Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Ki Hajar Dewantara, Pesantren dan Pendidikan Kita [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Juli 2016 13:22 1:22 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Juli 2016 13:22
Bagikan
Bagikan

Oleh: Beggy Rizkiyansyah

 

POTRET pendidikan di Indonesia yang terjadi saat ini pantas mengusik nurani kita. Praktek pendidikan saat ini baik tingkat dasar, lanjutan atau tinggi dihantui oleh komersialisasi pendidikan dan seringkali hanya berorientasi pada materi. Mahalnya biaya pendidikan, ketimpangan antar sekolah, hingga berlomba-lomba mendapat gelar demi prestise (degree minded) menjadi dampak dari komersialisasi pendidikan. (Irawaty A. Kahar : 2007) Di tingkat lanjutan dan tinggi bahkan pendidikan berorientasi pada kebutuhan Industri semata. Sehingga sekolah-sekolah dan perguruan tinggi hanya menjadi pabrik bagi pelayan industri dan mendukung bangunan ekonomi semata.

Output dari pendidikan semacam ini pantas mengkhawatirkan kita. Generasi muda Indonesia mungkin sekali menjadi generasi yang berorientasi pada materi. Segala pertimbangan merujuk pada untung-rugi ekonomi. Di tengah gencarnya roda-roda kapitalisme dan liberalisasi ekonomi saat ini di Indonesia, maka pendidikan bagi generasi muda telah kehilangan maknanya. Tak heran jika kita mendengar professor dan akademisi terjerat korupsi atau asusila. Sebagain lain generasi muda, mengamini penggusuruan sewenang-wenang rakyat kecil atas nama pembangunan, atau mencemooh protes supir angkutan dan tak bisa menyesuaikan dengan kemajuan teknologi atas nama kompetisi. Mereka tak mampu lagi menangkap adanya ketidakadilan dan ketimpangan dalam masyarakat kita.

Tiidak hadirnya nilai-nilai, dalam pendidikan kita, mau tak mau membuat kita harus menoleh kembali figur-figur para pendiri bangsa dalam memandang pendidikan bagi generasi muda Indonesia. Salah satunya Ki Hajar Dewantara atau Suryadi Suryaningrat (1889-1959). Selain sebagai pejuang kemerdekaan yang bergelut di dunia politik, kiprah dan visinya dalam dunia pendidikan patut menjadi perhatian kita. Menarik untuk memahami pendapatnya tentang pendidikan.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan memiliki makna yang luas, tak sekedar ilmu pengetahuan belaka. Pendidikan nasional bagi Ki hajar Dewantara bertujuan untuk mengangkat derajat negara dan rakyatnya. Ki Hajar di tahun 1928 sudah menegaskan bahwa pengaruh pengajaran untuk membentuk manusia merdeka, yaitu, “manusia jang hidupnja lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.”(Ki Hajar Dewantara: 1962)

Ki Hajar Dewantara amat menekankan agar pendidikan, khususnya Taman Siswa yang didirikannya agar dekat dengan kehidupan rakyat. “Agar supaja mereka tidak hanja memiliki ‘pengetahuan’ sadja tentang hidup rakjatnja, akan tetapi djuga dapat ‘mengalaminja’ sendiri, dan kemudian tidak hidup berpisahan dengan rakjatnja.” (Ki Hajar Dewantara: 1962) Dengan bercermin pada kondisi rakyat kita dapat menyusun model pendidikan yang pantas bagi Indonesia.

Bagi Ki Hajar, sistem pendidikan Barat yang saklek (konvensional), tak tampak kepribadiannya. Sebaliknya, menurut Ki Hajar Dewantara, di Taman Siswa, guru perlu ikut tinggal di sekolah, melebur dengan murid. Tampak seperti suasana keluarga di rumah.  Menurutnya, “Sekolah itu harus pula mendjadi rumahnya guru. Itulah tempat tinggal jang pasti; rumah itu diperuntuki nama guru, atau lebih baik dikatakan orang menjebut pondoknja itu namanja. Dari dekat dan djauh datanglah murid kepadanja; bukan dia jang pergi ke murid. Kita berkata: ia bukan ‘sumur lumaku tinimba’ (sumber bedjalan, tempat umum mengambil air). Seluruh suasana paguron itu diliputi semangat pribadinja.” (Ki Hajar Dewantara: 1962)

Menurut beliau, sistem paguron atau asrama itu ada dalam sosok pondok pesantren, yang berabad-abad telah melalui masa yang bergejolak, namun tetap hidup sampai sekarang. Dalam sistem seperti ini, bukan saja menghendaki pembentukan intelektual, tapi juga dan terutama pendidikan dalam arti pemeliharaan dan latihan susila. Pendidikan yang bersuasana kekeluargaan. Bukan pendidikan yang dibeli dan dibayar.

Pondok pesantren memang telah membuktikan eksistensinya di tanah air selama berabad-abad. Pondok pesantren telah ada, setidaknya sejak abad ke 18. Meski pendapat lain menyatakan ia telah ada bahkan sejak islam berkembang di nusantara. Berakar dari sistem pendidikan dari Nizhamiyah di Baghdad, pondok pesantren menjadi salah satu ciri khas pendidikan di Nusantara.

Pondok pesantren tak bisa dilepaskan dari peran kiai ulama). Jaringan ulama di Nusantara memunculkan hadirnya pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan di tanah air. Para ulama yang berguru ke Makkah dan Madinah kemudian  kembali ke tanah air untuk membuka pusat-pusat pendidikan (pesantren).

Sudah menjadi kelaziman, santri yang telah selesai menuntut ilmu kemudian berkelana ke wilayah yang baru untuk membuka pondok pesantren. Setiap pondok pesantren biasanya dikenali akan kekhasannya. Namun semuanya tetap menggunakan standar rujukan yang sama. (Van Bruissen : 2012). Meski telah menyebar ke segala penjuru, namun proses transmisi pengetahuan ini tetap terjaga kualitasnya berkat rantai intelektual yang terjalin antara kiyai dan santri. Hal ini terus berlanjut sehingga pondok pesantren telah menjadi pelopor pendidikan di segala penjuru nusantara bahkan hingga ke Patani (selatan Thailand), dan jejaring itu tetap dapat ditelusuri hingga ke nusantara.

Pondok pesantren memungkinkan para kiyai untuk membimbing para santri, tidak hanya saat proses belajar mengajar, tetapi juga diluar waktu tersebut. Dengan membimbing pribadi para santri, kiyai mampu mengetahui kelebihan dan kekurangan sang anak didik. Sistem pendidikan di pondok pesantren tak hanya mengalirkan ilmu, namun juga nilai-nilai yang diturunkan oleh kiainya. Ia menjadi suatu pembinaan pribadi terhadap para santrinya. Dengan sistem pemondokan ini, para santri meneladani kehidupan kiai bukan hanya di dalam lingkungannya, tetapi juga ketika melebur ke dalam masyarakat.*

Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)  

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ki Hajar DewantaraPendidikanPondok Pesantrensekolah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Masuknya Tenaga Asing Jangan jadi Ancaman Bangsa Indonesia
Tulisan selanjutnya Di Balik Kudeta terhadap Erdogan, Ujian Stabilitas Politik Turki

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Berita
17 Juli 2026 14:04
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?