Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Ahlul Bid’ah dan Pencela Sahabat Nabi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Mei 2014 19:18 7:18 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Mei 2014 19:18
Bagikan
Kitabnya al-Farqu baina al-Firaq, karya Abdul Qahir al-Baghdadi al-Asy’ari
Bagikan

Oleh: Kholili Hasib

SYEIKH Abdul Qahir al-Baghdadi al-Asy’ari dalam kitabnya al-Farqu baina al-Firaq, menjelaskan karakter keompok ahlul bid’ah adalah menyelesihi para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalllam. Bahkan kebanyakan mencelanya. Sedangkan kelompok pengikut salaf selalu konsisten mengikuti dan mencintai Sahabat Nabi (Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farqu baina al-Firaq, hal. 244). Jadi, kelompok pencela Sahabat juga meliputi hampir semua aliran/firqah non-Sunni.

Di kalangan mutakallimun (teolog Muslim), istilah ‘ahlul bid’ah’ biasanya merujuk kepada aliran-aliran (firqah) di luar Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Kelompok yang akidahnya menyimpang dari para Sahabat dan tabi’in, seperti Khawarij, Rafidhah, Mu’tazilah, Qadariyah, Jahmiyah dan lain-lain. Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalllam yang menyebut istilah ‘bid’ah dhalalah’ dan ‘ahlul ahwa’ oleh para ulama Kalam ditujukan kepada aliran-aliran sesat ini.

Salah satu bentuk bi’ah dhalalah kelompok ini adalah dengan mencela para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam. Karena itu, Imam al-Ghazali berpendapat bahwa loyal (wala’) kepada Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam termasuk bagian dari akidah Islam. Beliau mengajurnakan, anak yang belum mencapai usia baligh harus sudah diajari wala’ kepada Sahabat Nabi. (baca Sayyidi Ahmad Zaruq, Syarh Aqidah al-Imam al-Ghazali).

Madzhab Asy’ari Loyal pada Sahabat

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Sedangkan para ulama Ahlus Sunnah, mulai dari para ulama fikih, ahli hadis, ulama ilmu nahwu, ulama ahli sejarah, ulama tafsir, ulama tasawuf semuanya tidak satu pun yang mencela para Sahabat.

Termasuk madzhab akidah yang mengikuti Imam Asy’ari dan Imam al-Maturudi, oleh para ulama tidak dikelompokkan ke dalam ahlul bid’ah. Sebab, mereka konsisten mengikuti jalur-jalur yang dijalankan oleh para Sahabat Nabi.

Imam al-Hafidz Murtadha al-Zabidi, ulama pakar hadis, menjelaskan: “Hendaknya diketahui bahwa masing-masing dari Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi tidak membuat bi’dah baru dan tidak menciptakan madzhab baru dalam Islam. Sebab, mereka hanya menetapkan pendapat-pendapat ulama salaf dan pembela para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam. Mereka bahkan berdebat dengan ahlul bid’ah sampai ahlul bid’ah takluk tidak berkutik” (Imam al-Hafidz Murtadha al-Zabidi, Ithaf al-Sadah al-Muttaqin, juz II/hal. 7).

Barangkali atas dasar ini, Ibnu Taimiyah, meski memberi kritik kepada al-Asy’ari namun ia mencela orang yang menyesatkan imam Asy’ari. Ia mengatakan: “Ketika terjadi fitnah di kalangan umat Islam pada abad 3 dan 4 H. Banyak orang melaknat pengikut Asy’ariyah. Namun, para ulama berlepas diri dari pelaknatan tersebut. Dan melarang caci-makian. Kemudian mengeluarkan fatwa bahwa mereka (Asyari) adalah bagian dari orang Mukmin”(Ibnu Taimiyah, Majmu Fatawa juz 4 hal. 15). Hal ini disebabkan, madzhab Asy’ari konsisten memegang ajaran para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam.

Ibnu Taimiyah memberi peringatan keras, Madzhab Asy’ari yang setia kepada Sahabat untuk tidak dicela bahkan disesatkan.

Menurutnya, barangsiapa yang mencela imam Asy’ari dan pengikutnya, maka celaan itu akan kembali kepadanya. Ia memuji imam Asy’ari sebagai penolong kaum Muslimin dalam bidang akidah. Ia mengatakan: “Para ulama kita adalah penolong bidang furu, sedangkan Asy’ari penolong bidang akidah” (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa/4/16).

Firqah Sesat Mencela Sahabat

Paradigma tersebut berbeda dengan karakter firqah sesat yang mencela para Sahabat. Syeikh Abdul Qahir al-Baghdadi merinci kelompok-kelompok non-Sunni yang tidak loyal kepada Sahabat. Di antaranya kelompok Qadariyah dan Mu’tazilah. Pemimpin Qadariyah yang bernama al-Nadzdzam mencela Sahabat Ibnu Mas’ud yang menganggap sebagai Sahabat Nabi yang tidak adil.

Mereka menjatuhkan otoritas Ibnu Mas’ud karena Ibnu Mas’ud meriwayatkan hadis tentang qadha dan qadar yang tidak sesuai dengan akidah Qadariyah dan Mu’tazilah.

Hadis tersebut berbunyi: “Sesungguhnya orang yang bahagia adalah orang yang (ditetapkan bahagia) pada saat dalam kandungan ibunya. Dan orang yang celaka di akhirat adalah orang yang ditetapkan celaka pada saat dalam kandungan ibunya”.

Hadis itu bertentangan dengan worldview Qadariyah dan Mu’tazilah yang menolak takdir itu telah ditetapkan sejak dalam kandungan ibunya.

Pemimpin Mu’tazilah, Washil bin Atha’, meragukan ke’adilan’ saidina Ali, putranya, Abdullan bin Abbas, Thalhah, Zubair dan lain-lain yang terlibat perang Jamal. Menurut Washil, kesaksian para Sahabat tersebut di atas tidak bisa diterima karena telah divonis fasik (Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farqu baina al-Firaq, hal. 245).

Kelompok Khawarij juga termasuk firqah pencela Sahabat. Bahkan sampai pada taraf vonis kafir. Mereka mengkafirkan saidina Ali, Hasan, Husen, Ibnu Abbas, Ustman, Aisyah, Thalhah, Zubair, Mu’awiyah dan lain-lain.

Begitu pula kelompok Najjariyah, al-Bakkariyah, al-Dharroriyah dan lain-lain semuanya tidak loyal kepada para Sahabat. Seperti halnya dilakukan Rafidhah, mereka menyeleksi riwayat-riwayat yang dibawa oleh Sahabat yang disesatkan itu.

Maka, sebagai ciri khas Ahlus Sunnah wal Jama’ah, loyal, mencintai dan mengikuti jalan Sahabat harus diangkat lagi dalam dunia pendidikan Islam saat ini.

Merekalah yang pantas disebut kelompok takfiri. Sebab mereka sangat mudah menjatuhkan vonis kafir kepada Sahabat dan kaum Muslimin yang tidak mengikuti vonis tersebut.

Sedangkan ciri khas Ahlus Sunnah, tidak mudah menjatuhkan vonis takfir kepada sesama kaum Muslimin Sunni. Jadi, paradigma takfiri merupakan karakter dari ahlul bid’ah yang tidak pernah dicontohkan oleh para ulama salaf kita.*

Penulis adalah peneliti InPAS Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bid'ahfiraqSahabat Nabi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Wabah MERS-CoV, Kemenag Belum Keluarkan Penundaan Calhaj Lansia
Tulisan selanjutnya Muslim Ceko Protes Penggrebekan, Gereja Mendukung

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

Berita
4 Juni 2026 21:20
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?