Di antara kepentingan utama Amerika Serikat di Timur Tengah mengamankan akses strategis minyak, melindungi kedaulatan penjajah Israel, dan membendung gerakan Islam
Oleh: Ummu Nazry Najmi Nafiz
Hidayatullah.com | SELEPAS runtuhnya negara adidaya Daulah Utsmaniyah (Ottoman), lahirlah negara bangsa yang sangat banyak dari tanah bekas kekuasaannya. Setidaknya ada lebih dari 50 negara dan bangsa yang tersekat batas nasionalisme dan kesukuan, sebagai gonimah dan menjadi hidangan lezat negara pemenang Perang Dunia II, AS dan sekutunya.
Runtuhnya Daulah Utsmaniyah, seolah menjadi rebutan negara-negara Barat, yang saling berebut untuk saling bisa menguasai tanah kaya. Pada abad ke- 19, kekuatan kolonial Eropa mulai mencaplok secara perlahan-lahan wilayah Timur Tengah.
Ini bukanlah awal dari kontak antara Barat dan Timur Tengah – hubungan perdagangan dan politik mendahului kontak ini – tetapi keadaan telah berubah jauh di hadapan kekuatan politik, ekonomi dan militer Eropa yang luar biasa. Prancis telah tiba di Mesir pada tahun 1798, Inggris mendirikan pos di Jazirah Arab pada tahun 1799.
Ujungnya, Prancis mencaplok Aljazair pada tahun 1834 dan kemudian Inggris menguasai Mesir dari tahun 1882 hingga 1922. Dalam melukiskan gambaran ekspansi kolonial Eropa ini, juga penting untuk dicatat imperialisme Rusia dan Inggris di Iran selama pertengahan hingga akhir abad 19.
Seiring keberhasilan meruntuhkan Daulah Islamiyah, dan mendorong Negara bangsa, Barat mendorong lahirya tokoh-tokoh sekuler dan proyek-proyek politik primordial.
Dalam beberapa kasus, ini melibatkan nasionalisme sekuler yang tegas yang menurunkan semua simbol dan praktik keagamaan ke dalam rumah; yang paling menonjol adalah keberharilan, Mustafa Kamal Ataturk, pendiri Republik Turki Modern, bahkan bersikeras menggunakan bahasa Latin daripada alfabet Arab untuk menulis dalam bahasa Turki, untuk menjauhkan republik sekuler Turki dari masa lalunya yang Islami.
Ataturk tidak sendirian, rezim nasionalis sekuler muncul di Iran di bawah keluarga Pahlavi mulai tahun 1925. Kemudia di Mesir muncul di bawah gerakan Perwira Bebas tahun 1952, dan di Irak dengan berdirinya Republik pada tahun 1958.
Kebijakan AS di Timur Tengah
Timur Tengah telah menjadi fokus utama kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS). Setelah Perang Dunia I dan Perang Dunia II, AS kehadiran Amerika Serikat di Timur Tengah bahkan lebih nyata, hal ini dicapai dengan terus mengeksplorasi motif ekonomi, strategis, dan politik yang.
Secara khusus, kepentingan utama Amerika Serikat di Timur Tengah termasuk mengamankan akses strategis ke minyak di kawasan Teluk, mendukung dan melindungi kedaulatan penjajah Israel, mempertahankan pangkalan militer Amerika Serikat, membela negara-negara klien dan rezim yang bersahabat, dan yang tak kalah penting membendung gerakan Islam.
Karenanya, AS senantiasa waspada akan kebangkitan kembali Islam politik di tengah-tengah masyarakat muslim di negeri-negeri kaum muslimin. Sebab, secara strategi politik, AS getol sekali menjauhkan masyarakat muslim dari ajaran agama Islam dengan berbagai propaganda yang menyesatkan yang ditanamkan di tengah-tengah masyarakat muslim dinegeri-negeri kaum muslimin, utamanya di Timur Tengah.
AS memperlakukan masyarakat muslim di kawasan Timur Tengah, berbeda dengan negeri lainnya. Sebab posisi dan potensi yang dimiliki Timur Tengah yang sangat menggiurkan, tak lepas dari posisinya sebagai sentral atau pusat transportasi dunia yang menghubungkan tiga benua; Asia, Afrika dan Eropa, yang menjadi jalur perdagangan terpenting dan tersibuk dunia.
Selain sumber daya alam berupa minyak mentah yang melimpah ruah, yang menjadikannya harus ditundukan dan dikuasai terlebih dahulu untuk disedot kekayaanannya agar bisa dinikmati sendiri oleh AS dan sekutunya.
Sebab itu AS menjadikan Islam dan kebangkitannya menjadi topik utama yang terus diwaspadai dan dilemahkan. Termasuk kemungkinan kebangkitannya kembali di wilayah Timur Tengah, sebab bisa menjadi faktor utama penghalang AS dan sekutunya dalam menikmati lezatnya negeri-negeri kaum muslimin di Timur Tengah.
Karena itu upaya pertama yang AS lakukan di Timur Tengah adalah bagaimana menjadikan wilayah Timur Tengah menjadi negeri-negeri sekuler seperti AS, dengan menanamkan para agennya dikursi pemerintahan dan kekuasaan di negeri-negeri kaum muslimin, yang bisa menjalankan misi sekulerisasi negeri-negeri muslim dengan imbalan jabatan dan kekuasaan semu.
