Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Arab Pegon, Huruf Nusantara yang Hampir Musnah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Mei 2022 16:16 4:16 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 Mei 2022 18:00
Bagikan
Arab Pegon Nusantara
Bagikan

Sejarah penulisan Arab Pegon (Arab Jawi) di Nusantara sudah ada sejak tahun 1300 M, seiring masuknya Islam menggantikan animisme, Hindu dan Budha, kini masih digunakan di pesantren bahkan di Tanah Melayu

Hidayatullah.com | DI NUSANTARA, banyak ditemukan berbagai karya ulama terdahulu dalam berbagai bidang. Contohnya seperti Suluk Sunan Bonang (Head Book Van Bonang) yang dipercaya sebagai karya Sunan Bonang, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja-Raja Pasai, Risalah Tasawuf Hamzah Fansuri, karya Kiai Rifai Kalisasak, karya Kiai Shaleh Darat, dan lain-lain.

Uniknya, karya-karya ulama Nusantara tersebut kebanyakan ditulis dengan aksara Arab Pegon, baik karya asli atau terjemahan dari kitab-kitab yang berliteratur Arab. Huruf  Pegon berasal dari lafal Jawa pego, yang mempunyai arti menyimpang.

Hal ini dikarenakan memang huruf Pegon ini menyimpang dari literatur Arab dan juga menyimpang dari literatur Jawa. Arab Pegon ini disebut pula Arab Pego atau Arab Jawi, yaitu, tulisan yang menggunakan huruf Arab atau huruf hijaiyah, akan tetapi dalam praktik bahasanya menggunakan bahasa Jawa atau bahasa daerah lainnya yang sesuai dengan selera orang yang ingin menggunakannya.

Di pesantren-pesantren Salafiyah di Jawa sudah mentradisi pengunaan huruf Arab Pegon ini dalam memahami teks-teks Arab dan kitab kuning. Akan tetapi, untuk kalangan yang lebih luas, huruf Arab Pegon dikenal dengan istilah huruf Arab Melayu karena ternyata huruf Arab berbahasa Indonesia ini telah digunakan secara luas di kawasan Melayu mulai dari Terengganu (Malaysia), Aceh, Riau, Sumatera, Jawa (Indonesia), Brunei, hingga Thailand bagian Selatan.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Maka tidak mengherankan, jika kita membeli produk-produk makanan di kawasan dunia Melayu (Malaysia, Thailand Selatan, Brunei, dan beberapa wilayah di Indonesia) dapat dipastikan terdapat tulisan Arab Pegon dalam kemasannya walaupun dengan bahasa yang berbeda. Bahasa tersebut disesuaikan dengan tempat atau negara yang mengeluarkan produk-produk tersebut.

Huruf Arab Pegon ini mempunyai keunikan tersendiri. Jika dilihat dari kejauhan, tulisannya seperti tulisan Arab pada biasanya. Namun, kalau dicermati sebenarnya, susunannya atau rangkaian huruf-hurufnya bukan susunan bahasa Arab.

Orang Arab asli tidak akan bisa membaca tulisan Arab Pegon. Seandainya mereka bisa membacanya, niscaya tidak sejelas dengan bacaan orang Jawa atau Melayu asli.

Membedakan huruf Arab Pegon dangan Arab asli sangat mudah. Penulisan Arab Pegon menggunakan semua aksara Arab Hijaiyah, dilengkapi dengan konsonan abjad Indonesia yang ditulis dengan aksara Arab yang telah dimodifikasi.

Modifikasi huruf Arab ini dikenal sebagai huruf jati Arab Melayu, berwujud aksara Arab serapan yang tak lazim. Misalnya untuk konsonan ‘p’, diambil huruf fa’ dengan tiga titik di atasnya dan sebagainya. Selain itu, huruf Arab Pegon meniadakan syakal (tanda baca) layaknya huruf Arab gundul.

Kepedulian Pemerintah

Sejarah penulisan Arab Pegon di Nusantara diperkirakan ada sejak tahun 1300 M/1400 M seiring dengan masuknya agama Islam menggantikan kepercayaan Animisme, Hindu, Budha. Mengenai siapa yang menemukan huruf Arab Pegon ada beberapa pendapat. Menurut suatu catatan, ia digagas oleh RM. Rahmat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel di Pesantren Ampel Dentha Surabaya.

Sedangkan menurut pendapat lain, penggagas huruf Arab Pegon adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Ada juga yang mengatakan bahwa huruf Arab Pegon ini ditemukan oleh Imam Nawawi Al-Bantani. Ada juga yang berpendapat sudah ada sebelum tokoh-tokoh tersebut.

Sayangnya, huruf Arab Pegon kini tak lagi dikenal di masyarakat secara luas. Padahal menurut sejarahnya, huruf Arab Pegon ini telah digunakan secara luas oleh para mubaligh, sastrawan, pedaganag hingga politikus di kawasan dunia Melayu.

