Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Menjaga Spirit Ramadhan di Tengah Konflik Global

Ahmad
Terakhir diupdate: 25 Maret 2026 21:50 9:50 pm
Ahmad
Dipublikasikan 25 Maret 2026 21:49
Bagikan
Bagikan

Spirit Lailatul Qadar tidak berhenti di Ramadan, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata membangun ketahanan dan peradaban yang lebih adil.

Daftar isi
  • Menjaga Spirit, Bukan Sekadar Memori
  • Dari Ibadah Menuju Peradaban
        • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Oleh: Moehammad Amar Ma’ruf

Hidayatullah.com | RAMADHAN telah berlalu, namun jejak spiritualnya semestinya tidak ikut usai. Lailatul Qadar—malam yang lebih baik dari seribu bulan—bukan hanya momentum ibadah sesaat, melainkan titik balik kesadaran manusia untuk menjalani kehidupan dengan arah yang lebih bermakna.

Di saat yang sama, dunia masih dihadapkan pada konflik yang terus memanas, terutama di kawasan Timur Tengah. Ketegangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa peradaban modern masih dibayangi oleh logika kekuatan dan perebutan kepentingan.

Di sinilah relevansi Lailatul Qadar pasca-Ramadhan menemukan maknanya: sebagai sumber nilai untuk membaca realitas, bukan sekadar ritual yang berlalu.

Baca Juga

Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

Kesadaran akan Hari Akhir mengajarkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan. Setiap tindakan manusia—baik dalam skala individu maupun negara—akan dimintai pertanggungjawaban. Nilai ini seharusnya menjadi rem moral dalam setiap keputusan, termasuk dalam urusan politik dan konflik global.

Namun realitas menunjukkan hal sebaliknya. Kemajuan teknologi dan kekuatan militer sering kali justru memperkuat dominasi, bukan keadilan. Konsep “yang kuat bertahan” kerap disalahartikan menjadi legitimasi untuk menyingkirkan yang lemah.

Padahal, perbedaan antarbangsa sejatinya adalah ruang untuk saling melengkapi, bukan saling meniadakan.

Menjaga Spirit, Bukan Sekadar Memori

Pasca-Ramadhan, tantangan terbesar umat bukanlah mengingat Lailatul Qadar, tetapi menjaga nilai-nilainya tetap hidup. Nilai keikhlasan, pengendalian diri, dan kepedulian sosial harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam cara kita merespons dinamika global.

Indonesia sebagai bangsa yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa memiliki peluang besar untuk menunjukkan arah berbeda—yakni membangun kekuatan tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.

Dalam konteks ini, ada beberapa agenda yang layak menjadi perhatian bersama:

Pertama, memperkuat kemandirian energi dan ekonomi dengan mengelola sumber daya alam secara bijak dan berkelanjutan. Ketergantungan pada pihak luar harus dikurangi agar bangsa ini lebih tangguh menghadapi gejolak global.

Kedua, mendorong inovasi di berbagai sektor—pendidikan, teknologi, dan pertahanan—yang berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat. Inovasi tidak cukup hanya maju, tetapi juga harus adil dan dapat diakses.

Ketiga, mengoptimalkan potensi lokal, termasuk biodiversitas, sebagai kekuatan strategis. Pengelolaan komoditas seperti aren, jagung, dan tanaman energi lainnya perlu didorong hingga ke tingkat akar rumput.

Keempat, memperbaiki tata kelola pemerintahan agar lebih transparan dan bebas dari praktik korupsi. Kepercayaan publik adalah fondasi utama dalam membangun ketahanan nasional.

Kelima, membangun kesadaran kolektif bahwa setiap individu memiliki peran. Dari pemimpin hingga masyarakat, semua dituntut untuk berkontribusi sesuai kapasitasnya.

Dari Ibadah Menuju Peradaban

Lailatul Qadar sejatinya bukan hanya tentang keheningan malam, tetapi tentang lahirnya keputusan-keputusan besar dalam hidup manusia. Jika Ramadan adalah proses penyucian, maka pasca-Ramadan adalah ujian konsistensi.

Dunia yang sedang diliputi konflik membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan—ia membutuhkan kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan itu lahir dari hati yang terhubung dengan nilai-nilai Ilahi.

Karena itu, menjaga spirit Lailatul Qadar berarti memastikan bahwa setiap langkah ke depan tidak hanya didorong oleh kepentingan, tetapi juga oleh tanggung jawab moral.

Bangsa ini tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah kesadaran untuk bergerak bersama, menjadikan nilai spiritual sebagai fondasi, dan menjawab tantangan zaman dengan solusi yang berkeadaban. Wallahu a’lam bish-shawab.*

Penulis Buku Katulistiwa

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya AS-Israel vs Iran: Sinyal Pergeseran Kekuatan Global ?
Tulisan selanjutnya Volkswagen Berencana Ubah Pabriknya untuk Produksi Komponen Militer Israel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

Berita
18 Juli 2026 10:12
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

3 Juni 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?