Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Perlukah Kita dengan New Normal?

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 13 Agustus 2020 13:13 1:13 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 13 Agustus 2020 12:45
Bagikan
Bagikan

Oleh: Kholid A.Harras

 

Hidayatullah.com| JURU  bicara penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengakui,  penggunaan diksi new normal dalam penanganan pandemi virus corona selama ini  tidak tepat. Menurutnya, saat mendengar istilah new normal masyarakat hanya terfokus pada kata ’normal’-nya saja,  bukan pada kata ‘new’-nya. Akibatnya, terjadi kesalahpahaman terhadap istilah tersebut. Oleh karenanya, pihaknya akan   mengganti istilah  new normal dengan  “adaptasi kebiasaan baru”.

Sejak awal, istilah new normal  memang menjadi polemik. Ada yang setuju, tetapi banyak  yang menentangnya. Kritik terhadap istilah ini pun datang dari banyak pihak. Pakar epidemiologi misalnya, mengkritik keras, khususnya saat istilah tersebut jadi  pembenar  melakukan relaksasi aktivitas publik di luar rumah di tengah eskalasi penyebaran Covid-19 yang terus melesat. Penggunaan diksi tersebut bukan hanya tidak tepat tetapi juga  menyesatkan.

Secara semantik-kognitif, penggunaan istilah  new normal memang pontensial  memicu kesalahpahaman persepsi pada masyarakat.  Hal ini antara lain karena kosakata ‘normal’ diserap ke dalam  bahasa Indonesia  dari bahasa Belanda: normaal, dan berfungsi sebagai  kata sifat. Arti kata ini dalam KBBI1) Menurut aturan atau  pola yang umum; sesuai dan tidak menyimpang aturan, norma atau kaidah; sesuai keadaan yang biasa; tanpa cacat; tidak ada kelainan; dan 2) Bebas dari gangguan jiwa.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Berdasarkan uraian di tersebut, maka dalam kantong  memori semantik-kognitif sebagian besar  masyarakat Indonesia, kata ‘normal’  dipahami sebagai “suatu kondisi ideal, tidak menyelisihi norma atau sebagaimana seharusnya”. Selain itu, istilah ini dipersepsi sesuatu yang baik atau positif.

Sebagai istilah, new normal  menimbulkan persoalan manakala istilah ini diberi muatan makna  yang sama sekali baru. Seperti dikemukakan Achmad Yurianto (20/5/2020), new normal  adalah tatacara hidup sehat sesuai protokol kesehatan untuk memutus mata rantai penyebaran  pandemi virus corona. Caranya yakni senantasa  menggunakan  masker saat berada di ruang publik, menjaga jarak fisik, serta menghindari kerumunan.

Istilah baru tersebut  tentu saja bertabrakan dengan konsep ‘normal’ sebagaimana dipahami saat ini oleh khalayak. Masyarakat pun dibuat bingung, karena kondisi yang sejatinya  mahiwal, harus dipahami sebagai hal yang normal. Situasi yang sesungguhnya dapat mengancam nyawa, harus disikapi sebagai kondisi yang biasa-biasa saja.

Boleh jadi menyadari potensi bisa menimbulkan terjadinya kesalahanpahaman persepsi terhadap frasa new normal, sejak awal Pemda Jawa Barat cukup berhati-hati dalam menyerap istilah tersebut. Mereka tidak ikutan latah  menyerap  frasa new normal lewat cara adopsi sehingga menjadi ‘kenormalan baru’ seperti drekomendasikan Badan Bahasa.

Mereka memilih mengkreasikan istilah new normal ini sehingga menjadi AKB  (Adaptasi Kebiasaan Baru), karena begitulah sesungguhnya yang ingin dicapai dari istilah tersebut. Jadi kata ‘normal’ tidak harus diterjemahkan menjadi ‘normal’ lagi.

Sependek pengetahuan penulis, ijtihad bahasa Pemda Jabar ini agaknya  lebih memudahkan masyarakat Jawa Barat dalam memahami pengertian dan konsep new normal.  Untuk ijtihad perkara ini, apresiasi layak diberikan kepada Kang Emil sebagai gubernur Jabar.

Karena istilah AKB atau Adaptasi Kebiasaan Baru akhirnya dijadikan sebagai istilah resmi oleh pemerintah pusat untuk menggantikan istilah new normal yang sejatinya memang tidak normal tersebut. Harus diakui, salah satu dampak penyebaran virus corona ke berbagai belahan dunia, telah mengakibatkan melimpahnya  peristilahan baru.

Setiap hari masyarakat seolah dipaksa berkenalan dengan berbagai istilah  baru dalam bidang covid-19.  Misalnya ada istilah  droplet , specimen , suspect,  social distancing, physical distancing, lockdown, rapid test, swab test, hand sanitizer, thermo gun,  disinfektan/disinfeksi. Sependek pengetahuan penulis, berbagai istilah tersebut masih belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

Agar berbagai istilah yang berasal dari bahasa  asing bisa dipahami  masyarakat tentunya proses penyerapannya harus dengan mempertimbangakan faktor. Antara lain, harus cocok konotasinya, lebih singkat dibandingkan  terjemahan Indonesianya, serta lebih mudah dipahami maksudnya.

Modus penyerapannya juga bisa menggunakan bererapa pola: adopsi, adaptasi, penerjemahan, atau kreasi.  Hal ini perlu dilakukan agar fungsi-fungsi bahasa seperti alat berinteraksi antarmanusia, alat untuk berfikir, serta  sarana dalam menyalurkan arti kepercayaan di masyarakat dapat tercapai.

Ihwal pentingnya memilih kosakata yang tepat dalam  proses komunikasi, penting kita memperhatikan pernyataan  Heinrich Theodor Böll, pemenang Hadiah Nobel Sastra dari Jerman pada 1972: Di balik setiap kata, tersimpan makna ‘muatan dunia’ (whole world), yang harus dibayangkan para penggunanya.

Setiap kata juga memiliki beban kenangannya tersendiri yang sangat besar. Tidak hanya bagi setiap orang tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Saya khawatir, banyak orang yang menggunakan kata-kata tanpa merasakan beban yang terkandung di dalamnya.

Sungguh, sesiapa yang bermain dengan kata-kata sejatinya ia sedang bermain dengan sebuah dunia”.*

Pengajar pada FPBS Univeritas Pendidikan Indonesia

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bahasacovid-19kataNew Normalvirus corona
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Turki Renovasi Makam Berusia 1.700 Tahun di Afrin Suriah Setelah Membebaskannya
Tulisan selanjutnya Pakistan Kutuk Pembunuhan di Luar Hukum Terhadap 3 Pemuda Kashmir Oleh Tentara India

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?