Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Menangkis Paham Komunis

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 Oktober 2017 13:15 1:15 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 Oktober 2017 13:15
Bagikan
ilustrasi: Foto dokumentasi kegiatan Partai Komunis Indonesia (PKI)
Bagikan

Oleh: Andi Ryansyah

 

Belakangan ini, isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) kembali berhembus kencang. Benarkah PKI bangkit? Entah. Tapi daripada kita debat kusir soal itu dan malah membuat masyarakat jadi bingung, lebih baik kita arahkan mata cemas kita pada kehidupan rakyat miskin.

Mengapa? Sebab utama komunisme dapat berkembang, kata Bung Hatta, manakala hidup rakyat semakin miskin.“Kemiskinan adalah serikat bagi komunisme,” ujarnya (Mu’in, 1957). Dan sekarang ini, tak sedikit rakyat Indonesia yang belum keluar dari kubangan lumpur kemiskinan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, per Maret 2017, masih ada 27,77 juta penduduk miskin. Angka ini bertambah 0,01 juta dari September 2016 yang jumlahnya 27,76 juta orang.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Jurang kesenjangan ekonomi pun luar biasa lebar. Menurut studi Oxfam, empat konglomerat Indonesia dengan jumlah kekayaan 25 miliar dollar, setara dengan gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin di Indonesia. Data lain dari Credit Suisse menunjukkan satu persen orang terkaya di Indonesia menguasai 49,3 % kekayaan nasional.

Baca: Antisipasi: Mencegah ‘Makar PKI’

Kondisi-kondisi ini menjadi lahan subur untuk tumbuhnya komunisme di negara kita. Ini tak berlebihan. Sebab sejarah punya pengalamannya.

Mari kita menengok sepak terjang PKI. Kala itu, setelah pemberontakan Madiun 1948, citra PKI sangat buruk. Betapa tidak, mereka berupaya mengkudeta pemerintah serta membantai ulama dan santri. Tapi ketika di tangan Aidit, PKI berhasil bangkit. Sungguh mengejutkan! Pada Pemilu 1955, partai berlambang palu arit ini berhasil masuk jajaran empat besar di bawah PNI, Masyumi, dan NU. Mungkin kalau kita hidup di zaman itu, kita tidak akan percaya. Mengapa partai pemberontak ini bisa dipilih rakyat banyak?

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ekowati (2012), mengungkap bahwa PKI bisa menang juara empat karena di antaranya partai ini bisa merangkul rakyat bawah seperti petani dan buruh.

Cara PKI merangkul adalah dengan propaganda-propaganda melenyapkan sisa-sisa feodalisme, kapitalisme dan anti tuan tanah. PKI mempropagandakan pembagian tanah kepada petani miskin, terutama yang ada di daerah Jawa. Sehingga mereka sangat tertarik dengan PKI, dan bersedia menjadi anggota Barisan Tani Indonesia (BTI) atau organisasi massa PKI lainnya. Selain itu, petani juga dibuatkan koperasi.

Agitasi-agitasi dan propaganda perlindungan kaum buruh juga dilakukan PKI. Kaum buruh yang merasa selalu tertindas oleh kaum imperialis, jadi tertarik dengan PKI. Sebab PKI dianggap bisa memperjuangkan hak-hak mereka, dan mengubah nasib mereka menjadi lebih baik. Bahkan PKI sampai menguasai Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI).

Baca: Tokoh Kristen Tak Setuju Kedatangan Wakil Partai Komunis Vietnam

PKI juga menjanjikan persamaan hak wanita di bidang ekonomi, perburuhan, dan pertanian. Di bidang ekonomi, wanita dibolehkan berpartisipasi dalam proses produksi, seperti halnya laki-laki. Di bidang perburuhan, gaji kaum wanita disamakan. Dan di bidang pertanian, kaum wanita mendapatkan pembagian tanah yang luas seperti kaum pria. Kaum wanita yang bekerja sebagai buruh industri, buruh tani, dan buruh perkebunan, yang pada umumnya miskin, gampang ditarik dalam kegiatan organisasi. Itulah beberapa strategi yang berhasil dimainkan PKI untuk menarik massa dan memenangkan Pemilu 1955.

