Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Analisis Filologi Dalam Kajian Waktu Subuh

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 Desember 2020 14:55 2:55 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 Desember 2020 14:55
Bagikan
Bagikan

Oleh: Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar

 

Hidayatullah.com | FILOLOGI adalah studi tentang karya tulis masa lalu yang masih berbentuk tulisan tangan (manuskrip). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), filologi adalah ilmu tentang bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat di bahan-bahan tertulis. Obyek kajian filologi adalah naskah yang dipandang memiliki khazanah, nilai, dan kearifan.

Dalam kenyataannya, sebuah naskah karya seorang ulama adakalanya terdiri lebih dari satu salinan naskah yang ditulis dalam rentang waktu dan lokasi berbeda-beda. Adakalanya sebuah naskah ditulis ulang jauh setelah pengarang (mu’allif)nya meninggal dunia.

Naskah-naskah yang memiliki banyak salinan umumnya adalah naskah-naskah yang diajarkan oleh pengarangnya atau menjadi buku daras di sebuah madrasah atau halakah keilmuan. Dalam realitanya lagi, naskah-naskah (manuskrip) sebagai ditulis para ulama dan ilmuwan silam jumlahnya sangat banyak.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Menurut Profesor Faisal al-Hafyan (pakar manuskrip Arab asal Suriah), jumlah naskah manuskrip Arab saat ini mencapai tiga juta naskah, sepuluh persen di antaranya adalah naskah-naskah di bidang sains dan teknologi (matematika, fisika, kedokteran, astronomi, geografi, dan lain-lain). Khusus naskah-naskah astronomi, kajian tentangnya sangat jarang dilakukan, sementara kajian-kajian yang ada umumnya dilakukan oleh peneliti-peneliti (orientalis) Barat dengan motivasi akademik dan penelitian, bukan ibadah.

Beberapa diantaranya peneliti adalah: E.S. Kennedy (Amerika), Regis Moorlan (Prancis), David A King (Amerika), Carlo Nillino (Italia), Julio Samso (Spanyol), Edward C Sachau (Jerman), dan lain-lain.

Dalam diskursus waktu Subuh yang belakangan ini marak berkembang, para pengkaji modern kerap merujuk anggitan fajar shadiq sebagai dikemukakan astronom-astronom Muslim silam. Beberapa tokoh yang sering dikutip diantaranya: Al-Marrakusyi (w. stl 680 H), Al-Biruny (w. 440 H), Ibn Yunus (w. 399 H), dan tokoh-tokoh lainnya.

Menurut Al-Marrakusyi misalnya, dalam sejumlah literatur modern disebutkan bahwa standar kedalaman matahari di bawah ufuk untuk waktu fajar (Subuh) menurut astronom yang berasal dari Maroko ini adalah -20 derajat. Karya primer Al-Marrakusyi yang dapat dirujuk adalah “Jāmi’ al-Mabādy’ wa al-Ghāyāt fī ‘Ilm al-Mīqāt”.

Buku ini terhitung sebagai karya terbaik Al-Marrakusyi dan satu-satunya yang masih tersisa dan dapat ditemukan saat ini. Salinan naskah karya ini tersimpan dan tersebar di berbagai tempat di dunia yaitu di Mesir, Iran, dan Prancis.

Seperti disinggung di atas, karya ini memiliki lebih dari satu salinan naskah, yang mana antara satu salinan dengan lainnya terdapat perbedaan (angka) dalam menetapkan nilai kedalaman fajar shadiq. Dalam salinan naskah yang berasal dari Iran misalnya, disebutkan -16 derajat.

Namun dalam salinan naskah yang berasal dari Paris dan Topkapi tertera -20 derajat. Secara subtantif, perbedaan penyebutan angka ini patut ditelusuri oleh karena ada konsekuensi logis dari perbedaan angka ini yaitu terkait durasi waktu Subuh dan preseden diskursus waktu Subuh yang berkembang saat ini.

