Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Kurikulum Pendidikan Kita dan ‘Mental Industri’

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Februari 2021 10:00 10:00 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Februari 2021 07:54
Bagikan
Ilustrasi
Bagikan

Oleh: Astri Kusuma Hayati

Hidayatullah.com | SALAH satu strategi terbaru yang diluncurkan Kemendikbud untuk menyelaraskan pendidikan vokasi dengan dunia usaha/industri. Strategi ini diaplikasikan dalam bentuk modifikasi kurikulum SMK. Antara lain pelajaran akademik dan teori dikontekstualisasikan menjadi vokasional; jangka waktu prakerin diperpanjang  minimal 1 semester atau lebih; terdapat pelajaran project base learning dan ide kreatif kewirausahaan selama 3 semester; menyediakan pelajaran pilihan selama 3 semester; dan terdapat co curiculer wajib selama enam jam dalam seminggu di tiap semester.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto menjelaskan, strategi ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan keterserapan lulusan vokasi. Spesifiknya agar bonus demografi 2020-2030 dapat memenuhi pangsa pasar usaha/industri. Sehingga harus menjadikan SMK sebagai pusat keunggulan (center of excellent) (www.vokasi.kemdikbud.go.id, 11 Januari 2021).

Berbagai gebrakan revitalisasi SMK dilakukan oleh pemerintah dalam beberapa tahun terakhir ini. Mulai dari perintisan bidang keahlian SMK terbaru sesuai prioritas pembangunan nasional seperti kemaritiman, pariwisata, pertanian, teknologi rekayasa dan sebagainya; peningkatan profesionalitas tenaga kependidikan SMK; kemitraaan SMK dengan dunia usaha/industri dan perguruan tinggi; standarisasi sarana prasarana SMK; termasuk pemuktahiran kurikulum.

Pemerintah memberikan perhatian besar terhadap peran SMK dalam dunia pendidikan. Tapi ternyata semua itu bermuara pada target pemenuhan kebutuhan industri.

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

Pendidikan hanya dibangun dengan pendekatan job based learning. Desain pendidikan pun dikembangkan berangkat dari pengakuan dunia usaha/industri.

Tak bisa dipungkiri, tenaga kerja murah sangat dibutuhkan oleh pemilik kapital (produsen) untuk menekan biaya produksi barang atau jasa. Apalagi di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang. Ketika hal tersebut bisa diperoleh dari lulusan SMK, akhirnya pemerintah pun mendukung dan menjadi fasilitatornya. Harapannya dapat menekan lonjakan angka pengangguran. Pendidikan pun hanya terbatas sebagai pencetak kelas pekerja. Bukan kelas pemikir, cendiakawan, atau ahli. Yang seperti ini akhirnya hanya menjadikan Indonesia negara ‘kelas dua’. Didominasi pekerja. Bukan negara yang bangkit dan maju karena keunggulan ilmu dan tsaqafah generasinya.

Ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan hari ini sudah bergeser. Dari pencetak generasi berilmu dan bertsaqafah unggul dan memberi kemanfaatan pada umat, menjadi pencetak ‘mesin’ industri. Orientasi dan standarnya hanya materi. Ini adalah paradigma pendidikan kapitalis. Pendidikan menjadi kawah candradimuka materi. Mulai dari hulu hingga hilir. Mulai dari komersialisasi input pendidikan hingga ‘industrialisasi’ output nya. Semua menyembah materi, berdampak mental industi, ukuranya, ungtung-rugi dan duit saja. Sangat miris.

Misi Agung Pendidikan Islam  

Rasulullah ﷺ bersabda :

طَلَبُ اْلعِلْمْ فَرِثْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim.” (HR. Ibnu Majah)

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Artinya : Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Dari hadits-hadits di atas, Islam memandang pendidikan sebagai kewajiban mendasar setiap manusia yang harus dipenuhi. Tidak hanya pendidikan terkait tsaqafah agama, tetapi juga ilmu sains teknologi. Menjalani pendidikan bukan sekedar mendapat ijazah dan pekerjaan, tetapi tuntunan keberkahan tsaqafah dan ilmu tersebut dalam kehidupan. Artinya pelaksanaan pendidikan karena dorongan keimanan.

Misi besar pendidikannya mencetak generasi yang mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan tidak hanya dunia tapi yang terutama di akhirat. Al-Ghazali menjelaskan bahwa kesempurnaan manusia dicapai melalui ilmu, untuk memberi kebahagiaan di dunia, juga sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah.

Misi pendidikan seperti ini terintegrasi dalam kurikulum dan metode pembelajaran yang diterapkan. Semua berlandaskan pada akidah Islam. Di pundak negara lah kewajiban menyelenggarakan pendidikan bermisi seperti ini seharusnya.  Agar negeri ini lahir pemikir, cendiakawan dan ahli tidak hanya ahli saja, tapi yang bertakwa dan siap menjadi pemecah masalah-masalah keumatan. Wallahu a’lam bish-shawabi.*

Penulis minat masalah sosial

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kurikulumPendidikanpendidikan akidahSMK
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Belgia Adili 14 Orang Terkait Serangan di Paris 2015
Tulisan selanjutnya Penembakan polisi Terbitkan Surat Telegram, Kapolri Berjanji Memecat Tidak Hormat Oknum Polisi Pelaku Penembakan di RM Café

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap

Berita
14 Juli 2026 19:51
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Problem Pendidikan Islam

28 Desember 2022 11:20
Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?