Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Mengkritisi Pemahaman Agama Haidar Bagir

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Februari 2018 06:59 6:59 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Februari 2018 11:00
Bagikan
Ilustrasi
Bagikan

Oleh: Umarwan Sutopo

 

HAIDAR Bagir adalah salah satu dari deretan tokoh liberal yang perlu dikritisi terkait pernyataan-pernyataan kontroversialnya tentang Islam. Contohnya di dalam dialog “Reformulasi integrasi Islam dan Sains” di gedung Rektorat UIN Malang, menurut kesaksian Fadh Ahmad Arifan, beliau di hadapan peserta dialog menyatakan : “Saya tidak percaya semua agama sama. Tapi saya percaya semua orang dari agama apapun yang beriman dan beramal sholeh akan selamat”. Pernyataaannya sangat tidak masuk akal! Bagaimana mungkin agama selain Islam yang ritualnya tidak mengikuti tuntunan Rasulullah saw bisa selamat? Jangankan selamat dan masuk surga, menjawab pertanyaan Malaikat di alam barzah pasti tidak sanggup.

Bukunya yang terbit tahun lalu, “Islam Tuhan Islam Manusia” dibedah di berbagai tempat. Kampus IAIN Ponorogo merupakan salah satunya. Meski penulisnya menyatakan bahwa judul di atas tidaklah istimewa dan paling masuk akal diantara judul-judul lain yang mungkin ia gunakan, tetapi kontroversi bukanlah semata terkait keistimewaan atau tidaknya sebuah judul, melainkan muatan yang terdapat di dalamnya. Tulisan kali ini hanya ingin mengambil beberapa contoh saja dari banyak persoalan dalam bukunya, sebagai bukti bahwa buah pemikiran Bung Haidar layak dikritisi dan disanggah.

Pertama, adalah dikotomi pengertian Islam sebagai judul besar bukunya. Bung Haidar mengasumsikan bahwa Islam sebenarnya ada 2 (dua) versi, Tuhan dan Manusia. Menurutnya, Islam Tuhan adalah islam yang sesuai dengan kehendak Tuhan itu sendiri, sedangkan Islam Manusia adalah pemahaman manusia terhadap Islam Tuhan itu sendiri, nah karena manusia hanya mempunyai akal yang terbatas, maka tidak mungkin seseorang itu mampu menemukan Islam “yang sesuai dengan” Kehendak Tuhan. Ini pada akhirnya akan mengantarkan seseorang pada pada pemahamanan relativisme terkait agama. Akhirnya, tidak ada tafsir agama yang absolut, semua serba relatif, bahkan lebih jauh, baginya non muslim pun tidak boleh disebut kafir, hal ini karena masing-masing agama mempunyai kemungkinan benar dan salah.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Bung Haidar di posisi ini sebenarnya melakukan “kecerobohan yang serius”, sebab mendikotomi pengertian agama tanpa menggunakan sandaran naqli maupun aqli yang sahih. Pasalnya, tidak ada satupun nash yang tertulis (al Quran & al Hadis) baik secara tersurat maupun tersirat menyinggung adanya dikotomi antara Islam Tuhan dan Manusia. Di titik lain, klaim atas adanya pembedaan agama melalui 2 (dua) versi adalah kecacatan logika, sebab seolah-olah dia sudah mengetahui bahwa ada Islam versi Tuhan itu dan versi manusia. Kemudian keduanya menjadi berbeda sebab tidak ada manusia yang mampu mengerti kehendak Tuhan kecuali Tuhan sendiri.

Persoalannya adalah ketika Bung Haidar mengklaim segenap manusia sebagai mahluk yang tidak tahu akan kehendak Tuhan, lalu darimana dirinya tahu bahwa Tuhan berkehendak A tetapi manusia berkehendak B. Bukankah itu kecerobohan, sebab menghukumi semua manusia tidak tahu menahu tentang kehendak Tuhan, tetapi justru memposisikan dirinya mengetahui kehendak Tuhan, padahal bukankah Bung Haidar juga manusia dan bukan Tuhan?. Lebih baik manakala Bung Haidar sekedar memunculkan judul buku “Buku saku Tasawuf” atau judul judul lainnya yang tidak mengandung sisi kontroversial.

Apa yang saya sampaikan ini dibuktikan dengan gagasan-gagasan Haidar sendiri terkait “Islam Cinta” yang diusungnya. Dimana “Islam cinta” menurutnya adalah merupakan pengejawantahan dari Islam versi Tuhan dan Islam versi Manusia.

Pengusung paham relativisme ini dengan piawainya menyalahkan pemahaman agama para manusia selain dirinya sebagai pemahaman yang salah, sebab bagi Haidar mereka masih ber-Islam ala Manusia, bukan Islamnya Tuhan. Maka tidak heran dalam bukunya tersebut ia tanpa malu-malu menyematkan gelar-gelar yang bernuansa negatif pada sebagian umat Islam, seperti kaum takfir, radikal, maupun sejenisnya. Hal ini tentu saja mengherankan, sebab kontradiksi dengan pernyataannya sendiri yang melarang untuk merasa paling benar.

Baca: Sebut Penampakan Tuhan Beragam, Gus Hamid Sebut Haidar Bagir Ngelamun

Bukankah ini merupakan bentuk kesombongan yang sempurna, dimana menyalahkan pemahaman orang lain terkait Islam hanya karena mereka tidak sesuai dengan Islam versi dirinya. Kesombongan yang dibalut dengan kata-kata ilmiah dan dalil dalil yang tidak sesuai dengan tempatnya.

