Sambungan dari artikel PERTAMA
Oleh: Fais Al Fatih
KELOMPOK militer “Jewish Terrorist Gang” itu dipimpin oleh seorang lelaki bernama Menachem Begin. Kelak nanti, ia mendirikan Partai Likud (yang saat ini dipimpin oleh PM Israel, Netanyahu) dan menjadi perdana menteri Israel ke-6 (1977-1983). Begin – bersama Anwar Sadat – pada tahun 1978 mendapatkan nobel perdamaian atas inisiasi perdamaian antara Israel dan Mesir yang dilakukan di Camp David.
Malapetaka Dimulai
Setelah Inggris cuci tangan dari permasalahan ini, mereka pun pergi meninggalkan tanah Palestina. Pada hari itu juga, gerakan Zionis mulai merancang deklarasi pendirian negara Israel. Esok harinya, negara tetangga yang notabene berbangsa Arab juga mendeklarasikan penolakan mereka terhadap Israel serta berencana untuk memerangi dan menginvasi Israel.
Perang 1948 pun pecah. Walaupun banyak negara Arab yang melakukan penyerangan, kemenangan malah jatuh di tangan Israel yang didukung penuh oleh pihak Amerika Serikat. Faktor lain yang menyebabkan kemenangan ada di tangan Israel adalah lemahnya leadership dan koordinasi di pihak pasukan Arab. Minimnya pengalaman tempur juga menambah parahnya kekalahan ini.
Selain itu juga, beberapa tentara Arab berperang melawan Israel bukan dengan tujuan untuk meninggikan kalimat Allah. Kalahnya pasukan Arab disebabkan berperang demi nasionalisme Arab, demi fanatisme golongan, hawa nafsu, pemikiran Arab dan prinsip-prinsip baru yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan Islam. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS: Muhammad: 7)
Alhasil, pasukan Zionis yang sudah terlatih secara militer dan memiliki persenjataan yang lengkap dan modern berhasil menguasai 77% tanah Palestina yang luas keseruhannya adalah 20.770 kilometer persegi. David Ben Gurion, PM Israel saat itu menginstruksikan tentaranya untuk mengusir dan membersihkan tanah Palestina dari bangsa Arab. Sekitar 700 ribuan penduduk Palestina pun diusir paksa. 475 dari 585 desa Palestina diduduki. Bangunan mereka diruntuhkan dan dibumihanguskan. Kota-kota besar seperti Haiffa, Yafa, Tiberias dan kota lainnya dikosongkan dan diyahudisasi. Nama-nama tempat, desa atau kota yang sebelumnya berbau Arab, diganti dengan bahasa Ibrani. Proyek yahudisasi ini bertujuan agar generasi Palestina tidak mengetahui dimana nenek moyangnya dulu tinggal dan berasal.
Gelombang pengungsi mengalir deras. Pembantaian terhadap warga yang bertahan dilakukan secara besar-besaran. Sebelum perang 1948, Arab Palestina berjumlah 1 juta jiwa. Dan setelah berakhirnya perang pada tahun 1949, sekitar 700 ribuan penduduk Palestina menjadi asing di negeri sendiri, mengungsi ke negara-negara tetangga. Dan tersisa 150ribuan saja di tanah Palestina yang dikuasai Israel saat itu.
Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa begitu mudahnya Israel menguasai sebagian besar tanah Palestina, membantai dan mengusir sebagian besar penduduknya. Salah satu penyebab utamanya adalah, pihak Israel telah melakukan mata-mata terhadap semua desa di Palestina sejak lama, mereka memanfaatkan keterbukaan dan kebaikan penduduk Palestina terhadap tamu yang datang kepada mereka.
Setelah itu mengetahui kondisi masing-masing desa, apa saja kekuatan dan kelemahannya, mereka pun membuat perencanaan yang matang untuk melakukan penyerangan terhadap semua desa yang ada di Palestina. Bagaimana strategi menduduki dan menguasai, dan bagaimana mengusir dan melawan penduduk semua desa telah dirancang dengan rapi dan tersembunyi.
Wilayah Palestina yang tersisa di wilayah Tepi Barat secara resmi digabungkan bersama Yordania. Jalur Gaza juga digabungkan secara administrasi bersama pemerintahan Mesir. PBB di bawah desakan Amerika Serikat kemudian menyetujui masuknya Israel sebagai salah satu anggotanya dengan syarat memperbolehkan para pengungsi Palestina untuk kembali ke kampung halaman mereka. Namun anehnya, hingga saat ini syarat itu tak pernah dipenuhi oleh pihak Zionis Israel!
Menyikapi hari Al-Nakba
Entitas Israel yang didukung secara penuh oleh Amerika Serikat ini berdiri di atas kezhaliman, dan prinsip-prinsip rasis dan dogma-dogma agama Yahudi yang telah diselewengkan. Entitas ini juga tidak menentukan batas-batas negaranya dengan jelas, sebab mereka memimpikan negeri yang luas terbentang di antara dua sungai sebagaimana tergambar pada bendera mereka, yakni sungai Nil di Mesir dan sungai Eufrat di Iraq.
Malapetaka ini sebenarnya tidak menimpa bangsa Palestina saja, melainkan juga seluruh umat Islam sedunia. Sebab sejak saat itu, entitas ini juga menginjak-injak kesucian Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama umat Islam. Mereka ingin meruntuhkannya dan menggantinya dengan bangunan impian mereka, kuil Sulaiman. Pertanyaannya, akankah kita membiarkan malapetaka itu terus terjadi? Hasbunallaahu wani’mal wakiil.*
Referensi
- Abdullah Nashih Ulwan. 2012. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi. Solo: Pustaka Arafah
- Ali Muhammad ash-Shalabi. 2011. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmani. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar
- Al-Jazeera. 29 Mei 2013. Al-Nakba: Series on the Palestinian ‘catastrophe’ of 1948 that led to dispossession and conflict that still endures. url: http://www.aljazeera.com/programmes/specialseries/2013/05/20135612348774619.html?hc_location=ufi
- Ferry Nur. 2010. Mavi Marmara Menembus Gaza. Jakarta: Gema Insani
- Firas Alkhateeb. 23 April 2013. The Nakba: The Palestinian Catastrophe of 1948. url: http://lostislamichistory.com/the-nakba-the-palestinian-catastrophe-of-1948/
- Herry Nurdi. Jejak Freemason & Zionis di Indonesia. Jakarta: Cakrawala Publishing