatullah.com | SALAH seorang pengasong pluralisme agama pernah mengutip ayat al-Quran dan menyebutnya ‘ayat pluralisme’.  Di antara ayat yang diklaim itu adalah  ayat 69 Surah Al Maidah.

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالصَّابِـُٔوْنَ وَالنَّصٰرٰى مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ ۝٦٩

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Sabiin, dan Nasrani, siapa yang beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih.”

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Para pengasong pluralisme agama berpendapat perbedaan agama tidak menghalangi Tuhan untuk memberikan pahala. Menurut mereka,  di mana letak keadilan dan kasih sayang Tuhan jika orang-orang non-Muslim yang saleh dan banyak berbuat baik semasa hidupnya kelak dijebloskan ke neraka?

Memang benar, soal masuk surga dan neraka adalah hak prerogatif Tuhan. Hanya Tuhan yang berhak menghakimi dan memutuskan siapa bakal masuk ke mana kelak. Namun, di samping memberikan semacam ‘tips’ untuk bisa sampai ke sana, Tuhan (Allah Swt) juga mengumumkan ciri-ciri kandidat ahli surga maupun ahli neraka.

Untuk memperoleh pemahaman yang jujur dan jernih perihal ‘ayat pluralisme’ itu semestinya kita tidak mengabaikan konteks siyaq, sibaq, serta lihaq ayat tersebut.

Pertama, mari kita perhatikan ayat-ayat yang mendahuluinya, setidaknya mulai ayat 41 hingga 68. Secara eksplisit Allah Swt mengecam sikap dan perilaku kalangan Ahlul Kitab yang ingkar dan ‘lain di mulut lain di hati’, gemar memelintir kebenaran, menuruti hawa nafsu, mempermainkan agama dan menimbulkan permusuhan.

Selanjutnya mari kita lihat ayat-ayat yang mengikutinya, terutama ayat 78 hingga 86 Surat Al-Maidah yang menjadi konteks lihaq (konteks setelah pembicaraan)  ‘ayat pluralisme’ tersebut.

Dinyatakan di sana bahwa mereka yang kufur dari kalangan Bani Israil telah dikutuk karena selalu durhaka dan melampaui batas, membiarkan kemungkaran terjadi, menjadikan orang tak beriman sebagai pelindung mereka.

Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya niscaya mereka tidak meminta perlindungan kepada orang-orang tersebut, namun mayoritas mereka memang fasik.

“Akan kamu dapati orang yang paling memusuhi kaum beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Sedang yang paling dekat dan bersahabat ialah orang-orang Nasrani, karena di antara mereka ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib, juga karena mereka tidak angkuh (menyombongkan diri).” (QS:Al-Maidah: 82)

Bila mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ mata mereka berkaca-kaca terharu oleh kebenaran yang telah mereka ketahui, seraya berkata: “Ya Tuhan, kami telah beriman, maka masukkanlah kami dalam daftar orang-orang yang menjadi saksi. Bagaimana kami tidak beriman kepada Allah dan kebenaran yang datang kepada kami, wong kami ini ingin agar Tuhan memasukkan kami ke dalam golongan orang saleh?” Maka Allah memberi mereka pahala untuk perkataan yang mereka ucapkan, yaitu surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, kekal abadi di sana. Demikianlah balasan bagi orang baik. Adapun mereka yang kufur dan mendustakan ayat-ayat Allah jelas bakal menjadi penghuni neraka.

Dari sini jelas sekali bahwa umat Yahudi dan Nasrani disanjung apabila mereka mau beriman kepada Nabi Muhammad dan ajaran yang dibawanya, tetapi dikecam jika tidak beriman, durhaka, dan bertindak melampaui batas.

Ahlul Kitab yang beriman masuk Islam dijanjikan pahala dua kali lipat, ujar Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis sahih. Sebaliknya, Ahlul Kitab yang kepadanya telah sampai panggilan untuk beriman dan memeluk Islam tetapi enggan menyambutnya maka sulit baginya untuk terhindar dari api neraka (HR Muslim No 153).

Sekarang marilah kita menggunakan pendekatan sola scriptura (ajaran) untuk menjawab sejumlah persoalan terkait.

Tafsir Quran bil Quran

Pertanyaan pertama yang mengemuka terkait ‘ayat pluralisme’ itu ialah apa maksud ungkapan “siapa yang beriman di antara mereka?” Jawaban dan perincian rukun iman beserta indikatornya kita temukan dalam Surat Al-Baqarah 285, Ali Imran 171-3, An Nisa 162, Al A’raf 157, Al Anfal 2-4 dan 74, At Tawbah 13, Al Mu’minun 2-9, An Nur 62, Al Hujurat 15, dan Al Hadid 19.

Kedua, apakah Ahlul Kitab Yahudi maupun Nasrani juga beriman? Menurut Al-Quran mayoritas mereka tidak beriman. Ini karena mereka mendustakan Nabi Muhammad ﷺ dan wahyu yang diturunkan kepadanya, menolak syariatnya, enggan masuk Islam.

Itulah sebabnya mengapa Allah menegur dan mengecam mereka (Al-Baqarah 89-93, An Nisa 47, An Nisa’ 171). Namun demikian tidak semua Ahlul Kitab itu kafir. Ada sebagian kecil dari mereka yang beriman kepada Rasulullah ﷺ dan memeluk Islam (Ali Imran 110-115 dan 199, juga Al Ankabut 47).

Selanjutnya, meski telah menyatakan diri beriman dan masuk Islam, mereka tentu akan diuji Allah Swt (Al-Ankabut 1-2). Dalam hal ini posisi mereka sama dengan orang Muslim lainnya yang juga mengaku beriman dan perlu ujian.

Mengapa demikian? Karena banyak orang mengaku Islam dan beriman di mulut saja sehingga menipu dirinya sendiri (Al Baqarah 8-9 dan Al Munafiqun 1). Ada juga yang telah menyatakan diri berislam dan beriman, tetapi baru sampai tahap minimal, di mulut dan di hati, tapi praktiknya belum (Al Hujurat 14) bahkan perbuatan maksiatnya jalan terus, sehingga disebut fasiq (Al Maidah 49).

Ketiga, apa yang dimaksud dengan amal saleh dalam ungkapan “siapa yang berbuat baik’? Dijelaskan antara lain bahwa amal saleh adalah hidup berpandukan ajaran kitab suci dan mendirikan shalat (Al A’raf 168). Amal baik di sini berkaitan dengan dan berlandaskan ajaran serta perintah agama.

Terakhir, bagaimana memahami ungkapan ‘mereka tidak perlu takut dan tidak perlu cemas’?

Dalam Al-Quran, ungkapan seperti ini terdapat lebih dari sekali, dengan berbagai konteks. Yang jelas, untuk bisa memperoleh jaminan keselamatan di dunia dan akhirat seseorang harus berislam, beriman, beramal saleh, berihsan, bertaqwa, dan beristiqamah.*

Pengajar Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ahlul Kitabayat pluralismeHeadlinePilihan RedaksiPluralisme agama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya BMH dan Abbas Mart Gelar “Belanja Bahagia” untuk Yatim dan Dhuafa
Tulisan selanjutnya Lebih Awal Idul Fitri karena ‘Telepon Allah’, DPR Minta Kemenag Bina Jemaah Aolia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman

Berita
30 Agustus 2026 10:13
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU
Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
Genosida Rwanda: Pengadilan Belanda Penjarakan Seorang Tersangka Seumur Hidup
Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?