Terkecuali daripada itu, jika Bung Haidar konsisten dengan buah pemikirannya yang menyatakan betapapun akal mempunyai posisi penting bagi manusia, tetapi ia mempunyai kelemahan, diantara contohnya adalah tidak mampu mengetahui Islam yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Maka seharusnya tokoh liberal jebolan Harvard ini tunduk pada wahyu atau manusia yang dipilih Tuhan untuk menjelaskan kehendakNya kepada manusia, dan mereka adalah para Nabi/ rasul. Mengikuti mereka, mentaati ajaran-ajaran mereka adalah bentuk dari menjalankan kehendak Tuhan itu sendiri, dan ini adalah kesimpulan yang sangat logis.

Sayangnya Bung Haidar melupakan peran para utusan dan menggunakan akalnya (yang ia yakini mempunyai kelemahan) untuk menerka-nerka kehendak Tuhan terkait Islam, sehingga munculah gagasannya dengan ISLAM CINTA, sebuah istilah yang bukan hanya aneh, seperti halnya istilah ISLAM HUMANISTIK, tetapi sekaligus bisa menjadi alasan untuk bersedih, meratapi adanya seorang manusia yang begitu anehnya berpendapat tentang agama lalu dikampanyekan kepada publik.

Namun demikian, terlepas daripada itu semua, niatnya untuk mendamaikan antar pemeluk agama patut diapresiasi meskipun metode yang ia gunakan dengan “menghajar” pemahaman agama orang lain tidak bisa ditoleransi.

Baca: Fatwa MUI: Islam Liberal dan Ahmadiyah “Haram”

Kedua, Pernyataan Bung Haidar terkait cinta sebagai basis agama. Bahkan lebih jauh, agama tanpa basis cinta akan menghasilkan sikap yang justru negatif atau bertentangan dengan maslahat manusia. Hal ini sejalan dengan apa yang ia sampaikan dalam bedah bukunya di IAIN Ponorogo, bahwa sikap beragama yang baik adalah manakala seorang  manusia memanusiakan manusia, atau kalau perlu membuat orang lain bahagia sebagai puncak kebaikan beragama itu sendiri, sehingga aneh jika ada orang yang beragama justru menyusahkan orang lain.

Bahwa muslim yang baik adalah mereka yang memanusiakan manusia lainnya kita sepakat. Tetapi menjadikan kebahagiaan manusia sebagai semata-mata tolok ukur kebaikan beragama adalah sesuatu yang tidak bisa disepakati. Karena menjadikan manusia sebagai  “sumber atau pokok kebaikan” akan menjerumuskan pada penghambaan manusia kepada manusia lainnya, padahal agama adalah penghambaan manusia kepada Tuhan, bukan manusia kepada manusia, ini jelas. Terkecuali daripada itu, memposisikan cinta sebagai asas agama agar manusia terhindar dari sikap beragama yang negatif adalah kecerobohan.

Sebab justru cinta-lah yang harus dibangun berdasar asas agama. Betapa banyak kehancuran peradaban manusia yang disebabkan cinta tanpa kontrol agama. Cinta harta sebagaimana yang dilakukan Qarun dan cinta sesama jenis yang dilakukan kaum Nabi Luth itu adalah contoh nyata ekspresi cinta tanpa disandarkan nash nash agama?.

Ketiga, Bung Haidar memalingkan makna ihsan (dalam hadis yang menceritakan dialog antara Jibril dan Muhammad saw) menjadi “cinta”, sehingga cinta adalah ihsan dan ihsan adalah cinta, maka tingkatan tertinggi seseorang yang telah berislam dan beriman adalah cinta. Ini tentu saja tidak fair, sebab ta’rif dari lafadz ihsan sudah dijelaskan dalam hadis itu sendiri, yaitu “Penyembahan hamba kepada Allah seolah-olah ia melihatNya, atau jika tidak mampu, maka sesungguhnya Ia selalu melihatnya”, jadi ihsan adalah sampainya posisi seorang manusia dalam penghambaannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala sudah sampai ke level muraqabah.

Terakhir, Bung Haidar juga tidak konsisten dengan pernyatannya bahwa ihsan adalah cinta, sebab ternyata di halaman yang lain ia menegaskan bahwa ihsan harus berdasarkan cinta. Ini tentu saja kerancuan berfikir, sebab bagaimana mungkin di satu tempat keduanya adalah satu dan kemudian ia ceraikan di tempat yang lain. Maka tidak heran jika beliau menggagas bahwa cinta adalah tingkatan tertinggi dalam beragama.

Demikianlah koreksi atas pemahaman agama Haidar bagir dalam “Buku Islam Tuhan Islam Manusia”. Perlu difahami para pembaca bahwa ini adalah semata-mata untuk kebenaran, dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan unsur-unsur kebencian ataupun permusuhan. Walaupun banyak hal yang menjadi persoalan, saya kira cukup sampai disini, tidak elok memperpanjang kata. Wallahu’allam.*

Panulis adalah dosen  IAIN Ponorogo

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:cintahaidar bagirhumanistikislamliberalliberalismelogikamizanpemahaman agamarelativismeSePILIStuhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya DPD Dorong Pemerintah-DPR Rampungkan RUU Ekonomi Kreatif
Tulisan selanjutnya Pelanggaran Serius Hukum Internasional di Ghouta Timur

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Berita
15 Juli 2026 21:25
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?