Hidayatullah.com – Apakah anak Anda lebih tertarik pada gadget daripada buku? Anda tidak sendiri. Namun kabar baiknya, minat baca anak bisa ditumbuhkan — bukan dengan paksaan, melainkan dengan pendampingan yang menyenangkan.
Sebagai orang tua kita perlu menyadari bahwa itu menumbuhkan minat membaca pada anak tidak dapat dilakukan secara instan.
Bermula dari dalam kandungan
Betapa pengaruh ibu terhadap anaknya begitu besarnya. Bahkan hal itu dimulai sejak sang buah hati dalam kandungan. Jika sang Bunda suka membaca, nyaman ketika membaca, maka sang jabang bayi pun akan merasakan hal yang sama. Frekuensi yang dibangun sang Bunda sejak dalam kandungan terhadap Ananda itulah yang akan membuat rasa nyaman dari sang buah hati dengan aktivitas membaca.
Bayi pun suka diajak membaca
Bagi seorang introvert, atau pertama kali menjadi seorang ibu yang sebelumnya mungkin belum terbiasa momong anak-anak maka “mengudang” bayi atau mengajak bermain bayi adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Karena sang bayi sebagai lawan bicara kita, mungkin tidak tahu kita bicara apa, bahkan kita juga tidak tahu dia bicara apa? Karena seorang bayi baru bisa berekpresi dengan tangisan, rengekan, senyuman dan tertawanya yang renyah.
Nah, aktivitas membacakan buku dengen keras (read aloud), akan membantu ibu dan juga sang anak. Ibu mempunyai bahan untuk bercerita, dan sang anak pun akan tumbuh rasa percaya diri yang tinggi karena ada seseorang yang senantiasa memperhatikan dan mengajaknya bicara. Aktivitas membaca dengan keras ini juga akan semakin menambah bonding dengan sang ibu atau anggota keluarga lain yang melakukannya, dan tak lupa membacakan buku akan semajin menambah perbendaharaan kosa kata yang terekam dalam memorinya. Walaupun mungkin menurut kita sang bayi belum bisa apa-apa.
Membaca membuat kecanduan
Jika sang bayi sudah suka dengan aktivitas membaca, maka dia akan sangat suka dengan buku dan selalu ingin dibacakan buku. Maka bersiaplah para orang tua yang akan kewalahan menghadapi keinginan sang buah hati yang ingin terus dibacakan buku.
Terus menjaga minat membaca sang buah hati sangatlah penting, karena jika minat membacanya sudah tinggi, maka ketika dia menginjak usia balita, semangat belajar untuk membaca buku dengan sendirinya akan muncul tanpa kita paksa. Karena tentunya saat dia sudah bisa membaca buku secara mandiri, maka akan semakin banyak buku yang akan dia baca.
Teladan itu nyata
Berikan contoh dan teladan di rumah kita, bahwa kita dan anggota keluarga yang ada di rumah pun suka membaca. Maka anak akan melihat itu sebagai sebuah contoh, dan budaya yang ada di rumahnya. Dia akan meniru apa yang terlihat di depan matanya dengen baik, jika contoh itu diberikan dengan konsisten, terus menerus dan tentunya dalam suasana yang menyenangkan.
Beri fasilitas
Segala sesuatu memang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Jika kita menginginkan sang buah hati mencintai buku dan suka membaca, maka kita pun perlu menganggarkan budget tersendiri untuk membeli buku. Kita bisa memulai dengan merencanakan perpustakaan keluarga yang kita desain secara bertahap, agar di mana mata memandang di rumah kita terdapat buku yang menarik dan membuat anak ingin selalu membaca.
Meminjam buku di perpustakaan secara rutin bisa juga dilakukan untuk terus menambah perbendaharaan buku yang dibaca. Sesekali boleh juga mengajak Ananda ke toko buku untuk berbelanja atau sekedar melihat-lihat koleksi buku yang ada. Sebagai alternatif bisa juga kita membeli buku bekas yang masih bagus dan layak baca sebagai koleksi perpustakaan rumah kita, karena tentunya harganya lebih terjangkau.
Tetap semangat dan istiqamah membaca
Di tengah gempuran media sosial yang mewabah di kalangan anak muda kita, semoga budaya membaca buku ini terus dapat kita pertahankan. Karena saat kita membaca semua aktivitas otak kita bekerja. Tentunya kita menjadi lebih pintar, fokus dan tidak cepat terkena kepikunan (alzheimer). Dan benarlah saat perintah pertama yang Allah turunkan kepada umat manusia adalah “membaca”, karena banyak sekali manfaat dan hikmah yang akan kita dapatkan saat kita melakukan aktivitas membaca ini. Wallahu ‘alam bishowab.*
Ayun Afifah, Guru SDIT Hidayatullah Yogyakarta, Bunda dengan 4 anak, tinggal di Sleman.




