Oleh: Imam Nawawi
SEEKOR binatang dikatakan liar ketika dia tidak dipelihara oleh umat manusia. Sebagian, dikatakan buas ketika dia mengancam nyawa siapa saja yang dilihatnya, termasuk manusia sendiri.
Dengan kata lain, istilah liar adalah gambaran tentang sesuatu yang tidak bisa diterima secara wajar oleh tradisi berpikir yang memang sudah baku dalam kehidupan ini. Dan, agama adalah pagar terbaik yang menjadikan pemikiran manusia tetap dalam wilayah keadaban.
Kita mungkin sama-sama mengerti, mengapa iblis ditetapkan sebagai makhluk terkutuk. Tetapi, justru di sinilah akar dari segala sumber pikiran-pikiran liar itu muncul dan terus diperjuangkan oleh mereka yang menolak ketetapan agama (baca: Islam).
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
“Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah” (Q.S. Al-A’raf [7] : 12).
Ayat tersebut menggambarkan betapa dengan tanpa pernah berpikir panjang iblis membuat parameter sendiri. Secara spontan iblis memposisikan dirinya sebagai yang lebih baik hanya karena fakta penciptaan dirinya dari api dan lebih ‘senior’ dibanding Adam yang baru diciptakan dan dari bahan dasar tanah. “Jika demikian faktanya, untuk apa saya sujud kepada Adam?” begitu mungkin yang terlintas dalam benak iblis.
Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa ungkapan iblis, “Aku lebih baik darinya,” merupakan alasan (pembelaan diri) yang kedudukannya lebih besar daripada sekedar dosa. Maka tidak heran jika kemudian iblis disebut laknatullah alaih (laknat atas dirinya).
Sekarang adalah era dimana manusia-manusia yang tidak tahu agama (tetapi sangat bernafsu menyerang agama –Islam) dengan argumentasi yang didasarkan pada sebab fakta belaka. Hal ini ditegaskan oleh HM Asrorun Niam Sholeh, bahwa kini bangsa Indonesia sedang menghadapi arus globalisasi yang ‘memaksakan’ cara pandangnya atas kondisi kekinian dan kedisinian (worldview). Regulasi negara pun menjadi tidak diindahkan ketika cara pandang global itu terus dijadikan dasar dalam memandang LGBT sebagai hal yang wajar (Koran Sindo, 20/2).
Fakta-fakta seperti ini telah dijelaskan dengan sangat menarik oleh Syamsuddin Arif dalam buku populernya yang berjudul Orientalis dan Diabolisme Pemikiran. Syamsuddin Arif menjelaskan bahwa dalam bahasa Yunani kuno, iblis itu disebut ‘Diabolos.’ Dan, mengacu pada apa yang disampaikan Arthur Jeffery dalam bukunya The Foreign Vocabulary of the Qur’an, istilah ‘diabolisme’ berarti pemikiran, watak, dan perilaku ala iblis ataupun pengabdian kepadanya.
Namun, dalam ajaran Islam iblis bukan makhluk yang atheis, bukan pula agnostik. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan. Iblis tidak meragukan wujud maupun ke-Esa-an-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Iblis bahkan tahu dan percaya seratus persen. Di sinilah letak masalah kenapa kemudian iblis dilaknat dan disebut ‘kafir’.
Kesalahan iblis bukan sebab tidak tahu apalagi tidak berilmu. Kesalahannya karena ia membangkang (aba, QS. 2: 34, 15: 31, 20: 116), kemudian menganggap dirinya hebat (istikbara, QS. 2: 34, 38: 73, 38: 75), dan paling parah adalah menentang perintah Tuhan (fasaqa’an amri rabbihi, QS 18: 50).
Tak Cukup Percaya
Yang patut kita sadari, dalam hal menentang perintah Tuhan atau lebih memilih berpikir secara liar, iblis sudah tidak sendirian lagi. Iblis sudah berhasil merekrut banyak staf dan kroninya yang berpikiran dan berperilaku seperti yang dicontohkan iblis di hadapan Tuhannya sendiri.
Dengan kata lain, mengenal tidak cukup, mesti mengakui. Ini dijelaskan dengan gamblang oleh Syamsuddin Arif. “Kenal dan tahu saja, tidak cukup. Percaya dan mengakui saja tidak cukup. Mereka yang kafir dari kalangan Ahli Kitab pun kenal dan tahu persis siapa dan bagaimana terpercayanya Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagaimana orang tua mengenali anak kandungnya sendiri (ya’rifunahu kama ya’rifuna abnaahum). Namun tetap saja mereka enggan masuk Islam.
Jelaslah bahwa pengetahuan, kepercayaan dan pernyataan harus disertai dengan kepatuhan dan ketundukan, harus diikui dengan kesediaan dan kemauan untuk merendah, menurut, dan melaksanakan perintah” (Diabolisme Intelektual halaman 143).
Dalam kasus LGBT misalnya. Secara nalar awam saja bisa dipahami bahwa LGBT ini jika sampai dilegalkan secara konstitusional, betapa tatanan keluarga akan rusak dan kepunahan bangsa ini semakin nyata. Sebab, tidak mungkin LGBT bisa berketurunan. Dan, dalam beberapa kasus kecemburuan pada jenis penyakit jiwa yang parah seperti ini sering berakhir dengan pembunuhan dengan cara-cara yang mengerikan.
Tetapi, karena memang sudah menganut paham diabolisme pemikiran, mereka yang memilih pikirannya tetap liar justru sangat agresif menyerang. Siapa yang tidak pro LGBT disebut anti HAM, diskriminatif, dan intoleran. Sebagaimana di awal, kaum diabolis memang sangat pandai membuat parameter sendiri kemudian men-judge orang yang dianggapnya lawan dengan beragam label negatif yang mereka produksi sendiri.
Ciri Diabolis
Seperti yang juga ditulis dalam https://hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2000/06/30/16873/diabolisme-intelektual.html, Syamsuddin Arif menjelaskan tiga ciri pemikiran diabolis sebagai berikut:
“Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir’aun berikut hulu-balangnya, zulman wa ‘uluwwan, meskipun dan padahal hati kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum).
Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu. Jadi jangan heran bila selalu saja ada cendekiawan yang meskipun nota bene Muslim, namun sifatnya seperti itu. Ideologi dan opini pemikirannya yang liar lebih ia pentingkan dan ia pertahankan ketimbang kebenaran dan aqidah Islamnya.
Dalam tradisi keilmuan Islam, sikap membangkang semacam ini disebut juga al-‘inadiyyah (Lihat: Abu Hafs Najmuddin Umar ibn Muhammad an-Nasafi (w. 537 H/1142 M), al-‘Aqa’id, dalam Majmu’ min Muhimmat al-Mutun, Kairo: al-Matba’ah al-Khayriyyah, 1306 H, hlm. 19).
Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arogan). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no.147): “Sombong ialah menolak yang haq dan meremehkan orang lain (al-kibru batarul-haqq wa ghamtu n-nas)”.* (BERSAMBUNG)
Penulis adalah Aktivis Gerakan Indonesia Beradab