Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pustaka

Bermain di Bawah Dentuman Mortir dan Bom

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Mei 2013 21:52 9:52 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Mei 2013 21:52
Bagikan
Bagikan

Apa yang ada di benak Anda bila mendengar anak-anak? Pasti suatu masa yang diliputi penuh kegembiraan. Tak ada beban. Yang ada rasa riang gembira. Bermain bebas dengan siapapun dan di manapun. Mereka juga bisa pergi ke sekolah dengan rasa aman. Pada hari libur mereka juga bisa pergi ke tempat rekreasi bersama keluarga. Bermain, tertawa dan bersenang-senang. Itulah lazimnya yang dirasakan anak-anak.

Tapi, tidak dengan anak-anak yang tinggal di Palestina, negeri yang hingga kini masih dijajah Israel. Bukanya mereka tidak merasa kegembiraan. Tapi, kegembiraan yang mereka rasakana bukan karena tempat rekreasi, bermain bebas dengan teman dan berjalan-jalan bersama keluarga ke tempat-tempat indah. Sekali lagi, bukan!

Hidup di Palestina seperti yang diceritakan penulis buku ini, Ghassan Fayiz Kanafi seperti hidup di medan perang. Perasaan was-was selalu menjalari tubuh. Mortir, bom, suara deru tembakan bisa saja melesat dan meledak kapan saja dan di mana saja. Dan, bila ini terjadi, maka penduduk Palestina hanya bisa menutup pintu rumah rapat-rapat dan berharap selamat.

Tapi, tidak dengan anak-anak pejuang Palestina. Boleh saja Israel meluluhlantakkan fisik Palestina, tapi cita-cita kemerdekaan mereka sedikitpun tidak akan luruh. Cita-cita itu akan tetap bergejolak dalam dada. Itulah yang membuat mereka gembira dan berani melawan rasa takut yang mejalari aliran darah mereka.

Ketika anak-anak pada umunya di hari libur pergi ke tempat rekreasi, tapi anak-anak Palestina justru memilih mengunjungi kamp-kamp pengungsi dan berbagi dengan mereka. Bagi mereka tak ada hari libur. Tak ada bersenang-senang. Setiap detiknya adalah perjuangan.

Baca Juga

Al-Rushafi dan Catatan Kritis Seputar Sirah Nabi Muhammad
Menuangkan Ide Melalui Novel: Telaah Karya Abbas Aqqad, Malek Bennabi dan Hamka
Telaah Buku Dr. Raghib As-Sirjani: Syi’ah dalam Timbangan Sejarah dan Aqidah
Dr. Abu Syahbah Menepis Badai Syubhat terhadap Sunnah Nabawiyah
Syekh Ahmad Yasin dan Firasat Kehancuran Israel Tahun 2027

Diceritakan dalam buku tersebut, seorang anak yang meminta senapan angin pamanya untuk berjihad. Ia pun harus menempuh jalan batu cadas yang jauh dan gersang. Ketika ditanya pamannya “Apakah kau punya peluru?” Dengan tegas si bocah tadi menjawab, “Saya punya 20 butir peluru yang baru saja saya beli,”.

Cerita paling getir dikisahkan Ghassan dalam judul “Surat dari Ramallah”. Seorang anak kecil berusia sembilan tahun melihat adegan darah yang memilukan, lebih dari disayat sembilu. Perih. Cerita itu bermula ketika ia dan beberapa orang berjalan di pinggir jalan yang membentang dari Ramallah ke Yerussalem.

Serdadu Yahudi tiba-tiba menghentikan langkah mereka. Mereka dipaksa berdiri dan menyilangkan tangan di atas kepala di bawah terik matahari yang membakar. Terlihat seorang serdadu Yahudi yang memeriksa perhiasan kaum ibu-ibu lalu mengambilnya secara paksa. Hanya diam dan air mata yang menetes. Tak bisa berbuat apa-apa.

Di ujung barisan ada dokter Uthman yang terlihat diam. Dia dokter yang baik. Di sampingnya, seorang anak perempuan yang cantik dengan kulit coklat dan mungil. Serdadu Israel bertanya, “Apakah ini puterimu?” Abu Uthman geleng kepala. Sorot matanya kelam.

Lalu, serdadu Yahudi itu mengangkat senjata dan mengarahkannya ke kepala Fatima. Gadis mungil itu hanya diam dan melihatnya biasa saja. Tanpa ekspresi. Serdadu Yahudi itu lalu menarik platuk senjatanya. Dan, dorrr! Fatima tersungkur dengan darah yang mengucur dari kepalanya.

Abu Uthman lalu meraih mayat Fatima dan membopongnya melewati depanku. Ia berjalan lurus, tak memandangku. Ia menguburkannya seorang diri. Lalu, Abu Uthman pun kembali menempati tempat di mana awal ia berdiri. Tidak hanya sampai di situ. Istri Abu Uthman ditendang hingg tersungkur ke tanah. Lalu berakhir dengan satu tembakan yang menggema.

Itulah sekelumit kisah yang ditulis eks jurnalis dan guru kelahiran Acre (Akka), Palestina 1936 ini. Dengan sangat baik, penulis yang memiliki pengalaman pahit karena pernah mengungsi dari Palestin ke Damaskus bisa merekam kisah itu dengan detil. Kisah itu dituturkannya dengan penuh perasaan dan sastra yang indah.

Perjuangan penulis dalam pembelaan kemerdekaan Palestina cukup besar. Ia pernah bergabung dengan Popular Front for the Liberation of Palestina/Frtont Pembebasan Rakyat Palesinta dan menerbitkan majalah Al Hadaf.

Tak jauh beda dengan cerita bukunya, kisah hidupnya juga berakhir di sebuah ledakan bom bersama keponakannaya, Lamis, di sebuah mobil oleh dinas rahasia Israel. Penulis sangat memperhatikan anak-anak. “Anak adalah masa depan kita,” demikian katanya.

Karya-karya Ghassan telah menginspirasi kesusasteraan Arab modern dan dunia. Membeli buku ini selain mengetahui kisah anak Palestina, juga sambil beramal. Pasalnya, Rp. 1000 dari setiap pembelian buku Palestine’s Children akan disisih untuk disumbangkan ke anak-anak Palestina.*

==================

Resensi Buku

Palestine’s Children (Kisah Perjuangan Hidup Anak-anak Palestina)

Penulis : Ghassan Kanafani

Penerjemah : Miftahul Jannah

Tebal : 302 halaman

Cetakan : I: 2011

Penerbit : NAVILA

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anak palestinabommortirpalestina
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Erdogan: Kalau Mau Mabuk di Rumah Saja
Tulisan selanjutnya “Kicauan” Terbaru Salim A Fillah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global

Berita
31 Agustus 2026 20:11
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria
Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelPustaka

Hadits Dha’if: Antara Penolakan Mutlak dan Apresiasi Bersyarat

5 April 2026 17:01
Pustaka

Jalan Mudah Menuju Bahagia

20 Februari 2026 16:15
Pustaka

Perjuangan KH Ahmad Dahlan: Membendung Arus Gerakan Kristenisasi dan Freemasonry

23 Juni 2025 13:39
Pustaka

Cahaya Islam di Timor Timur

13 Juni 2024 16:01
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?