Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

AS-Israel vs Iran: Sinyal Pergeseran Kekuatan Global ?

Ahmad
Terakhir diupdate: 25 Maret 2026 21:37 9:37 pm
Ahmad
Dipublikasikan 25 Maret 2026 21:33
Bagikan
Bagikan

Konflik ini membuka kemungkinan melemahnya dominasi Barat, namun belum cukup bukti untuk memastikan bahwa Amerika Serikat benar-benar menuju titik nadirnya.

Daftar isi
  • Pudarnya Kekuatan AS terhadap Sekutu
  • Menuju Titik Nadir atau Sekadar Transisi?
        • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Oleh: Imam Nawawi

Hidayatullah.com | SERANGAN Amerika Serikat-Israel terhadap Iran menghadirkan situasi yang mengusik nalar publik. Pada awalnya, banyak pihak menduga bahwa Amerika Serikat dan Israel hanya memerlukan waktu singkat untuk melumpuhkan Iran. Namun, fakta di lapangan menunjukkan dinamika yang berbeda.

Iran justru mampu merespons secara konsisten setiap serangan dari Amerika Serikat dan Israel. Padahal, jika melihat data, belanja pertahanan Iran hanya sekitar 15,45 miliar dolar AS, atau setara dengan 1,7 persen dari belanja militer AS. Sementara itu, Israel sebagai sekutu utama AS memiliki anggaran pertahanan sekitar 31 miliar dolar AS. Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa Iran justru memaksa Washington dan Tel Aviv bekerja lebih keras dari perkiraan awal.

Fakta ini mendorong sebagian kalangan mempertanyakan: apakah ini sekadar konflik militer biasa, atau justru menjadi indikasi awal pergeseran kekuatan global?

Baca Juga

Keadilan dan Kemanusiaan di Balik Jeruji Besi
Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace

Amerika Serikat selama ini dipahami sebagai simbol dominasi peradaban Barat. Dalam perspektif sejarah, melemahnya suatu peradaban kerap ditandai oleh menurunnya kapasitas inovasi dan keunggulan ilmu pengetahuan.

Indikasi tersebut juga dapat dibaca dari sisi strategi militer. Asisten profesor tamu di Fletcher School, Universitas Tufts, sekaligus peneliti di Middle East Center London School of Economics, Arash Reisinezhad, sebagaimana dikutip Kompas, menilai bahwa Amerika Serikat keliru dalam menerapkan strategi untuk melumpuhkan Iran.

Strategi yang digunakan cenderung monoton, yakni dengan asumsi bahwa menjatuhkan pucuk pimpinan Republik Islam akan membuat negara tersebut runtuh. “Singkirkan kepala Republik Islam, dan negara itu akan runtuh.” Pendekatan seperti ini, menurutnya, tidak efektif dalam konteks Iran.

Pudarnya Kekuatan AS terhadap Sekutu

Selain persoalan strategi, dinamika aliansi global juga menunjukkan gejala yang tidak kalah penting. Kelemahan Amerika Serikat tidak hanya terletak pada kesalahan dalam mengkalkulasi Iran, tetapi juga pada tidak solidnya dukungan dari sekutu-sekutunya.

BBC melaporkan bahwa Inggris, Jerman, Australia, Spanyol, dan Jepang secara tegas menolak ajakan Presiden Donald Trump untuk terlibat lebih jauh dalam konflik dengan Iran, termasuk dalam pengiriman armada militer.

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyatakan bahwa negaranya tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas. Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, juga menolak permintaan tersebut dengan mengatakan, “Apa yang diharapkan Trump dari segelintir fregat Eropa yang tidak mampu dilakukan oleh Angkatan Laut AS yang begitu kuat? Ini bukan perang kami. Kami tidak memulainya.”

Menteri Pertahanan Spanyol, Margarita Robles, turut menegaskan, “Spanyol tidak akan pernah menerima solusi tambal sulam, karena tujuan utama haruslah mengakhiri perang, dan mengakhirinya sekarang.”

Kondisi ini menunjukkan bahwa solidaritas Barat tidak lagi sepenuhnya solid, terutama dalam menghadapi konflik berisiko tinggi. Perbedaan kepentingan antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa semakin terlihat jelas.

Jika dalam situasi perang saja Eropa cenderung menahan diri, maka bukan tidak mungkin jarak politik akan semakin melebar pada fase pascakonflik, terlebih jika hasil perang tidak sesuai harapan Washington. Meski demikian, masih terlalu dini untuk memastikan arah sikap Eropa secara keseluruhan.