Perbedaan redaksi angka tersebut setidaknya memunculkan sejumlah pertanyaan, yaitu: berapa derajatkah kedalaman matahari di bawah ufuk yang merupakan angka autentik yang ditetapkan Al-Marrakusyi? Apa yang menyebabkan terjadinya perbedaan angka dalam salinan-salinan naskah tersebut?

Mungkinkah dua standar angka itu (-16 derajat dan -20 derajat) merupakan pernyataan Al-Marrakusyi? Atau, adakah salah satu dari angka itu merupakan interpretasi penyalin naskah? Berapa derajatkah standar fajar shadiq yang berkembang ketika itu? Sejumlah pertanyaan ini (disamping pertanyaan-pertanyaan lainnya) tentu membutuhkan kajian komprehensif. Salah satu pendekatan yang bisa digunakan adalah kajian filologi (Arab: tahqiq), yaitu dengan melakukan komparasi antar naskah, menganalisis usia teks, menelusuri situasi sosio-religius dan intelektual masa Al-Marrakusyi, menelusuri tren anggitan fajar shadiq di kalangan ulama/ilmuwan di zaman itu, dan lain-lain.

Melalui penelusuran usia teks “Jāmi’ al-Mabādy’ wa al-Ghāyāt fī ‘Ilm al-Mīqāt” karya Al-Marrakusyi, diketahui bahwa salinan naskah Iran ditulis sekitar tahun 769 H. Sedangkan naskah Paris (Prancis) ditulis setelah satu abad (100 tahun) dari usia pengarang, dan naskah Topkapi (Turki) ditulis tahun 747 H.

Dengan demikian tiga salinan naskah ini ditulis setelah pengarangnya (Al-Marrakusyi) meninggal dunia. Selainjutnya salinan naskah Paris adalah yang paling belakangan dan paling jauh dari zaman pengarang.

Sedangkan analisis tren fajar shadiq di zaman itu (abad ke-7 H) dapat ditelusuri dengan menelaah karya-karya para astronom Muslim yang menyebutkan standardisasi waktu fajar, diantaranya Nashiruddin al-Thusi (w. 672 H) yang menetapkan dip Subuh -18 derajat, dan Mu’ayyid ad-Din al-‘Urdhi (w. 664 H) yang menetapkan dip Subuh -18 dan -19 derjat. Lantas, mengapa angka -20 derajat adalah angka yang paling populer dinisbatkan kepada Al-Marrakusyi? Jawabannya adalah diduga tokoh-tokoh dan peneliti modern (yang umumnya orang Barat) hanya merujuk dan mengutip salinan naskah yang ada di Eropa yaitu di Perpustakaan Paris dan Istanbul yang mana keduanya menyebutkan -20 derajat, dan selanjutnya dikutip secara turun-temurun.

Jika tren yang berkembang adalah -18 derajat, mengapa pada salinan naskah Paris dan Topkapi tertulis 20 derajat? Jawabannya ada dua kemungkinan: pertama, kesalahan penulisan sang penyalin naskah (nāsikh), atau kedua, merupakan interpretasi penyalin naskah itu sendiri.

Patut dicatat, menyalin naskah adalah profesi profesional di peradaban Islam (yang dikenal dengan warraq) dengan upah tertentu yang berkembang di peradaban Islam. Profesi ini dapat dilakukan siapa saja asal ia piawai dalam menulis betapapun tidak menguasai substansi yang ditulis.

Dari analisis filologis singkat di atas dapat disimpulkan bahwa angka -20 derajat yang selama ini dinisbatkan kepada Al-Marrakusyi tidak autentik. Wallah a’lam.*

Penulis adalah Kepala Observatorium Ilmu Falak UMSU, Universitas Muhammadiyah Sumetera Utara

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Analisis FilologiAstronomfajarwaktu subuh
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pembubaran FPI, Sekum PP Muhammadiyah Minta Pemerintah Bersikap Adil
Tulisan selanjutnya Pemukim ‘Israel’ Masuki Masjid Al-Aqsha Meskipun Lockdown Covid-19 dengan Pengawalan Polisi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?