Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Karikatur Menggelitik

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Februari 2021 13:56 1:56 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Februari 2021 13:00
Bagikan
Potongan karikatur Suara Merdeka
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | Karikatur itu gambar atau penggambaran suatu obyek, dibuat dengan cara melebih-lebihkan ciri khas dari obyek yang ada. Dan itu tentang apa saja, sesuai yang dimaui.

Jika karikatur itu dibuat untuk di- publish, maka obyek yang dipilih adalah tokoh yang sudah umum dikenal. Meski wajah dari tokoh itu “dilebih-lebihkan”, baik mulut, pipi, dahi, hidung, telinga, rambut dan lainnya.

Dengan melebih-lebihkan dari apa yang ada diwajahnya, publik masih mengenalinya dengan baik. Tidak bertanya-tanya siapa yang jadi obyek pada gambar itu.

Karikatur ditampilkan tidak saja sekadar menghibur, tapi juga menampar. Ada yang hanya gambar saja tanpa bantuan narasi. Tapi ada yang diberi narasi karena karikatur itu sedang bercerita pada satu peristiwa yang benar terjadi.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Dengan diberi narasi orang memahami konteks karikatur itu dihadirkan. Karenanya, karikatur itu akan membawa pada kesimpulan utuh atas sebuah peristiwa.

Baca: Itu Protes JK, Bukan Sekadar Tanya “Cara Mengkritik yang Aman”

Karikatur tokoh politik, baik manca negara, maupun nasional dihadirkan jika ada peristiwa tentangnya. Dipilih jadi obyek, jika ada hal kontroversial atas kebijakan atau bahkan pernyataannya.

Donald Trump, mantan Presiden Amerika, bisa jadi tokoh manca negara yang paling banyak menjadi sasaran para karikaturis untuk menjadikannya obyek lucu-lucuan, dan terkesan mengolok.

Disamping ada pesan dari karikatur yang dibuat itu, dan itu pada kebijakan dan berbagai pernyataan Trump yang memang terkenal kontroversial, bahkan urakan. Kebebasan Pers di Amerika membebaskan para karikaturis bisa mengeksplore obyeknya sampai pada tahap tidak manusiawi sekalipun.

Untuk tingkat nasional, mungkin KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden Indonesia ke-4, yang wajahnya kerap dibuat obyek dikarikaturkan. Wajah Gus Dur yang memang “unik” menjadi makin berkelas, wajah antara lucu dan menggemaskan.

Tentu Gus Dur yang memiliki pandangan bebas, senang-senang saja wajahnya jadi “bulan-bulanan” para karikaturis. Tentu jauh dari sikap menghina, pun mengolok-olok, justru dihadirkan dengan penuh kekaguman padanya.

Karikatur “Suara Merdeka” yang Keren

Ahad (14/2/2021) kemarin jagad medsos disuguhkan karikatur menggelitik. Karikatur yang dihadirkan itu mewakili perasaan publik. Dan itu tampil pada Suara Merdeka, koran tertua di Jawa Tengah.

Adalah karikatur dengan obyek Presiden Jokowi, yang berujar, ‘Tolong masyarakat bisa aktif mengkritik dan memberikan masukan’. Sedang di depannya dua anjing galak dengan jenis berbeda menjaganya. Pada anjing pertama tertulis buzzer, dan yang satunya tertulus UU ITE. Dan di depan anjing itu seseorang berlari dengan teriak, Atuuuuut…

Karikatur itu keren, mampu menghadirkan suara batin publik di tengah polemik, tentang keseriusan ucapan Presiden Jokowi untuk benar-benar butuh dikritik.

Karikatur itu mempertanyakan, bagaimana mungkin bisa dikritisi jika “dua anjing” itu masih jadi andalan untuk nangkapi mereka yang coba kritis pada pemerintah.

Baca: Akhir Hidup Para Buzzer, dan Dunia Baru

Anjing pertama berupa buzzer, yang sepertinya punya tugas khusus mengendap-endap penuh nafsu melaporkan siapa saja yang bisa dikriminalisasi dengan jerat hukum.

Sedang anjing kedua adalah UU ITE yang mudah mentersangkakan setiap mereka yang kritis pada pemerintah. Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat, Anton Permana, dan masih banyak lainnya, itu korbannya.

Ucapan Presiden Jokowi, pada Hari Pers Nasional (9/2/2021), di Istana Negara, tentang “silahkan mengkritik” itu ditanggapi dengan sikap skeptis. Lalu banyak komentar yang tidak mempercayai keseriusan Presiden Jokowi itu.

Ada yang mengatakan, hati-hati lho, jangan-jangan itu jebakan Batman. Ada pula yang mengatakan, ucapan Jokowi itu cuma berlaku tanggal 9 Februari, maksudnya pada Hari Pers Nasional saja. Dan pernyataan-pernyataan lain yang hampir semua menganggap itu hanya ungkapan sekadarnya, tidak benar-benar serius.

Ketidakseriusan itu karena tidak ada upaya untuk menghilangkan “dua anjing” yang digambarkan dalam karikatur tadi. Lalu muncul pernyataan, buktikan dulu dengan membubarkan para buzzer itu, dan revisi UU ITE.

Pernyataan dari siapa pun, apalagi orang nomor satu di republik ini, mestinya tidak sekadar ucapan di bibir saja, tanpa adanya upaya-upaya tindak lanjut untuk menguatkan atau menunjukkan keseriusan dari apa yang diucapkannya.

Karikatur itu entah siapa yang membuatnya. Bisa jadi Pak Djoko Susilo, editorial cartoonist, koran Suara Merdeka yang membuatnya. Siapa pun yang membuatnya, sekali lagi, karya itu keren, yang tidak sekadar estetis, tapi kuat juga pada konten, dan yang paling utama, mampu mewakili suara publik. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

 

Baca Opini Ady Amar lainnya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:buzzerJokowikritikPresiden Jokowi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Din Syamsuddin Dilaporkan GAR ITB, Bagaimana dengan yang Ini?
Tulisan selanjutnya Protes Bergejolak di Paris atas Rancangan Undang-Undang Anti-Muslim

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Berita
4 Juni 2026 14:01
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?