Pada akhir tahun 1955, jumlah anggota PKI sangat memukau, mencapai satu juta orang (Ricklefs, 1998).

Dari situ kita bisa melihat, bahwa komunisme dapat hidup di tengah kondisi masyarakat sedang miskin dan menderita. Komunisme bisa laris begitu lantaran kepekaan sosialnya yang tinggi, dengan taktik propagandanya yang memberi harapan, membela, memperjuangkan, dan menolong rakyat kecil.

Karena itu, untuk mencegah tumbuhnya paham komunis di masa sekarang ini, tidak cukup dengan berteriak-teriak, “Komunis kufur!”, “Komunis anti Tuhan!”, “Komunis anti Pancasila!” “Komunis anti demokrasi!”, “Ganyang PKI!” Harus juga ada gerakan sosial yang nyata! Seperti membela dan menolong wong cilik yang digusur secara sewenang-wenang, memperjuangkan kesejahteraan petani, nelayan dan buruh, atau memberi makan orang miskin. Bukankah Islam mewajibkan kita untuk membela kaum yang lemah dan tertindas? Kita tak harus jadi komunis untuk bisa berbuat seperti itu. Cukuplah menjadi Muslim!

Baca: PKI, Indonesia, dan China [1]

Tokoh-tokoh kita dulu pun sudah mencontohkannya. Seperti Surjopranoto, tokoh Sarekat Islam. Ia membentuk organisasi buruh modern, yang mewakili kepentingan perusahaan perkebunan dan pabrik gula. Serikat buruh itu dikenal dengan nama Personeel Fabrieks Bond (PFB). Ketika melihat kesenjangan antara pengusaha dan buruh perusahaan gula begitu lebar, ia mengadakan pemogokan. Dengan anggotnya yang berjumlah hingga 31 ribu orang pada tahun 1920, PFB mampu menekan para pengusaha gula (Rizkiyansyah, 2014). Bagaimana dengan tokoh-tokoh Muslim sekarang?

Kemudian pemerintah juga tidak cukup dengan menyuruh menonton film “G30S PKI” dan mengandalkan TAP MPRS No.25 tahun 1966 yang berisi larangan PKI dan komunisme. Yang genting dan memaksa untuk dilakukan dalam mewaspadai bahaya komunisme adalah, pemerintah harus segera menghadirkan keadilan ekonomi bagi seluruh rakyatnya. Misal dengan membuat kebijakan-kebijakan yang menyejahterakan buruh, nelayan, dan petani, memanfaatkan sebesar-besarnya kekayaan alam Indonesia untuk hajat dan kemakmuran rakyat banyak, memurahkan ongkos hidup rakyat, tidak mengorbankan kepentingan rakyat kecil untuk penguasa modal, atau memerangi segelintir orang yang menguasai ekonomi bangsa ini.

Kalau keadilan ekonomi sudah dirasakan kaum miskin, maka rasanya tidak ada lagi tuntutan dari komunisme. Tapi kalau jurang kesenjangan ekonomi dibiarkan kian lebar, maka pemerintahlah yang sedang “mengkomuniskan” mereka. Ya, sebab mereka dibiarkan menjadi santapan komunisme.*

Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Barisan Tani IndonesiaBTIchinakaum buruhkemiskinankomuniskomunismeKomunisme gaya baruPaham KomunisPartai Komunis IndonesiaPKIrakyat miskinSerikat Buruh Seluruh IndonesiaSOBSI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Universitas Putri Nourah akan Dirikan Sekolah Mengemudi Wanita
Tulisan selanjutnya Bela dan Beli Bank Muamalat Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?