Apa yang ada di benak Anda bila mendengar anak-anak? Pasti suatu masa yang diliputi penuh kegembiraan. Tak ada beban. Yang ada rasa riang gembira. Bermain bebas dengan siapapun dan di manapun. Mereka juga bisa pergi ke sekolah dengan rasa aman. Pada hari libur mereka juga bisa pergi ke tempat rekreasi bersama keluarga. Bermain, tertawa dan bersenang-senang. Itulah lazimnya yang dirasakan anak-anak.
Tapi, tidak dengan anak-anak yang tinggal di Palestina, negeri yang hingga kini masih dijajah Israel. Bukanya mereka tidak merasa kegembiraan. Tapi, kegembiraan yang mereka rasakana bukan karena tempat rekreasi, bermain bebas dengan teman dan berjalan-jalan bersama keluarga ke tempat-tempat indah. Sekali lagi, bukan!
Hidup di Palestina seperti yang diceritakan penulis buku ini, Ghassan Fayiz Kanafi seperti hidup di medan perang. Perasaan was-was selalu menjalari tubuh. Mortir, bom, suara deru tembakan bisa saja melesat dan meledak kapan saja dan di mana saja. Dan, bila ini terjadi, maka penduduk Palestina hanya bisa menutup pintu rumah rapat-rapat dan berharap selamat.
Tapi, tidak dengan anak-anak pejuang Palestina. Boleh saja Israel meluluhlantakkan fisik Palestina, tapi cita-cita kemerdekaan mereka sedikitpun tidak akan luruh. Cita-cita itu akan tetap bergejolak dalam dada. Itulah yang membuat mereka gembira dan berani melawan rasa takut yang mejalari aliran darah mereka.
Ketika anak-anak pada umunya di hari libur pergi ke tempat rekreasi, tapi anak-anak Palestina justru memilih mengunjungi kamp-kamp pengungsi dan berbagi dengan mereka. Bagi mereka tak ada hari libur. Tak ada bersenang-senang. Setiap detiknya adalah perjuangan.
Diceritakan dalam buku tersebut, seorang anak yang meminta senapan angin pamanya untuk berjihad. Ia pun harus menempuh jalan batu cadas yang jauh dan gersang. Ketika ditanya pamannya “Apakah kau punya peluru?” Dengan tegas si bocah tadi menjawab, “Saya punya 20 butir peluru yang baru saja saya beli,”.
Cerita paling getir dikisahkan Ghassan dalam judul “Surat dari Ramallah”. Seorang anak kecil berusia sembilan tahun melihat adegan darah yang memilukan, lebih dari disayat sembilu. Perih. Cerita itu bermula ketika ia dan beberapa orang berjalan di pinggir jalan yang membentang dari Ramallah ke Yerussalem.
Serdadu Yahudi tiba-tiba menghentikan langkah mereka. Mereka dipaksa berdiri dan menyilangkan tangan di atas kepala di bawah terik matahari yang membakar. Terlihat seorang serdadu Yahudi yang memeriksa perhiasan kaum ibu-ibu lalu mengambilnya secara paksa. Hanya diam dan air mata yang menetes. Tak bisa berbuat apa-apa.
Di ujung barisan ada dokter Uthman yang terlihat diam. Dia dokter yang baik. Di sampingnya, seorang anak perempuan yang cantik dengan kulit coklat dan mungil. Serdadu Israel bertanya, “Apakah ini puterimu?” Abu Uthman geleng kepala. Sorot matanya kelam.
Lalu, serdadu Yahudi itu mengangkat senjata dan mengarahkannya ke kepala Fatima. Gadis mungil itu hanya diam dan melihatnya biasa saja. Tanpa ekspresi. Serdadu Yahudi itu lalu menarik platuk senjatanya. Dan, dorrr! Fatima tersungkur dengan darah yang mengucur dari kepalanya.
Abu Uthman lalu meraih mayat Fatima dan membopongnya melewati depanku. Ia berjalan lurus, tak memandangku. Ia menguburkannya seorang diri. Lalu, Abu Uthman pun kembali menempati tempat di mana awal ia berdiri. Tidak hanya sampai di situ. Istri Abu Uthman ditendang hingg tersungkur ke tanah. Lalu berakhir dengan satu tembakan yang menggema.
Itulah sekelumit kisah yang ditulis eks jurnalis dan guru kelahiran Acre (Akka), Palestina 1936 ini. Dengan sangat baik, penulis yang memiliki pengalaman pahit karena pernah mengungsi dari Palestin ke Damaskus bisa merekam kisah itu dengan detil. Kisah itu dituturkannya dengan penuh perasaan dan sastra yang indah.
Perjuangan penulis dalam pembelaan kemerdekaan Palestina cukup besar. Ia pernah bergabung dengan Popular Front for the Liberation of Palestina/Frtont Pembebasan Rakyat Palesinta dan menerbitkan majalah Al Hadaf.
Tak jauh beda dengan cerita bukunya, kisah hidupnya juga berakhir di sebuah ledakan bom bersama keponakannaya, Lamis, di sebuah mobil oleh dinas rahasia Israel. Penulis sangat memperhatikan anak-anak. “Anak adalah masa depan kita,” demikian katanya.
Karya-karya Ghassan telah menginspirasi kesusasteraan Arab modern dan dunia. Membeli buku ini selain mengetahui kisah anak Palestina, juga sambil beramal. Pasalnya, Rp. 1000 dari setiap pembelian buku Palestine’s Children akan disisih untuk disumbangkan ke anak-anak Palestina.*
==================
Resensi Buku
Palestine’s Children (Kisah Perjuangan Hidup Anak-anak Palestina)
Penulis : Ghassan Kanafani
Penerjemah : Miftahul Jannah
Tebal : 302 halaman
Cetakan : I: 2011
Penerbit : NAVILA