Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Totalitarianisme Gaya Baru

Bambang S
Terakhir diupdate: 25 Januari 2021 12:33 12:33 pm
Bambang S
Dipublikasikan 25 Januari 2021 17:00
Bagikan
Bagikan

Oleh Dhiman Abror*

Hidayatullah.com–Pilpres 2019, sekali lagi, menunjukkan kekalahan telak yang diderita oleh kekuatan Islam politik yang dipresentasikan dalam koalisi pendukung 02. Dalam bahasa almarhum Kuntowijoyo, koalisi 02 mencerminkan kekuatan “Islam Bermasjid”, sedangkan koalisi 01 adalah cerminan kekuatan “Islam tanpa Masjid”. Geertz menyebut kelompok bermasjid sebagai santri dan kelompok tak bermasjid sebagai abangan.

Sejak pemilu 1955 komposisi perolehan 45-55 hampir tidak bergeser. Kuntowijoyo menengarai kelompok Islam tanpa masjid inilah yang menggergaji Habibie dengan menolak laporan pertanggung jawabannya sehingga Habibie kehilangan legitimasi moral dan politik untuk mencalonkan diri dalam pilpres. Inilah kekalahan KO pertama Islam bermasjid di era Reformasi yang berketerusan sampai sekarang.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana perjalanan demokrasi kita lima tahun kedepan, jika semua kekuatan parpol bergabung menjadi satu dengan kekuasaan. Para aktivis demokrasi menangisi kematian demokrasi dan menyatakan bahwa tanpa oposisi demokrasi akan mati dan akan muncul totalitarianisme gaya baru.

Negara ini sedang bergerak ke arah negara total yang dipimpin oleh segelintir oligarki yang merupakan gabungan dari negara, state, dan market, para pemodal besar penggerak pasar. Kongkalikong negara dengan pasar ini telah menjadikan kekuatan masyarakat civil society tertinggal dan diabaikan. Kekuatan masyarakat madani, civil society, yang menjadi tulang punggung demokrasi semakin tergerogoti oleh kekuatan negara dan pasar. Masyarakat pun semakin lemah tak berdaya didikte oleh negara dan pasar.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Raghuram Rajan dalam buku “The Third Pillar; How Markets and State Leave the Community Behind” (2019) menyebutkan bahwa di antara tiga pilar; negara, pasar, dan masyarakat, telah terjadi ketimpangan ketika negara lebih berpihak kepada pasar dan menjadikan masyarakat tertinggal di belakang.

Persekongkolan negara dan pasar menjadikan masyarakat lemah tak berdaya dan terus-menerus didikte oleh kepentingan pasar. Kenaikan harga BBM, tarif listrik, biaya pendidikan, harga-harga kebutuhan pokok dilakukan dengan semena-mena oleh negara yang bersekongkol dengan pasar. Teriakan masyarakat nyaris tak terdengar karena tidak adanya saluran protes yang bisa mengakomodasi suara mereka.

Ketika kekuatan oposisi dikempit dalam korporatisme negara maka mekanisme checks and balances akan lenyap dan para politisi akan sibuk mengejar cek supaya balance. Kekuatan media, yang pernah mengklaim diri sendiri, self proclaimed, sebagai pilar keempat sekarang ambruk sudah dihantam kekuatan pasar.

Media, sebagaimana parpol, sudah kehilangan elan perjuangannya karena sudah menjadi bagian dari market. Para taipan besar yang menguasai modal besar sekarang menjarah parpol dan media. Harry Tanoesoedibjo dan James Riyadi adalah sedikit contoh nyata dari persekongkolan market, politik, dan negara.

Negara menjadi semakin kuat karena simbol dan ikon civil society sudah dipreteli satu-persatu dan terkooptasi dalam dekapan negara. Kita ingat bagaimana KH Ma’ruf Amien adalah ikon perlawanan civil society dalam kasus penistaan agama Ahok, 2016. KH Ma’ruf yang menjadi ketua MUI mengeluarkan fatwa bahwa Ahok telah menistakan Islam.. Ketika kemudian KH Ma’ruf dijadikan cawapres Jokowi, dia berbalik 180 derajat. Hal yang sama terjadi pada Yusril maupun Mahfud MD yang sebelumnya kita kenal sebagai voice of conscience, suara kesadaran, sekarang menjadi pingsan kehilangan kesadaran. Dengan masuknya Prabowo dalam gerbong kekuasaan, lengkap sudah kematian civil society.

Negara menjadi semakin kuat dan civil society semakin merana dan masyarakat tambah menderita. Negara menggunakan semua kekuatannya untuk menghancurkan perlawanan sipil. Dua kekuatan utama negara adalah Ideological State Apparatus (ISA) dan Repressive State Apparatus (RSA), dua-duanya dipakai dengan sangat efektif untuk memberangus kekuatan sipil.

ISA diterapkan untuk mengucilkan perlawanan oposisi dengan mekanisme labelling, naming, dan stereotyping. Mereka yang beroposisi terhadap negara serta-merta dituduh sebagai anti-Pancasila, anti-NKRI, dan anti-kebhinekaan.

RSA dilakukan dengan penangkapan ratusan oposisi, antara lain, dengan memakai undang-undang ITE dan undang-undang lainnya yang mulur mengkeret seperti karet.

Setelah berhasil memberangus ikon-ikon civil society, negara kemudian melakukan penetrasi ke lembaga-lembaga lambang kekuatan civil society seperti masuknya TNI memegang jabatan birokrasi dan masuknya Polri sebagai pimpinan KPK.

Mana yang harus dipilih antara negara yang kuat dan lemah? Tidak ada salahnya negara kuat, bahkan negara harus kuat supaya hadir ketika dibutuhkan. Yang tejadi sekarang adalah negara tidak hadir saat dibutuhkan. Kegagalan negara menangani bencana alam di beberapa wilayah adalah salah satu contoh.

Negara boleh kuat tapi harus benevolent, berbudi baik, dermawan  kepada rakyat, dan komit untuk menyejahterakan rakyat seperti yang dicontohkan Lee Kuan Yew di Singapura. Singapura adalah negara kuat tanpa oposisi tapi rakyat makmur dan sejahtera. Kita tidak punya pemimpin sekelas Lee. Pemimpin kita terkena penyakit “milik nggendong lali”, saat berkuasa lupa terhadap rakyatnya karena selalu menimbun harta dan sibuk melayani tuannya.

Ketika Lee mati ia ditangisi rakyatnya. Puluhan ribu orang menangis di sepanjang jalan menuju pemakaman. Di Indonesia pemimpin mati rakyat syukuran…

*Wartawan senior

 

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dhiman abrorindonesia negara otoriterislam politikkekalahan islam politiknegara totaliterismeotoriterismepolitik IndonesiaTotalitarianismeTotalitarianisme Gaya Barutotaliterisme gaya baru
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Masya Allah, Pesantren Sidogiri Punya 201 Mini Market
Tulisan selanjutnya ppkm jokowi skala mikro Pemerintah Luncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang Dukung Percepatan Pembangunan Nasional

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa

Berita
31 Agustus 2026 06:11
Genosida Rwanda: Pengadilan Belanda Penjarakan Seorang Tersangka Seumur Hidup
Turki Luncurkan Atlas Sejarah Islam Digital, Rekam Berbagai Peradaban Selama 1.300 Tahun
Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?