Pergeseran huruf Arab Pegon menjadi huruf Latin dan  Rumawi dimuali saat Kemal Attaturk menggulingkan kekuasaan khalifah Ustmani terakhir, Sutan Hamid II pada tahun 1024. Kemal memerintahkan mengganti tulisan Arab dengan Latin dan Rumawi, sehingga dunia Melayu juga banyak mengikutinya.

Peran penjajah juga mempunyai pengaruh dalam menggrogoti berkurangnya pemahaman tentang huruf Arab Pegon. Dalam menjalankan pemerintahannya, penjajah menggunakan huruf Latin dalam urusan negara dan kemasyarakatan. Ini yang mengakibatkan huruf Arab Pegon terisolir di dunia pesantren.

Namun pihak pesantern tidak tinggal diam. Untuk mempertahankan huruf tersebut, para ulama mengeluarkan fatwa yang menolak menggunakan produk-produk penjajah, termasuk tulisan mereka. Mereka  menggunakan Pegon sebagai simbol perlawanan, juga sebagai bahasa sandi untuk mengelabuhi penjajah pada saat berkomunikasi dengan sesama anggota pesantren dan juga beberapa pahlawan Nasional yang berasal dari golongan santri.

Huruf Pegon semakin tersingkir dengan adanya kongres bahasa yang diadakan di Singapura pada tahuun 1950 yang memperkuat kedudukan huruf  Latin dan Rumawi. Salah satu keputusan dalam kongres tersebut menghasilkan pembentukan dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia yang mempelopori penggunaan abjad Latin. Saat itu hampir semua penerbit Koran, majalah, buku terpaksa mengganti huruf Arab Pegon dengan huruf Latin.

Namun kini kesadaran untuk menghidupkan kembali bahasa Arab Pegon mulai muncul kembali. Banyak pihak yang berharap penggunaan huruf tersebut dijadikan sebagai bahan kajian yang serius. Diantara yang melakukanknya itu adalah  lasika Media Malaysia yang menggait Pusat Pengajian Bidang Terpadu (CIAS), Universitas Kyoto Jepang untuk menerbitkan kembali sebuah majalah dengan menggunakan bahasa Arab Pegon.

Ini memang penting dilakukan agar masyarakat Melayu tidak kehilangan akar bahasanya yang bernuansa Islam. Banyak sekali ilmu-ilmu ulama terdahulu yang bertuliskan Arab Pegon. Untuk memahami karya tersebut tentunya harus memahami bahasa Arab Pegon.

Semoga pihak pengambil kebijakan di negara-negara Melayu memperhatikan masalah ini dengan serius supaya huruf Arab Pegon tidak hilang ditelan bumi.*/Bahrul Ulum

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Arab PegonAsal Usul Arab PegonnusantaraSejarah Arab Pegonulama nusantara
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Habib Bahar Smith Pertanyakan Kunjungan Jokowi Hingga Konser Ketua MPR dalam Sidang Kasus Hoaks
Tulisan selanjutnya Dicurigai akan Melakukan Kekerasan Prancis Tangkap 11 Pemuda Kelompok Ultra-Kanan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI Apresiasi Menko Yusril atas Ruang Dialog Strategis antara Pemerintah dan Ormas Islam

Berita
23 Juli 2026 19:00
MUI Siapkan RUU Pencegahan dan Penanggulangan LGBTQ, Akan Dibahas di KUII VIII 2026
KUII VIII Bahas Naskah Akademik dan RUU Terkait LGBT, Akan Diserahkan ke Presiden dan DPR
MUI Akan Surati Presiden dan Kapolri Terkait Penangkapan Warga Negara Palestina
MUI Siapkan Fatwa ZIS untuk Pembayaran Iuran BPJS Kesehatan Pekerja Rentan

Terbaru

  • Pemerintah Optimistis Ekonomi Syariah Jadi Motor Pertumbuhan Nasional
  • ‘Israel’ Izinkan Pasukan Internasional Masuk Gaza, Akankah Penderitaan Warga Palestina Berkurang?
  • Adiwarman Karim Ingatkan Pertumbuhan Ekonomi Harus Mensejahterakan Semua Kelompok Masyarakat
  • Jusuf Kalla Indonesia Harus Ambil Peran Lebih Besar dalam Perdamaian Timur Tengah
  • Mahfud MD Dukung Rekomendasi MUI, Sebut Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Diatur UU
  • Bakar Dua Masjid, Gerombolan Pemukim Ilegal Yahudi Picu Kerusuhan di Tepi Barat
  • Mahfud MD: Aturan Pidana Terkait LGBT Bisa Diterapkan Jika Ada Kesepakatan Nasional
  • KH. Naspi Arsyad: Pemuda Jangan Terjebak Zona Nyaman
  • Hanifuddin Chaniago: Program Kerja Harus Menjadi Gerakan Nyata Pemuda Hidayatullah
  • Deputi Kemenpora Buka Rakerwil Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta: Jadilah Penggerak Bangsa Menuju Indonesia Emas

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?