Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Paus Yohanes Paulus II Mengetahui Soal Pedofilia Para Pendeta dan Berusaha Menyembunyikannya

Ama Farah
Terakhir diupdate: 8 Maret 2023 07:56 7:56 am
Ama Farah
Dipublikasikan 8 Maret 2023 07:38
Bagikan
Bunda Teresa bersama Paus Paulus II.
Bagikan

Hidayatullah.com– Mendiang Paus Yohanes Paulus II (St. John Paul II) mengetahui perihal pedofilia atau pelanggaran-pelanggaran seksual yang dilakukan oleh para pendeta terhadap anak-anak dan berusaha menyembunyikannya semasa dia menjabat uskup agung di negara asalnya Polandia. Begitu menurut laporan televisi lokal.

Dilansir Associated Press, dalam sebuah kisah yang ditayangkan Senin malam (7/3/2023), kanal televisi Polandia TVN24 menyebut nama tiga pendeta yang dipindahtempatkan oleh Uskup Agung Karol Wojtyla (nama asli dan jabatan Paus Paulus II kala itu) ke sejumlah paroki atau dikirim ke biara selama tahun 1970-an, termasuk yang dikirim ke Austria, setelah mereka dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

Dua dari pendeta itu, Eugeniusz Surgent dan Jozef Loranc, pada akhirnya sempat mendekam dalam sel penjara meskipun tidak lama atas pencabulan yang dilakukannya, lapor TVN24. Kanal televisi itu mendapati temuan tersebut setelah melakukan investigasi selama 2 tahun enam bulan.

Wojtyla menjabat sebagai uskup agung Krakow dari tahun 1964 hingga 1978, ketika ia menjadi kemudian diangkat menjadi Paus Yohanes Paulus II. Dia meninggal pada tahun 2005 dan dinyatakan sebagai orang kudus atau suci (saint/santa) pada tahun 2014 setelah melalui proses “jalur cepat”.

Laporan TVN24 itu mengutip dokumen-dokumen polisi rahasia Polandia di era Komunis, yang memang sengaja mengumpulkan informasi seputar kebobrokan gereja dan memiliki informan-informan di dalam gereja. Dokumen-dokumen itu disimpan di arsip negara National Remembrance Institute. Wartawan Marcin Gutowski juga berbicara dengan sejumlah korban dan seorang pria yang mengatakan dia memberi tahu Wojtyla selama tahun 1970-an tentang pelecehan oleh Surgent. Namun, tidak ada pendeta yang dipecat kala itu.

Baca Juga

Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat

Kanal televisi itu juga mengutip dari sebuah surat yang katanya ditulis oleh Wojtyla dan ditujukan kepada uskup agung Wina (Austria) kala itu, Franz Koenig, yang isinya rekomendasi penempatan seorang pendeta di bawah naungannya. Di dalam surat itu Wojtyla tidak mengatakan bahwa Boleslaw Sadus sudah mencabuli sejumlah anak lelaki, dan pendeta itu kemudian diberi jabatan pendeta paroki di Austria. Wojtyla masih terus menjalin komunikasi dengan Sadus termasuk setelah dianggap menjadi Paus.

Investigasi TVN24 menyimpulkan bahwa tidak diragukan lagi Wojtyla mengetahui pencabulan yang dilakukan oleh para pendeta bawahannya terhadap anak-anak di bawah umur dan berusaha menyembunyikannya.

Tayangan tersebut menampilkan seorang jurnalis yang pernah menulis perihal kasus-kasus pedofilia para pendeta di wilayah Keuskupan Krakow dan yang berpendapat bahwa Wojtyla bereaksi sejalan dengan prosedur Gereja Katolik pada masa itu.

Temuan ini secara bertahap akan mengarah pada “dekonstruksi citra Yohanes Paulus II yang telah kita gunakan sejauh ini,” kata biarawan asal Republik Dominika Paweł Gużyński pada hari Selasa di TVN24, seraya menambahkan bahwa sebagian orang mungkin tidak siap menerima kenyataan baru yang mencoreng reputasi orang kudus yang sangat mereka puja.

Pejabat gereja Polandia yang bertugas melindungi anak di bawah umur mengatakan dalam komunike hari Selasa bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum tindakan Wojtyla dapat “dinilai secara adil”. Mereka juga menekankan bahwa gereja siap untuk mendengar keterangan dari korban pelecehan dan siap untuk mendukung mereka.

Yohanes Paulus II bukan satu-satunya paus yang mendapatkan sorotan tajam terkait penanganan para pendeta predator seks.

Paus yang menjadi penggantinya, Benediktus XVI, yang bersikap lebih tegas dalam masalah itu dan memecat ratusan pendeta pedofil, juga diketahui pernah menyembunyikan kasus serupa semasa dia menjabat uskup di Munich, menurut laporan hasil investigasi independen yang diamanatkan oleh Gereja Katolik Jerman. Kasus-kasus pendeta pedofil merupakan salah satu faktor pengunduran dirinya pada Februari 2013 sebagai paus pemimpin tertinggi Gereja Katolik yang seharusnya dijabat sampai mati.

Di tengah-tengah laporan intensif media di seluruh penjuru dunia perihal kasus-kasus pencabulan oleh para pendeta, pada tahun 2013 Keuskupan Katolik Polandia menunjuk sejumlah orang untuk mengkoordinasikan upaya perlindungan terhadap anak-anak di bawah umur dan menyelidiki laporan yang masuk terkait kasus-kasus pedofilia yang dilakukan rohaniwan gereja.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headline
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sudah 19 Orang Korban Kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Ahok Masih Belum Bicara
Tulisan selanjutnya Video Pelajar Putri Iran Diracun Tersengal-sengal Keluar dari Kelas

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang

5 Juni 2026 05:00
Berita

Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

4 Juni 2026 21:20
Berita

Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

4 Juni 2026 14:01
Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

4 Juni 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?