Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Mengokohkan Antar Ahlus Sunnah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Desember 2016 13:24 1:24 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Desember 2016 13:24
Bagikan
[Ilustrasi] Umat Islam Indonesia
Bagikan

Oleh: Bahrul Ulum

 

SAAT ini klaim tentang istilah Ahlus Sunnah (Sunni) menjadi sedikit menggangu disebabkan masih adanya sedikit hambatan  di kalangan umat Islam. Masing-masing kelompok menganggap dirinya Ahlus Sunnah sedang lainnya bukan. Padahal, klaim tersebut terjadi di antara Ahlus Sunnah sendiri.

Adalah  Syaikh Abul Aun As-Safarini Al–Hanbali (w.1188H) dengan tegas mengatakan bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah terdiri dari tiga kelompok, yaitu, al-Atsariyyah dengan imamnya Ahmad bin Hambal, al-Asy’ariyyah dengan imamnya Abul Hasan Al-Asy’ari dan al-Maturidiyyah dengan imamnya Abu Manshur Al-Maturidi” (Lawami’ Al-Anwar Al-Bahiyyah, 1/73).

Artinya, kelompok mana saja yang menisbahkan dirinya kepada salah satu imam dari ketiga imam di atas berarti masih berhak menyandang predikat Ahlus Sunnah.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Memang tidak bisa dipungkiri terjadinya perselesihan dipicu oleh beberapa kitab yang membahas masalah tersebut namun kurang mendalam dan tidak adil. Sebagai contoh Abu Yusuf Madahat bin Hasan Ali Farraaj, menyebut aqidah Asy’ari sebagai aqidah yang kotor karena ia berasal dari mazhabnya Jahm bin Sofyan,  pendiri Jahmiyah. Mazhab Asy’ari dinilai sesat karena menakwilkan ayat-ayat sifat. (Fatawa al-Immah an-Najdiyah… I/514). Dengan kata lain penulis buku ini menuduh Asy’ari bukan termasuk Ahlus Sunnah.

Tentu saja penilain seperti ini menuai reaksi dari banyak ulama yang mayoritas menganut mazhab Asy’ari. Sebab yang dipahami oleh pengikut mazhab ini, Abu al-Hasan Ays’ari berpegang kepada Al-Quran dan Sunnah,  dan mengikuti jejak salaf.   Asy’ari tidak menciptakan madzhab baru tetapi menarasikan madzhab salaf dan memperjuangkan pandangan para sahabat Rasulullah Saw. Karena itu mengikuti Imam Asy’ari berarti mengikuti jejak salaf dan berpegang teguh terhadapnya, serta membangun argumentasi yang kokoh terhadap jejak mereka. Orang yang melakukan itu semua disebut sebagai Asy’ariyyah. (Tajuddin as-Subki, Thobaqot as-Syafi’iyyah al-Kubra, III/365).

Akidah Ahlus Sunnah adalah Asas dari Worldview Islam

Reaksi juga datang dari ulama Saudi yang dikenal sebagai pengikuit al-Atsariyyah, pengikut Imam Ahmad bin Hanbal. Dalam fatwanya, Lajnah Daimah menegaskan bahwa ulama yang menakwilkan sebagian sifat-sifat Allah atau menyerahkan sepenuhnya kepada Allah tentang hakekat makna sifat-sifat masih tergolong Ahlus Sunnah dalam masalah-masalah yang sesuai dengan para sahabat –radhiyallahu ‘anhum- dan para ulama salaf pada tiga abad pertama yang mendapatkan persaksian baik dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- . Namun mereka bersalah karena mentakwil nash yang menjelaskan tentang sifat-sifat Allah. (Fatawa Lajnah Daimah: 3/241).

