Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Jangan Biadab dengan Ulama

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 Januari 2016 10:45 10:45 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Januari 2016 10:45
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ilham Kadir

ILMU  dalam Islam memiliki kedudukan yang istimewa, karena kehidupan manusia tidak akan tegak lurus tanpa ilmu. Dan ilmu merupakan sifat yang melekat pada para nabi.

Antara rahmat Allah yang diberikan kepada manusia adalah tidak mencabut ilmu dengan meninggalnya para nabi, karena para nabi mewariskan ilmu kepada sekelompok manusia untuk menggantikan kedudukan mereka dalan mengemban amanah Allah dalam mengajarkan manusia dan mengemban tugas para nabi ketika masih hidup, hanya saja kelompok tersebut tidak didukung oleh wahyu secara langsung dan tidak pula ma’shum. Kelompok yang dimaksud adalah para ulama.

Dari Abu Darda’ Radhiallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, Barangsiapa melalui satu jalan yang di dalamnya terdapat ilmu, maka Allah akan memberinya jalan menuju surga. Dan sungguh para malaikat meletakkan sayapnya bagi penuntut ilmu sebagai bentuk keridhaannya atas apa yang diperbuat, dan seluruh penduduk langit dan bumi meminta ampun bagi orang yang berilmu, bahkan ikan-ikan di air juga melakukan hal yang sama.

Dan keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang, para ulama adalah orang yang mewarisi nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak, (At-Tirmidzi, Kitabul Ilmi, Bab Fadlul alal Ibadah, No. 2682).

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Di akhir hadis Nabi di atas, sangat jelas bahwa para nabi tidak mewariskan harta benda atau kekuasaan, namun justru mewariskan ilmu. Dan siapa pun yang mengambil bagian dari ilmu para nabi maka sesungguhnya ia telah mendapat hikmah. Dan siapa yang diberi hikmah, sesungguhnya telah dikaruniai kebaikan yang banyak. Begitu firman Allah (QS. Al-Baqarah [2]: 269).

Hadis di atas juga menjelaskan keutamaan ilmu dan kedudukan ulama, sampai-sampai para malaikat meletakkan sayapnya bagi para penuntut ilmu sebagai bentuk dukungan dan penghormatan. Rasulullah juga mengkhususkan dengan jelas bahwa makhluk yang ada di bumi dan langit memohonkan ampun untuk seorang ulama, termasuk makhluk yang ada di dalam air.

Pada kesempatan lain, juga membandingkan ulama dengan ahli ibadah, Sabda Nabi, Dari Abi Umamah al-Bahily bahwasanya disebutkan dua orang pertama ahli ibadah dan yang lainnya ulama, maka Rasulullah bersabda, Keutamaan ulama atas ahli ibadah adalah seperti antara kedudukanku dengan orang yang paling rendah di antara kalian, lalu ia kembali bersabda, Sesungguhnya para malaikat, para penduduk langit dan bumi, para semut di liangnya, bahkan ikan pun turut mendoakan kebaikan kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, (At-Tirmidzi, Kitabul Ilmi, Bab fiqhi alal Ibadah, no. 2685).

Antara keutamaan ulama berbanding dengan ahli ibadah, karena ahli ibadah yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu maka dia bisa saja sesat bahkan menyesatkan orang lain. Seperti halnya penduduk Makkah di zaman Rasulullah yang mengakui bahwa beribadah kepada Allah tetapi tanpa ilmu, maka mereka tetap dalam kekafiran dan kesesatan, (QS. Az-Zumar: 3).

Begitu juga ahli ibadah yang beribadah hanya berdasarkan prasangka yang salah, maka tentunya ibadah mereka tidak diterima, dan hanya akan mendapatkan kerugian, (QS. Fishshilat: 23). Imam Al-Darimi menceritakan bahwasanya Umar bin Abdil Aziz pernah mengirim surat pada penduduk Madinah yang isinya, Sesungguhnya orang yang beribadah tanpa ilmu maka dampak kerusakannya lebih banyak dari kemaslahatannya. (Az-Dzahabi, Tadzkiratul Huffadz, 1/439).

Abdullah bin Mas’ud bahkan menyatakan bahwa kedudukan ulama lebih utama daripada para mujahid, beliau berkata, Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sesungguhnya orang yang mati syahid di jalan Allah mengharapkan agar Allah mengutus kepada mereka ulama karena mereka mengetahui keutamaannya. (Abu Hamid Al-Gazali, Ihya Ulumuddin, 1/8).

