Hidayatullah.com– Kejaksaan Bulgaria menetapkan 6 orang sebagai terdakwa kasus perdagangan manusia setelah 18 orang migran Afghanistan ditemukan tewas di dalam sebuah truk yang dicampakkan di sebuah jalan tak beraspal di dekat ibukota Sofia hari Jumat (17/2/2023).
Jaksa mengatakan truk tersebut ditinggalkan begitu saja di dekat desa Lokorsko setelah sopir truk dan keneknya mendapati banyak dari 52 migran, yang disembunyikan di dalam kompartemen rahasia di dalam truk,
mengalami pusing dan sebagian di antaranya bahkan sudah tidak bernyawa.
Sopir truk dan keneknya juga dijerat dakwaan atas kematian para migran tersebut, kata pihak kejaksaan.
Meskipun ada suara pukulan keras dan berkelanjutan di kabin dari tempat persembunyian para migran, sopir truk menolak untuk berhenti, kata Borislav Sarafov, kepala Dinas Penyelidikan Nasional dan wakil kepala kejaksaan, kepada para reporter seperti dilansir Reuters hari Ahad (19/2/2023).
Ke-18 korban meninggal karena kombinasi kekurangan oksigen di ruang tertutup dan kesulitan bernapas karena mereka dijejalkan ke dalam truk “seperti di dalam kaleng”, kata Sarafov.
“Para korban meninggal secara perlahan dan menyakitkan,” imbuhnya.
“Kasus ini menunjukkan ketidakpedulian yang ekstrem dan menunjukkan bahwa migran hanya dianggap sebagai barang yang harus dikirim dari satu tempat ke tempat lain, terlepas dari apakah mereka hidup atau mati,” kata Sarafov.
Sebanyak 34 migran lainnya, yang dilarikan ke rumah sakit pada hari Jumat, masih dirawat dan dalam kondisi stabil, kata pihak berwenang.
Lima dari mereka yang didakwa sudah ditahan, sementara salah satu tersangka, yang berhasil melarikan diri ke luar Bulgaria, sedang diburu dengan surat perintah penangkapan Eropa.
Jaksa mengatakan jaringan penyelundup manusia itu membawa migran dari perbatasan dengan Turki menyeberang melintasi Bulgaria menuju Serbia, dari sana kemudian mereka akan melanjutkan perjalanan utamanya ke Inggris, Jerman atau Prancis.
Ribuan orang lari menyelamatkan diri dari peperangan dan kemiskinan yang melanda Timur Tengah, Afrika dan Asia dan mencoba mencari peruntungan nasib di Eropa. Bulgaria berusaha mengatasi peningkatan arus masuk migran dari negara tetangga Turki dalam satu tahun terakhir.*