Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Atasi Islamofobia dalam Pemilu Amerika Serikat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Februari 2012 05:30 5:30 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Februari 2012 05:30
Bagikan
Bagikan

oleh: Muqtedar Khan

ISLAM telah menjadi bagian penting wacana di Amerika jelang pemilu pusat 2012 dan para kandidat di mana-mana tampak ingin menegaskan pendapatnya tentang Islam guna meraup dukungan politik. Di seantero negeri, meningkatnya Islamofobia telah menyulitkan sebagian Muslim untuk membangun masjid dan mengamalkan Islam, meski hak mereka untuk melakukan itu telah termaktub dalam Amandemen Pertama Konstitusi AS.

Dalam persaingan nominasi presiden sekarang ini, beberapa kandidat mencitrakan Islam dan Muslim secara negatif demi melejitkan popularitas mereka di kalangan para warga yang mereka anggap memiliki rasa curiga terhadap Muslim ataupun Islam. Misalnya, jika dirinya terpilih, mantan kandidat presiden Herman Cain berjanji tidak akan menunjuk seorang Muslim pun dalam kabinetnya.

Ini mewakili tren belakangan ini. Pada 2010, beberapa kandidat anggota Kongres dari Partai Republik menggunakan rencana pembangunan pusat kegiatan Muslim Park51, yang dicap sebagai “masjid ground-zero”, dan ketakutan akan syariat Islam, untuk menggalang para pemilih. Dan para tokoh Kongres terpilih, seperti Peter King (R-NY), telah menggunakan penunjukan mereka di komite untuk membangun argumen bahwa Muslim Amerika sangatlah radikal, sebuah fakta yang berulang kali dibantah oleh beberapa survei dan laporan penelitian.

Namun, ada orang-orang di Partai Republik yang menghindari retorika ini, seperti kandidat presiden Mitt Romney dan Ron Paul, serta tokoh lain seperti Gubernur New Jersey, Chris Christie, yang menunjuk seorang Muslim, Sohail Mohammed, sebagai seorang hakim negara bagian meski ada banyak yang menentang.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Toleransi individu atau ketakutan terhadap kelompok berbeda tidak terbatas pada elit politik. Sebuah penelitian pada September 2011 yang diadakan oleh dua lembaga think tank, Brookings Institution dan Public Religion Research Institute, menemukan bahwa lebih dari 47 persen orang Amerika mengatakan Islam dan nilai-nilai Amerika tidaklah selaras dan kurang lebih sebanyak itu pula yang mengungkapkan ketidaknyamanan dengan Islam di Amerika.

Banyak kejadian telah menimbulkan rasa tidak suka terhadap Islam dan Muslim dalam benak sebagian orang Amerika: serangan 11 September 2001, “perang atas teror” selama satu dasawarsa berikutnya yang mencakup aksi militer Amerika di Irak dan Afghanistan, beberapa upaya serangan teroris oleh orang-orang Muslim di Amerika serta pemberitaan negatif tentang kejadian politik dan sosial di dunia Muslim. Manifestasi Islamofobia sekarang ini merupakan dampak dari rentetan yang sangat kompleks berbagai kejadian serta narasi yang muncul sebagai akibat dari kejadian-kejadian ini.

Namun, alih-alih menyerang Muslim, para pemimpin Amerika semestinya menunjukkan potensi mereka untuk menjalankan tugas memerangi intoleransi. Lagi pula, Amerika memang didasarkan pada cita-cita toleransi agama, pluralisme dan kebebasan berdemokrasi.

Tidak sulit untuk mencari contoh orang-orang Muslim Amerika yang berintegrasi dengan baik dan menjadi aset positif Amerika. Sebuah penelitian besar yang dipublikasikan oleh Gallup pada Agustus 2011 menunjukkan bahwa Muslim Amerika sangat terintegrasi dan menjadi warganegara yang loyal. Bahkan, penelitian ini juga menunjukkan bahwa Islamofobia tidak mempengaruhi kesejahteraan ekonomi sebagian besar Muslim Amerika.

Saya mengerti mengapa beberapa kandidat presiden 2012 tergoda untuk mengeksploitasi intoleransi karena sikap negatif terhadap Islam di kalangan warga Partai Republik lebih tinggi dari tren nasional secara keseluruhan, menurut jajak pendapat Brookings pada September 2011. Tetapi ini juga sebuah peluang bagi para kandidat untuk memperlihatkan kalau mereka benar-benar negarawan, bahwa mereka mengerti semangat Konstitusi AS dan bahwa mereka bertekad bulat menjunjung tinggi konstitusi itu terlepas dari apa yang direkomendasikan oleh para penasihat strategi kampanye.

Para kandidat presiden tidak perlu menuruti pengikut bersikap paling rendah. Banyak para tokoh politik dan agama non-Muslim, baik yang awam ataupun ahli agama, telah terlibat dalam dialog antaragama yang sistematis dengan orang-orang Muslim dalam beberapa tahun belakangan. Banyak di antara mereka telah membela rekan Muslim mereka dan Muslim Amerika secara umum ketika kejadian Islamofobia terjadi, biasanya dalam bentuk penentangan pembangunan masjid atau tudingan salah kaprah atas tokoh-tokoh Muslim.

Jajaran tokoh konservatif juga dipenuhi oleh para tokoh yang sadar, seperti Gubernur Christie dan pastor Kristen penginjil Rick Warren, yang telah berhasil menjalin hubungan baik dengan Muslim Amerika.

Warren, yang memimpin sebuah gereja besar di California selatan, bicara pada konferensi tahunan Islamic Society of North America pada Juli 2011, kendati kehadirannya mendapat kritikan. Dalam konferensi tersebut, Warren menyeru Muslim dan Kristen untuk bekerja bersama-sama.

Para kandidat dari Partai Republik semestinya mencontoh para tokoh ini dan keahlian mereka. Dengan menunjukkan kemampuan sekelas negarawan dalam memerangi intoleransi, hasilnya akan bagus bagi kampanye para kandidat, serta bagi hubungan antaragama di Amerika pada umumnya.*

Dr. Muqtedar Khan ialah guru besar madya di University of Delaware dan seorang peneliti Institute for Social Policy and Understanding. Situsnya adalah www.ijtihad.org. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Terjemahan Al-Quran Bahasa China Pertama “Versi Syiah”
Tulisan selanjutnya Giliran Wanita Dilecehkan di Negeri Sendiri Kita Bungkam!

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Berita
18 Juli 2026 10:26
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Terbaru

  • AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
  • Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
  • Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
  • Kelompok Houthi Nyatakan Blokade Laut terhadap Arab Saudi
  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?