Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Pengakuan Palestina dan Ancaman Dominasi Baru

Ahmad
Terakhir diupdate: 2 Oktober 2025 22:21 10:21 pm
Ahmad
Dipublikasikan 2 Oktober 2025 22:00
Bagikan
Bagikan

Ide perdamian Barat terhadap Palestina dan kehadiran Trump di ASEAN harus dilihat dengan kewaspadaan, sebab tanpa tindakan nyata keduanya hanya berpotensi menjadi alat dominasi baru

Oleh: Muhammad Syahmi Afiq

Hidayatullah.com | PERNYATAAN Presiden Prancis, Emmanuel Macron, di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini mengenai pengakuan Palestina memunculkan gelombang optimisme.

Macron menegaskan bahwa pengakuan Palestina adalah “jalan untuk menyelamatkan nyawa sipil” sekaligus membuka pintu bagi solusi dua negara.

Ucapan ini sejalan dengan langkah sejumlah negara Barat sejak tahun lalu — termasuk Irlandia, Spanyol, Norwegia, dan Slovenia — serta ditambah pada tahun ini oleh Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal yang juga memberikan pengakuan. Dari luar, ini tampak seperti sebuah lonjakan moral yang signifikan.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Namun, sejarah panjang sikap Barat terhadap Palestina dan keterlibatan kekuatan besar dalam isu kawasan menunjukkan bahwa optimisme ini harus dilihat secara kritis.

Pengakuan yang Masih Bersifat Simbolis

Pengakuan resmi memang menambah legitimasi Palestina di panggung internasional. Hal itu memberi tekanan moral kepada ‘Israel’ dan menegaskan bahwa penjajahan tidak bisa terus dibiarkan.

Namun, tanpa langkah nyata seperti embargo senjata, boikot perdagangan, atau tekanan diplomatik langsung, pengakuan tersebut hanya berfungsi sebagai simbol.

Gaza tetap berada di bawah blokade, Tepi Barat terus digerus oleh pembangunan pemukiman ilegal, dan jutaan rakyat Palestina masih kehilangan tanah serta hak-haknya.

Prancis, misalnya, masih mensyaratkan agar Palestina berbentuk negara “tanpa militer” — sebuah bentuk pengakuan bersyarat yang melemahkan kedaulatan.

Irlandia, Norwegia, Spanyol, dan Slovenia menekankan aspek moral, tetapi tetap berhati-hati agar tidak mengorbankan kepentingan ekonomi mereka dengan ‘Israel’ maupun Amerika Serikat.

Dengan demikian, pengakuan ini berisiko hanya menjadi kosmetik politik: menenangkan hati publik Eropa yang peduli, tetapi tidak mengubah realitas di Palestina.

Retorika Lama dalam Wajah Baru

Retorika pengakuan ini mengingatkan pada janji Perjanjian Oslo tahun 1993. Kala itu, Barat menjanjikan solusi dua negara. Namun, tiga dekade kemudian, Palestina justru semakin terpecah, pemukiman ‘Israel’ kian meluas, dan jumlah korban terus bertambah.

Gelombang pengakuan yang dipimpin Prancis dan sekutunya kini berisiko mengulang pola lama: memberi harapan tanpa tindakan nyata, sambil membiarkan status quo berjalan.

Lebih jauh, rencana 21 poin Gedung Putih untuk Gaza yang baru diumumkan memperlihatkan bagaimana “inisiatif perdamaian” hanya mengulang formula lama.

Dibalut dengan bahasa “pembangunan” dan “keamanan”, sebenarnya rencana itu mempertahankan struktur penindasan.

Beberapa poin utamanya:

  • Hamas diminta melucuti semua senjata;
  • Gaza dijadikan kawasan tanpa militer di bawah pengawasan internasional;
  • Akses perbatasan dan bantuan kemanusiaan dikendalikan oleh mekanisme internasional yang dipimpin Barat;
  • Hanya pemerintahan yang sejalan dengan kepentingan Washington dan Tel Aviv yang diakui sebagai wakil Palestina;
  • Keamanan ‘Israel’ ditempatkan di atas segalanya.

Keseluruhan rencana ini bukan jalan menuju kebebasan Palestina, melainkan strategi untuk mengurung Gaza dalam keadaan terkendali. Hakikatnya, rencana ini tidak jauh berbeda dari Oslo, “Roadmap for Peace”, atau bahkan “Deal of the Century”.

Semua berbagi satu kesamaan: Palestina harus mengalah, ‘Israel’ tetap diuntungkan.

Kedatangan Trump ke ASEAN dan Malaysia: Ancaman Terselubung

Pada saat yang sama, kawasan ini tengah menunggu kedatangan Donald Trump dalam Konferensi ASEAN Oktober mendatang, dengan Malaysia sebagai salah satu tujuan lawatannya.