Kemudian AS melakukan upaya menancapkan kebijakan-kebijakan yang memaksa negeri-negeri kaum muslimin di Timur Tengah untuk menjauh dari aspek militer dari kekuasaan kaum muslimin dan melemahkannya, termasuk memandulkan setiap upaya negeri-negeri kaum muslimin untuk memiliki dan mengembangkan senjata nuklir. Sehingga seluruh aktivitas militer dan pengembangan persenjataan di negeri-negeri kaum muslimin harus tunduk pada aturan dan ijin dari AS.
The Washington Post pernah menurunkan tulisan sejarawan militer dan mantan Kolonel Angkatan Darat AS Andrew Bacevich, tentang aksi bombardir Amerika Serikat (AS) di negeri-negeri Muslim sejak tahun 1980.
Ia mencatat, AS telah mengambil kebijakan militer dan ‘menyerang negeri Muslim’ berikut ini: Iran (1980, 1987-1988), Libya (1981, 1986, 1989, 2011), Lebanon (1983), Kuwait (1991), Iraq (1991-2011, 2014-), Somalia (1992-1993 , 2007-), Bosnia (1995), Arab Saudi (1991, 1996), Afghanistan (1998, 2001-), Sudan (1998), Kosovo (1999), Yaman (2000, 2002-), Pakistan (2004-) dan Suriah (2011).
Tahun 2017, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pernah secara jujur sedang mengincar kekayaan sumber daya mineral Afghanistan untuk membayar keterlibatannya dalam perang di negara tersebut yang sudah berlangsung 16 tahun. Dana ini akan dilakukan untuk membiayai pekerjaan rekonstruksi yang sudah membengkak hingga 117 miliar dolar.
Apa yang disampaikan Donald Trump ini merupakan hasil kajian dari Survei Geologi Amerika Serikat satu dekade lalu yang mengidentifikasikan adanya cadangan sumber daya mineral yang kemudian diperkirakan bernilai 1 triliun dolar. Tidak hanya menguras harta milik negeri Muslim, AS juga menumbuhkan dan memelihara konflik-konflik di Timur Tengah, yang akan terus bergejolak dan memeras energi kaum muslimin akibat konflik bersaudara yang diciptakan AS dan sekutunya.
Sehingga konflik yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin berhasil menjadikan dunia internasional (AS dan sekutunya dengan lembaga-lembaga internasional buatan mereka), masuk mengintervensi sambil menjajakan senjata dan perlengkapan militer atas nama batuan militer yang pada faktanya harus dibeli oleh kaum muslimin dan digunakan untuk membunuhi saudaranya sendiri sesama kaum muslimin.
Alhasil kekayaan Timur Tengah terkuras habis dan nyawa kaum muslimin pun banyak yang melayang tanpa hak. Alhasil jadilah seluruh wilayah Timur Tengah terus bergejolak hingga hari ini. Jadilah Timur Tengah menjadi kawasan konflik yang ada dibawah kendali dunia internasional dibawah pimpinan AS.
Faktanya, AS tidak sendiri dalam menikmati kekayaan Timur Tengah, bersamanya ada 7 negara besar lainnya, yang tergabung dalam negara G-8, yang turut serta menikmati kekayaan negeri-negeri kaum muslimin di Timur Tengah. Sedangkan penduduk negeri-negeri kaum muslimin di Timur Tengah dibiarkan hidup menderita dalam pusaran konflik bersaudara yang tidak pernah berkesudahan.
Sesama kaum muslimin saling membunuh, sedangkan AS dan sekutunya tertawa terbahak-bahak menyaksikan keterpurukan yang dialami seluruh kaum muslimin di negeri-negeri kaum muslimin sambil menyantap hidangan lezat kekayaan negeri-negeri kaum muslimin yang seolah tidak pernah habis, tanpa rasa belas kasihan sedikitpun.
Demikianlah, hubungan antara AS dengan Timur Tengah faktanya adalah hubungan antara penjajah dan yang terjajah. Sebab AS pada faktanya berhasil melakukan penjajahan di Timur Tengah dengan dikte dan doktrin yang meliputi seluruh wilayah Timur Tengah yang jika tidak dipenuhi maka AS tak segan untuk mengirimkan kekuatan militernya untuk mengintervensi. Juga AS menciptakan konflik dan keterbelakangan masyarakat muslim dinegeri-negeri kaum muslimin terutama di Timur Tengah tanpa henti. Dan disaat yang sama AS berhasil memboyong seluruh kekayaan kaum muslimin untuk dinikmati secara rakus oleh AS dan negara-negara sekutunya.
Dan keadaan ini akan senantiasa berlangsung demikian terus-menerus, yaitu keterjajahan kawasan Timur Tengah oleh AS, selama kaum muslimin belum menyadari akan kekeliruannya yaitu menjadikan AS sebagai role model kebijakan publik dalam mengatur masyarakatnya. Atau selama kaum muslimin utamanya di Timur Tengah menjadikan sekuler menjadi bagian falsafah dalam kehidupannya. Kaum muslimin akan terus berada dalam keterperosokannya, akibat mengikuti doktrin AS dan memilih AS sebagai pemimpinnya.
Padahal AS dan sekutunya jelas-jelas menjadikan Islam sebagai musuh utama mereka. Maka selayaknya kaum muslimin pun seharusnya menjadikan sekuler sebagai musuh utama mereka, bukan malah mengikuti bahkan menerapkannya dengan sukarela di negeri-negerinya, yang notabene adalah negeri-negeri kaum muslmin yang dulu pernah menerapkan islam sebagai sistem hidupnya dan mampu menaungi dunia dalam kebaikan selama lebih dari 14 abad lamanya. Wallahualam.*
Pemerhati masalah sosial