Lebih tegas lagi apa yang disampaikan oleh Syaikh Utsamin bahwa tidak boleh mengatakan ahli bid’ah atau sesat kepada ulama yang masih menakwilkan ayat-ayat sifat, meski dalam pendapat mereka ada beberapa yang mengandung bid’ah. (Liqaat Bab Maftuh: 43/soal nomor: 9). Ini artinya, para ulama Saudi yang dikenal pengikut mazhab al-Atsyariyyah masih mengakui mazhab Asy’ari sebagai Ahlus Sunnah.

Terlepas dari perdebatan di kalangan ulama tentang boleh tidaknya menakwilkan ayat-ayat sifat Allah (Lihat, tulisan saya, “Mempertemukan Tiga Mazhab Ahlus Sunnah”), setidaknya penjelasan di atas sebagai bukti bahwa ketiga mazhab tersebut masih berada dalam rumah yang sama, yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Butuh Sikap Bijak

Demi menjaga ukhuwah islamiyah, sudah saatnya masing-masing kelompok tidak memperebutkan istilah Ahlus Sunnah menjadi miliknya sendiri. Di saat umat Islam membutuhkan persatuan demi tegaknya peradaban Islam, masalah ini seharusnya disudahi. Masing-masing harus sadar, ada yang lebih penting untuk dibahas bersama  yaitu persatuan dalam rangka menghadapi musuh-musuh Islam yang sudah ada di depan mata.

Selama kita masih memperebutkan istilah tersebut, musuh akan terus bertepuk tangan sambil menyusun kekuatan untuk menghancurkan umat Islam Ahlus Sunnah. Seyogyanya para Kiai, ustad tidak lagi membatasi Ahlus Sunnah dengan suatu kelompok atau organisasi tertentu. Apalagi kemudian membuat jargon-jargon bahwa hanya golongannya saja yang mengikuti sunnah sedang lainnya tidak. Kemudian dipersempit lagi dengan simbol-simbol tertentu yang menunjukkan bahwa merekalah Ahlus Sunnah sejati.

Demikian pula yang lainnya, seharusnya tidak mencibir atau mengucilkan saudaranya yang ingin mengamalkan sunnah-sunnah Rasul dengan berbagai cap negatif.

Dalam hal ini kita bisa ambil pendapat Imam Al Barbahari bahwa ajaran Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu adalah Islam” (Syarhus Sunnah, no 2).  Dengan kata lain Ahlus Sunnah adalah setiap orang Islam dimana saja berada yang mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabatnya.

Mengeluarkan Orang dari Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Kita harus selalu ingat firman Allah bahwa umat Islam adalah umat yang satu. Firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku” [Al-Anbiyaa : 92].

Demikian juga kepada para pencari ilmu juga harus selektif dan kritis ketika mencari ilmu. Belajarlah kepada banyak ustad atau Kiai supaya terbuka wawasannya. Jangan hanya membatasi kepada satu atau dua ustad. Contohlah para ulama salaf yang merasa tidak cukup jika hanya belajar kepada satu atau dua ulama. Rata-rata mereka memiliki guru yang jumlahnya sangat banyak.

Sedang kepada para Kiai dan ustad tidak ada salahnya mencontoh Imam Malik yang  menyuruh Imam Syafi’I belajar kepada ulama lainnya setelah ia merasa ilmu yang diberikan kepada Imam Syafi’I sudah habis. Alangkah bijak para  kiai dan ustad menyuruh para murid belajar kepada banyak guru, sebagaimana para ulama salaf kita belajar pada ulama lain.

Semoga Allah selalu membimbing kita dan menyatukan hati umat Islam.*

Sekretaris Majelis Intelektual dan Ulama Muda (MIUMI) Jawa Timur.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ahlus sunnahAhlus Sunnah Wal Jama’ahAntar Ahlus Sunnahmazhab al-Atsyariyyahmazhab Asy’arisunniUkhuwahulama Saudiumat Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Aleppo, Kota Para Ulama Ahlus Sunnah yang akan jadi ‘Kota Syiah”?
Tulisan selanjutnya Dituduh Menista, Habib Rizieq: Tuduhan itu Salah Alamat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?