Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Enam Tahun Mavi Marmara: Antara Palestina dan Revolusi Suriah [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 Juni 2016 08:01 8:01 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 Juni 2016 08:44
Bagikan
Bagikan

Oleh: Surya Fachrizal Ginting

 

Hari-hari di awal bulanJuni 2010, enam tahun lalu, Saya menghabiskanwaktu di atas kasur rumah sakit sekolah militer Rambam, Haifa. Satu Wilayah di utara Palestina, yang hingga kini dijajah Zionis “Israel”. Berbagai selang melilit tubuh, tertancap di hidung, di dada, di bawah ketiak, dan di lengan.

Teringat peristiwa di waktu Subuh beberapa hari sebelumnya, Kafilah kebebasan, terdiridari 6 kapal laut, dihajar oleh komando Angkatan Laut Zionis. Kala itu, Zionis menggempur konvoi masyarakat sipil tak bersenjata dengan empat kapal perang, dua kapal selam, 30 kapal zodiak, plus tiga heli tempur. Sembilan aktivis tewas, lebih dari lima puluh luka berat dan ringat, dan seorang wafat usai mengalami koma selama empat tahun sejak serangan itu.

Bila dibayangkan kembali, peristiwa itu memang cukup mengerikan. Tetapi wajah-wajah yang teringat dari peristiwa itu bukanlah wajah para penakut. Dengan alat seadanya, mereka mempertahan kapal dari serbuan tentara Zionis yang ingin menguasai kapal. Bisa jadi, atmosfer perjuangan dari para aktivis yang selalu menjaga shalat lima waktu dan tilawah al Quran inilah, yang menulari penulis untuk tetap melakukan peliputan di tengah desing peluru kala itu.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Kini, enam tahun setelah peristiwa itu, Allah kembali memberikan kesempatan kepada Saya merasakan kembali atmosfer itu. Tidak di atas kapal di tengah Laut Mediterrania, tetapi di Jalan Istiklal, Taksim, Istanbul. Salah satu kawasan paling liberal di Istanbul, Turki. Puluhan ribu demonstran berkumpul memperingati serangan terhadap armada kebebasan menuju Gaza itu.

Surya_
Penulis saat tertembak dalam rombongan kapal Mavi Marmara tahun 2010 [hidayatullah.com]
Jika dahulu isi orasi didominasi tema Palestina, kali ini temanya sangat beragam. Tak heran, sebab banyak hal yang terjadi di dunia Islam sejak itu. Orasi menyinggung kudeta di Mesir, Uygur, hingga revolusi rakyat Suriah.

“Mavi Marmara hanya bagian dari perjuangan untuk Palestina. Kita tidak hanya berjuang untuk Gaza, tetapi juga untuk al-Quds, Masjid al-Aqsha, Iraq, Suriah, dan Turkistan Timur,” tegas Bulent Yildirim, presiden lembaga kemanusian IHH, Turki.

Diantara isu-isu yang diangkat dalam orasi, revolusi Suriah adalah isu yang paling sensitif. Revolusi Suriah benar-benar telah membuat garis tegas diantara para relawan dan berbagai organisasi di Mavi Marmara. Jika dalam isu Pelestina kita sekata, dalam krisis Suriah pandangan dan sikap saling bertabrakan. Satu pihak mendukung penuh perjuangan mayoritas rakyat Ahlu sunnah Suriah, pihak lain habis-habisan membela rezim Bashar al Assad, yang hingga saat ini telah membunuh hamper setengah juta rakyat Suriah.

Perbedaan sikap dan pandangan ini juga terjadi di Indonesia. Pihak yang menentang revolusi Suriah, menuduh pihak oposisi dan mujahidin sebagai perpanjangan tangan Zionis “Israel” yang ingin mengadu-domba umat Islam. Teori konspirasi, semisal cita-cita Yahudi membangun tata dunia baru (novus ordo seclorum), selalu diulang-ulang untuk menegasikan perjuangan rakyat Suriah. Sunni dan Syiah diadu. Anehnya, mereka selalu membela Rezim al Assad yang Syiah berserta pendukungnya Iran, Rusia, China, dan Hizbullah.

Sedangkan pihak oposisi selalu dicap takfiri, wahabi, pemberontak, dlsb.

Berbicara soal Zionis-Yahudi-Israel, maka tidak ada pihak dari umat Islam yang paling mengetahuinya selain orang-orang Palestina. Yang selama lebih dari 68 tahun ini memperjuangkan kemerdekaan mereka dari penjajahan “Israel”. Perlawanan bangsa Palestina dari waktu ke waktu semakin maju. Pejuang Palestina, khususnya di Jalur Gaza, bisa menekan Zionis untuk menerima gencatan senjata di Gaza, pada perang Hijaratas-Sijjil (2012) dan perang Ashfal-Ma’kul (2014).

Lalu, bagaimana sikap rakyat Palestina terhadap Revolusi Suriah? Penulis pernah berkesempatan berkunjung ke Gaza pada akhir tahun 2012. Saat itu revolusi Suriah telah berjalan lebih dari setahun. Korban jiwa telah melewati seratus ribu. Selama empat kali shalat Jumat di Gaza, tema khutbah selalu menyinggung perjuangan rakyat Suriah yang sedang diamuk rezim al-Asad.

Rakyat Gaza juga menggalang dana untuk saudara-saudara mereka yang dizalimi di Suriah. Ya, rakyat Gaza yang bertahun-bertahun diblokade masih bisa mengumpulkan bantuan untuk saudara seiman mereka. Yayasan Sahabat Al-Aqsha beberapa kali menyalurkan bantuan rakyat Gaza untuk pengungsi Rohingya di Aceh, juga bencana gempa dan letusan GunungMerapi di Yogyakarta.

Tapi, sikap rakyat Palestina terhadap revolusi Suriah, belum tentu selaras dengan pihak-pihak yang membantunya. Sebab ada pihak yang membantu Palestina, tetapi menganggap bodoh keputusan pejuang Palestina, terutama HAMAS, yang mendukung revolusi rakyat Suriah.

Saat ini, revolusi Suriah telah masuk tahun keenam. Sekitar empat ratus ribu jiwa menjadi korban, dan hampir setengah dari 25 juta jiwa rakyat Suriah menjadi pengungsi. Tapi para penghujat revolusi Suriah belum melakukan apapun. Padahal misi mereka, amanah kemanusian bagi pihak-pihak yang paling membutuhkan.

Alih-alih melakukan kerja kemanusian, mereka malah lebih asik menjadi pengamat politik internasional. Teorinya, itu tadi, novus ordo seclorum.*

Wartawan dan relawan yang berada di Mavi Marmara

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bashar al assadIHHMavi MarmarapalestinaRevolusi Suriahsuriah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya [Video] Kerusakan Parah Akibat Banjir Besar, Jerman Umumkan Keadaan Darurat
Tulisan selanjutnya Enam Tahun Mavi Marmara: Antara Palestina dan Revolusi Suriah [2]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?