Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Ètienne de Silhouette, Seolah Lahir Kembali

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 Juni 2021 15:53 3:53 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Juni 2021 12:39
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Ama

Hidayatullah.com | INI kisah di zaman Louis XV saat memerintah Perancis. Itu diawal abad 18. Perancis saat itu tengah mengalami krisis keuangan berat. Negeri rasanya nyaris bangkrut. Sebagai raja ia mesti mencari pembantu yang bisa mengatasi krisis keuangan.

Diangkatlah Ètienne de Silhouette, sebagai menteri keuangan. Silhoutte diberi tugas untuk membenahi kriris keuangan. Maka ia mencoba mengadopsi Inggris yang memajaki kaum kaya di negerinya, bahkan kaum yang tadinya tidak tersentuh pajak. Karenanya, Inggris lalu bisa keluar dari krisis keuangannya.

Silhoutte tidak ragu memakai cara Inggris itu, tentu dengan modifikasi ala Silhoutte. Modifikasinya itu kebablasan, bahkan kelewat kreatif dalam mendatangkan uang buat negara dengan memajaki tidak saja orang kaya tapi hasil tani pun ia pajaki dengan pajak yang tidak kecil.

Modifikasi ala Silhoutte ini bisa diibaratkan sebagai pemburu di hutan yang tidak dapat hasil buruan, maka ia berburu di kebun binatang. Maka menyengsarakan rakyat dengan pajaknya, itu dianggapnya hal wajar.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Barang setengah mewah yang tadinya tidak termasuk terkena pajak menjadi terkena. Bahkan, memiliki asisten rumah tangga pun dipajaki. Dan hasil yang didapat asisten rumah tangga itu pun dipajakinya. Gerakan memunguti pajak ekstrem itu dimulai tahun 1760.

Bahkan Silhoutte, sang menteri keuangan, saking nafsunya berburu pajak, sampai ia sendiri perlu turun ke jalan-jalan bahkan menyusuri gang-gang. Jika ditemukan pada sebuah rumah memakai daun pintu rumah yang dianggapnya terlihat mewah, maka daun pintu rumah itu pun ia pajaki.

Kebijakan pajak awur-awuran yang memberatkan rakyat itu ditentang banyak pihak, termasuk sastrawan dan filsuf yang paling disegani kala itu di Perancis, Voltaire. Tapi ia terus jalan, pantang telinga mau mendengar.

Silhoutte meski pribadinya kasar dalam memalak masyarakatnya, ia punya keahlian seni merangkai obyek dengan potongan-potongan kertas warna-warni, menjadi seni yang indah. Kegemarannya itu dibalas rakyat yang juga membuat obyek yang sama, namun tidak dengan tempelan warna-warni, tapi hanya menggunakan satu warna, warna hitam. Warna lambang keburukan.

Protes rakyat dengan seni itu, sebagai penggambaran atas Silhouette yang berhati hitam, itu bermakna jahat. Maka seni itu pun diadops oleh seni lukis yang berkembang sejak 1800 an hingga belakangan ini, dengan obyeknya hanya menggunakan warna hitam. Gaya pelukisan itu disebut Silhouette (Siluet), merujuk pada nama menteri keuangan yang hobi memalak rakyatnya sendiri dengan pajak mencekik.

Silhouette Menjadi Inspirasi

Kreatifitas Silhouette lalu coba dipakai lagi. Jika keuangan negara nyaris bangkrut, atau bahkan sudah bangkrut tapi berlagak seolah negara aman-aman saja. Tapi memajaki rakyat dengan cara berlebihan, itu pertanda negara sedang bokek.

“Silhoutte” acap muncul dan dimunculkan dengan modifikasi di sana-sini. Memang tidak akan muncul lagi gaya “Silhouette” yang sampai turun ke jalan, memasuki lorong jalan-jalan sempit untuk memeriksa adakah rumah-rumah mewah yang perlu dipajaki.

Zaman sudah berganti, dan di zaman sekarang tidak perlulah pejabat sampai harus bersusah payah ala Silhouette itu. Semuanya sudah bisa dilihat dan diamati oleh sistem yang bekerja. Apa yang dipunya rakyat dan peredaran uang bisa dilihat lewat sistem.

Dengan sisitem itulah “Silhouette” modern bekerja. “Silhouette” saat ini hamya memiliki persamaan dengan Silhouette, sang menteri keuangan Perancis, itu pada semangatnya. Semangat Silhouette dalam berburu di kebun binatang.

Saat ini dan di negeri ini, semangat Silhouette menemukan bentuk persamaannya. Bahkan lebih sadis lagi, dan sulit dicerna atau didefinisikan

Ya, lebih sadis… Bagaimana mungkin sembilan bahan pokok (sembako) itu yang rencana akan terkena pajak pertambahan nilai (PPN) 12%. Maka beban rakyat yang dengan ekonomi tidak bertumbuh, bahkan minus, akan mengalami kesulitan hidup yang makin sulit.

Ini mengakibatkan dampak yang luas, dan itu pada bayi-bayi yang lahir, yang pastinya akan kekurangan asupan gizi selayaknya. Maka stunting yang diperangi rezim, hanya sebatas bualan pada poster-poster yang tertempel di puskesmas, yang layak di-siluetkan dengan warna hitam.

Bahkan semangat Silhouette yang diadopsi negeri ini, tampak menggunakan modifikasi yang ukurannya tidak jelas. Pada satu sisi sampai tahap menyengsarakan rakyat yang berpenghasilan rendah, dengan rencana sembako kena pajak tadi. Tapi disisi lain barang mewah dikurangi pajaknya bahkan sampai 0%. Itu bisa dilihat dari Pajak Penjualan atas barang mewah atas pembelian mobil baru (PPnBM), dimana pajaknya dikurangi bahkan sampai 0%.

Maka filosofi Silhouette dalam memalak kaum kaya dan bangsawan, dan lalu merembet pada kelompok dibawahnya, itu tidak dijalankan Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan benar. Ia justru menyalahi semangat Silhouette, yang itu pun dikenang dengan buruk oleh sejarah.

Jika rencana memajaki sembako itu jadi dilakukan, maka apa yang dilakukan rezim Joko Widodo, itu bisa disebut lebih jahat dari apa yang dilakukan Silhoutte pada zaman baheula dulu itu. Jika rencana yang baru rencana itu dipitus dijalankan, maka silahkan jika para seniman akan membuatkan Siluet dengan modifikasi warna apa saja yang pantas diberikan. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca: artikel lain Ady Amar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ètienne de SilhouetteLouis XVpajakpenguasaPrancis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Israel Bentuk Pemerintahan Baru, Dubes Palestina: Tidak Ada Bedanya
Tulisan selanjutnya Serangan islamofobia Menlu Pakistan dan Kanada Bahas Serangan ‘Islamofobia’ terhadap Keluarga Muslim

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Berita
14 Juli 2026 15:30
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Terbaru

  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?