Sebagian pihak mungkin melihat kunjungan itu sebagai peluang kerja sama, namun sesungguhnya ia juga membawa risiko terhadap kedaulatan negara.

Trump dikenal dengan pendekatan “pragmatis” yang berorientasi pada hasil instan. Tetapi, dalam konteks Gaza, pragmatisme itu berarti mengutamakan keamanan ‘Israel’, menolak gencatan senjata total, serta menekan pihak Palestina agar menerima syarat-syarat yang berat sebelah.

Ini bukan pragmatisme yang menyelesaikan konflik, melainkan pragmatisme yang justru melanggengkan penindasan.

Jika pendekatan serupa dibawa ke ASEAN, negara-negara kawasan, termasuk Malaysia, bisa terjebak dalam tekanan untuk tunduk pada agenda Washington dengan alasan “perdamaian” atau “kepentingan bersama”.

Pengalaman Teluk sebagai Peringatan

Lawatan Trump ke negara-negara Teluk awal tahun ini memberikan pelajaran penting. Dalam kunjungan itu, Trump menandatangani kontrak senjata bernilai miliaran dolar, menekan sejumlah negara Teluk agar mendukung strategi geopolitik Amerika, sambil mengabaikan isu keadilan bagi Palestina.

Akhirnya, negara-negara Teluk yang terlibat terlihat semakin terikat dengan Washington, bukan hanya di bidang keamanan tetapi juga dalam kebijakan luar negeri mereka.

Jika pola ini berulang di Asia Tenggara, kedatangan Trump ke Malaysia dan ASEAN bisa menjadikan forum diplomasi sebagai ajang tekanan politik.

Negara-negara kawasan berisiko dipaksa berkompromi dalam kebijakan ekonomi, keamanan maritim, atau hubungan dengan Tiongkok — semua demi memenuhi kepentingan Amerika Serikat.

Pelajaran dari Sejarah Penjajahan

Sejarah penjajahan menunjukkan bahwa pengakuan dan hubungan diplomatik sering dijadikan alat kendali oleh kekuatan besar. Filipina “dimerdekakan” dari Spanyol, namun segera dijadikan protektorat Amerika.

Negara-negara Afrika setelah Perang Dunia II juga diakui merdeka, tetapi tetap dikendalikan melalui sistem ekonomi. Asia Tenggara pun mengalami upaya serupa, di mana kekuatan besar berusaha mempertahankan pengaruh meski kemerdekaan formal sudah dicapai.

Maka, optimisme terhadap pengakuan Barat atas Palestina harus disikapi dengan sangat hati-hati. Begitu pula kedatangan Trump ke ASEAN bukan sekadar agenda diplomasi, tetapi bisa menjadi pintu masuk bentuk baru dominasi kekuatan besar.

Kesimpulan: Realisme Mengatasi Optimisme

Optimisme mudah dibangun lewat pidato pemimpin Barat atau deklarasi pengakuan resmi. Namun, realisme mengingatkan bahwa tanpa langkah tegas — berupa embargo ekonomi, tekanan diplomatik, dan perlindungan kemanusiaan — Palestina akan tetap berada di bawah penjajahan.

Demikian juga, kehadiran Trump di Malaysia dan ASEAN mungkin disambut sebagai tanda eratnya hubungan, tetapi sejarah membuktikan hal itu bisa berdampak pada kedaulatan dalam jangka panjang.

Sejarah mengajarkan bahwa kebebasan sejati tidak lahir dari retorika kekuatan besar. Kebebasan hanya bisa diraih lewat keteguhan bangsa mempertahankan haknya sendiri, tanpa tunduk pada dominasi luar.

Inilah pesan yang harus kita hayati — baik bagi Palestina, Malaysia, maupun kawasan ASEAN secara keseluruhan.*

Seorang Manajer di sebuah penerbitan, sekaligus pemerhati isu Palestina dengan fokus pada kemanusiaan, sejarah, dan politik Asia Barat. Artikel diambil dari akun Facebook Haluan

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ASEANbaratdominasiDonald TrumpHeadlinepalestinaperdamianPilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hamas Tolak Rencana “Perdamaian Ala Donald Trump” yang Disebut Persekonglolan Barat
Tulisan selanjutnya Inilah 21 Poin Rencana “Perdamaian Ala Donald Trump” yang Rugikan Perjuangan Palestina

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Berita
31 Agustus 2026 19:36
Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya

Terbaru

  • Amerika Serikat Klaim Tembak Jatuh 300 Drone Kartel Narkoba di Perbatasan Meksiko
  • Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
  • Suriah Musnahkan Senjata Kimia Era Rezim Bashar Al-Assad
  • Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya
  • Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil
  • Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih
  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?