Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Batas Etika Negara dalam Kasus Vasektomi sebagai Syarat Bansos

Ahmad
Terakhir diupdate: 9 Mei 2025 12:43 12:43 pm
Ahmad
Dipublikasikan 9 Mei 2025 12:42
Bagikan
Bagikan

Wacana vasektomi bersyarat ini bukan hanya cacat etik, tetapi juga cacat strategi

Oleh: Dwi Agus Widodo

Hidayatullah.com | KEBIJAKAN Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang mewacanakan vasektomi sebagai syarat menerima bantuan sosial (bansos) telah menimbulkan keprihatinan mendalam di tengah masyarakat.

Lebih dari sekadar polemik administratif, wacana ini menyingkap arah berpikir negara yang kian bergeser dari prinsip keadilan dan etika demokrasi ke wilayah kontrol biologis atas warga miskin.

Di balik wacana yang secara teknokratis mungkin dianggap solutif terhadap persoalan kepadatan penduduk dan kemiskinan, tersembunyi sebuah persoalan mendasar: apakah negara memiliki otoritas moral dan etik untuk mengatur tubuh warganya sebagai prasyarat atas hak hidup yang paling elementer?

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Tubuh sebagai Medan Kekuasaan

Michel Foucault, dalam The History of Sexuality mengungkap bagaimana kekuasaan modern bekerja bukan lagi melalui ancaman fisik, tetapi melalui regulasi atas tubuh dan seksualitas.

Negara dalam hal ini tidak hanya mengatur ekonomi, politik, atau hukum, tetapi juga menjangkau sampai ke ranah biologis, melalui apa yang disebut Foucault sebagai biopolitik.

Mewajibkan vasektomi untuk mendapatkan bansos adalah ekspresi telanjang dari logika biopolitik tersebut: negara menanamkan kekuasaannya hingga ke organ reproduksi rakyat miskin.

Ini adalah bentuk pemaksaan yang tidak hanya represif, tetapi juga simbolis: negara merasa berhak atas tubuh rakyat demi mencapai agenda pembangunan yang ia klaim rasional.

“Where there is power, there is resistance, ” kata Foucault.

Dan alam konteks ini, resistensi etis dan ilmiah menjadi keharusan. Sebab jika kebijakan ini dibiarkan, maka bukan tidak mungkin ranah-ranah privat lain juga akan dikapitalisasi oleh negara dengan dalih efisiensi dan pengentasan kemiskinan.

Salah satu kritik besar dalam teori kebijakan publik modern adalah dominasi rasionalitas instrumental—yakni kecenderungan menilai kebijakan hanya berdasarkan efektivitas teknis, tanpa mempertimbangkan nilai etis dan implikasi sosiokulturalnya.

Herbert Marcuse dan Theodor Adorno, menyebut ini sebagai “masyarakat satu dimensi”, ketika segala sesuatu dilihat hanya dari fungsi dan manfaatnya bagi sistem.

Dalam perspektif ini, wacana vasektomi memang terlihat “rasional”: mencegah pertumbuhan penduduk, menekan kemiskinan, dan menstabilkan beban fiskal bansos.

Namun, pendekatan tersebut mengabaikan bahwa manusia bukan sekadar objek statistik. Mereka adalah subjek moral dengan hak atas tubuh dan masa depan mereka sendiri.

Maka, pertanyaan kritisnya bukanlah: “apakah program ini berhasil?” Melainkan: “apakah program ini benar secara etik dan adil secara sosial?”

Immanuel Kant dalam prinsip etikanya menegaskan bahwa manusia tidak boleh dijadikan alat bagi tujuan tertentu, betapapun tujuannya dianggap baik.

Dalam Groundwork for the Metaphysics of Morals, Kant menyatakan: “Act so that you treat humanity, whether in your own person or in that of another, always as an end and never merely as a means.”

Ketika seseorang harus “menyerahkan” tubuhnya—melalui prosedur steril—hanya untuk memperoleh hak dasar hidup (bansos), maka di situlah martabat manusia direduksi.

Negara telah menjadikan mereka bukan sebagai warga negara, tetapi sebagai objek syarat administratif. Ini adalah bentuk pemerasan etis.

Lebih menyakitkan lagi, kelompok yang disasar adalah mereka yang paling lemah secara sosial dan ekonomi.

John Rawls dalam A Theory of Justice menyebut bahwa kebijakan yang adil justru harus melindungi dan menguntungkan mereka yang berada dalam posisi paling tidak beruntung (the least advantaged).

Namun dalam kasus ini, negara justru memanfaatkan kerentanan mereka untuk tujuan pengendalian sosial.

Mendidik, Bukan Memaksa

Pengendalian kelahiran dan pengaturan keluarga adalah kebutuhan riil. Tetapi pendekatannya harus bersandar pada edukasi, kesadaran, dan kemitraan etis dengan masyarakat.

Agama, budaya lokal, dan komunitas sipil bisa menjadi mitra strategis untuk memperluas kesadaran tanpa pemaksaan.

Wacana vasektomi bersyarat ini bukan hanya cacat etik, tetapi juga cacat strategi. Ia memperlihatkan kemalasan negara dalam mendidik masyarakat, dan memilih jalan pintas melalui syarat-syarat yang manipulatif secara kekuasaan.

Mungkin, inilah waktu yang tepat bagi para akademisi, tokoh agama, dan masyarakat sipil untuk berdiri tegak dan berkata: cukup sudah kebijakan ngawur yang memanipulasi rakyat miskin. Cukup sudah tubuh rakyat diperlakukan sebagai alat uji coba program teknokratis.

Kita tidak sedang menolak pembangunan. Kita menolak cara berpikir negara yang menukar martabat dengan angka.

“Keadilan tanpa kekuatan adalah kelemahan; kekuatan tanpa keadilan adalah tirani.”– Blaise Pascal

Demokrasi sejati ditandai oleh kemauan negara untuk melindungi, bukan menekan. Menyantuni, bukan mengontrol. Dan di atas segalanya: menghormati hak warga negara, bahkan yang paling miskin sekalipun, sebagai manusia yang utuh.*

Penulis Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sedati, alumni S-2 Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bansosbantuan sosialcacat etikvasektomi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mayoritas Warga Surabaya Setuju Remaja Terindikasi LGBT Dibawa ke Barak Militer
Tulisan selanjutnya Aparat Suriah Menangkap Petugas yang Terlibat Kejahatan di Penjara  Sednaya  

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Persenjatai Geng Kriminal untuk Rampok dan Usir Warga Palestina di Gaza

Berita
29 Agustus 2026 08:29
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031
UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?