Hasan al-Bashri berkata, ketika tinta ulama ditimbang dengan tinda syuhada, maka tinta ulama lebih unggul.

Sekilas pernyataan Hasan Al-Bashri rahimahullah tanpak berlebihan, namun jika ditelaah secara mendalam maka argumennya bisa diterima karena keutamaan jihad tidak akan pernah diketahui kecuali dengan ilmu. Seorang tidak akan berangkat berjihad tanpa mengetahui keutamaannya, dan syarat serta rukun jihad dapat diketahui dengan ilmu, termsuk status hukumnya, fardhu ain atau kifayah.

Orang yang tidak berilmu dapat menyebabkan meninggalkan jihad yang fardhu dan mendahulukan amalan sunnah, tentu saja ini salah. Demikian pula, orang yang pergi berjihad tanpa ilmu, boleh jadi melanggar ketentuan-ketentuan seperti membakar pemukiman warga, merusak tanaman, membunuh orang yang dilarang dibunuh, dan sejenisnya. Ilmu akan memberikan pengetahuan batas-batas dalam berjihad. Tanpa adanya ulama yang hakiki maka tidak akan ditemukan pula para mujahid yang hakiki.

Contoh kongkrit adalah golongan Khawarij, rajin beribadah kepada Allah, menegakkan kewajiban, dan berjihad di jalan Allah. Sayang, mereka berbuat tanpa ilmu, sehingga hal tersebut  menjerumuskan mereka dalam lubang kesesatan atau bahkan mengeluarkan mereka  dari Islam tanpa sadar, bahkan merasa paling mulia kedudukannya di hadapan Allah.

Fenomena ini pula yang terlihat pada salah satu stasiun televisi (Metro TV) baru-baru ini yang menuduh bahwa organisasi massa Islam yang resmi seperti Wahdah Islamiyah, lebih khusus pendiri dan pimpinannya, Dr. Zaitun Rasmin difitnah seranpangan sebagai bagian dari terorisme. Konyolnya, data yang mereka gunakanpun tidak jelas asal-muasalnya, sebab selama ini, saya beberapa kali ikut training of trainer penanggulangam terorisme oleh BNPT tak pernah pun menyebut Wahdah Islamiyah sebagai organisasi terorisme.

Sebagaimana kita ketahui secara jamak, Zaitun Rasmin adalah Ketua Ikatan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, juga sebagai salah satu inisiator dan deklarator berdirinya Mejelis Intelektual-Ulama Muda Indonesia (MIUMI). Kedua gerakan dakwah tersebut masing-masing concern dalam melakukan kaderisasi ulama yang kiprahnya sangat terasa bagi bangsa dan negara.

Tema-tema gerakan pun sangat religius-nasionalis, salah satunya, Menuju Indonesia yang Lebih Beradab. Dan, sangat biadab jika menuduh dan memitnah ulama sebagai teroris.*

Peserta Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) Baznas-DDII

 

 

 

 

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BNPTmetro TVterorismeulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Wakil Gubernur Jatim: Keluarga Qur’ani Menghadirkan Rejeki Barokah
Tulisan selanjutnya Gara-Gara Kasus Serangan Seksual Malam Tahun Baru Kepala Kepolisian Cologne Diberhentikan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pra Kongres Umat Islam VIII, MUI Gelar Halaqah Nasional Bahas Pesantren Aman dan Ramah Anak

Berita
11 Juni 2026 12:00
PHK Tembus 23 Ribu Pekerja, DPR Desak Penguatan Perlindungan dan Percepatan Penyerapan Tenaga Kerja
Haedar Nashir: Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Tradisi Ilmu dan Kebijakan yang Berkelanjutan
Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase

Terbaru

  • Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
  • Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya
  • Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
  • Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT
  • Kelompok Hacker Terkait Iran Klaim Retas Drone FBI
  • Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
  • Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
  • Mengukir Senyum, Merajut Persaudaraan: Hangatnya Kebersamaan Qurban di Dukuh Kwarasan
  • Haflah Parade Tasmi’ Al-Qur’an, Momentum Mencetak Generasi Penghafal Al-Qur’an
  • China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?