Dalam konteks ini, kondisi tersebut dapat dibaca sebagai indikasi melemahnya posisi Amerika Serikat dalam membangun konsensus global.

Menuju Titik Nadir atau Sekadar Transisi?

Pertanyaannya kemudian, apakah semua ini merupakan tanda bahwa Amerika Serikat sedang menuju titik nadir sebagai pemimpin peradaban Barat?

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafi’i Ma’arif, pernah menyatakan bahwa dunia Arab berada di titik nadir peradaban—ditandai dengan ketidakstabilan dan kelemahan internal. Jika menggunakan logika terbalik (mafhum mukhalafah), sebagian pihak menilai bahwa kondisi yang kini dialami AS dan sekutunya dapat dibaca sebagai gejala serupa.

Namun, pendekatan ini tentu tidak bisa diterapkan secara sederhana. Meski demikian, secara konseptual, ketidakstabilan internal memang kerap menjadi indikator awal melemahnya suatu peradaban.

Saat ini, Barat tidak lagi sepenuhnya tunggal. Terdapat perbedaan pendekatan antara Amerika Serikat dan Eropa, bahkan hingga Australia. Dalam sejarah, fenomena serupa pernah terjadi pada peradaban Romawi yang terpecah menjadi Romawi Barat dan Romawi Timur.

Ungkapan bahwa “peradaban besar tidak dibunuh, melainkan mengakhiri dirinya sendiri” menjadi relevan untuk menggambarkan kondisi ini. Di bawah kepemimpinan Donald Trump, sejumlah kebijakan dinilai kontroversial dan kurang mempertimbangkan dinamika politik serta hukum domestik, termasuk keputusan menyerang Iran tanpa melalui mekanisme kongres.

Dalam sejarah peradaban, kepemimpinan yang lemah—baik secara moral maupun dalam penentuan prioritas—sering menjadi faktor utama keruntuhan. Ketika kepentingan pribadi lebih dominan dibanding kepentingan publik, kepercayaan (trust) pun mulai terkikis.

Jika skenario pelemahan ini berlanjut, dampaknya berpotensi meluas hingga ke sistem ekonomi global. Dominasi dolar AS bisa saja melemah, sementara mata uang lain seperti yuan berpotensi menguat, meski belum tentu secara permanen.

Sejumlah faktor internal juga memperkuat tekanan terhadap Amerika Serikat, termasuk penolakan sebagian masyarakat terhadap kebijakan perang. Hal ini menunjukkan adanya problem domestik yang tidak bisa diabaikan.

Dalam bukunya Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed, Jared Diamond menjelaskan bahwa runtuhnya peradaban bukanlah misteri, melainkan konsekuensi dari pilihan manusia dalam mengelola sumber daya dan relasi sosial.

Jika menilik ke belakang, sebelum konflik dengan Iran, kebijakan luar negeri AS juga menuai kontroversi, termasuk terkait Venezuela. Motif perebutan sumber daya, seperti minyak, kerap menjadi benang merah dalam dinamika ini.

Pola semacam ini memiliki kemiripan dengan penyebab runtuhnya peradaban-peradaban besar di masa lalu—yakni perebutan sumber daya yang berujung konflik berkepanjangan.

Meski berbagai indikasi tersebut tampak relevan secara logika, tetap diperlukan kehati-hatian dalam menarik kesimpulan. Namun, sebagaimana ditegaskan Jared Diamond, proses kemunduran peradaban bukanlah sesuatu yang sulit dipahami.*

Pegiat Literasi Hidayatullah

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AS-IsraelHeadlineirankekuatan globalperang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kendaraan Dajjal di Akhir Zaman
Tulisan selanjutnya Menjaga Spirit Ramadhan di Tengah Konflik Global

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli

Berita
15 Oktober 2026 14:10
Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
Mesir Tegaskan Siap Bela Arab Saudi di Tengah Meningkatnya Serangan Houthi
Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pria Sri Lanka Penghina Nabi Muhammad
Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon

Terbaru

  • Mesir Tegaskan Siap Bela Arab Saudi di Tengah Meningkatnya Serangan Houthi
  • Arab Saudi Tembak Jatuh 4 Drone di Riyadh dan Dua Wilayah Lain
  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

7 Agustus 2026 17:00
Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?