Hidayatullah.com– Hakim di pengadilan kota Boston, hari Rabu (30/8/2023), memutuskan bahwa bekas kardinal Amerika Serikat Theodore McCarrick secara kognitif tidak layak didudukkan sebagai terdakwa kasus pedofilia yang terjadi lima puluh tahun silam.
Berdasarkan kesaksian seorang psikolog forensik bahwa pria berusia 93 tahun ini menderita demensia, McCarrick tidak “kompeten untuk diadili,” kata hakim negara bagian Massachusetts, Paul McCallum.
Dengan adanya keputusan tersebut, pihak kejaksaan negara bagian menarik berkas dakwaan bekas kardinal itu, rohaniwan Katolik AS dengan jabatan tertinggi yang pernah diajukan ke pengadilan dalam kasus pencabulan anak di bawah umur di lingkungan gereja.
McCarrick, yang duduk terdiam saat mengikuti sidang melalui konferensi video, didakwa pada tahun 2021 dengan tiga tuduhan penyerangan tidak senonoh dan penyerangan fisik terhadap seorang anak laki-laki berusia 16 tahun.
Korban tidak disebutkan namanya di dalam dakwaan, tetapi sejumlah kabar menyebutkan dia adalah seorang pria bernam James Grein yang kini berusia 64 tahun.
Pencabulan terjadi pada tahun 1974 di kampus Wellesley College di Massachusetts saat berlangsung pesta pernikahan saudara lelaki during Grein.
Korban mengatakan McCarrick menggiringnya ke sebuah ruangan dan meraba-raba alat kelaminnya sambil”meraaplkan doa-doa”, menurut berkas dakwaan.
Grein, yang sekarang berani tampil ke publik untuk menceritakan kasusnya, mengatakan McCarrick, yang menyebut dirinya sebagai “Uncle Teddy,” terus mencabulinya selama beberapa tahun, lapor AFP.
Dakwaan diajukan dua tahun setelah McCarrick dikeluarkan dari Gereja Katolik, menjadikannya sosok pemuka Katolik dengan jabatan tertinggi pertama yang pernah dipecat di era modern.
McCarrick selama bertahun-tahun menduduki jabatan tertinggi di Gereja Katolik di Amerika Serikat, dan sepanjang itu pul di balik pintu dia kerap bahkan rutin melakukan kontak seksual dengan anggota seminari dewasa maupun anak-anak, menurut hasil penyelidikan Vatikan.
Perilaku seksual bejat itu dilakukan McCarrick selama puluhan tahun. Vatikan terkena tuduhan membiarkan perilaku iblisnya itu karena tidak menanggapi pengaduan-pengaduan yang masuk dan justru memberikan promosi kepada rohaniwan itu ke jabatan yang lebih tinggi.
Kebejatan McCarrick baru mencuat ke publik pada 2018, dua belas tahun setelah dia pensiun, ketika dia dicopot gelar kardinalnya.
Setahun kemudian dia didepak dari Gereja Katolik dan kehilangan statusnya sebagai pendeta.
Dalam laporan resmi tahun 2020, Vatikan mengakui bahwa McCarrick memperoleh promosi jabatan meskipun banyak pengaduan yang masuk perihal pencabulan yang dilakukannya.
Laporan yang disusun berdasarkan hasil wawancara dengan para korban itu memaparkan perihal pelanggaran seksual, serangan seksual, aktivitas seksual yang tidak diinginkan, kontak fisik di bagian organ intim yang dilakukan oleh McCarrick , termasuk bagaimana dia mendekati para korban saat sesi pengakuan dosa.
Laporan Vatikan itu menyebutkan bahwa sebanyak 17 orang memaparkan pencabulan yang dilakukan oleh McCarrick saat mereka masih anak-anak. Pencabulan terhadap mereka tidak hanya terjadi satu kali dan usia mereka paling muda kala itu 12 tahun. Ketika melakukan aksinya McCarrick tidak sungkan-sungkan membuat korban tidak berdaya dengan bantuan minuman beralkohol.
“Sejumlah individu melaporkan merasa tidak berdaya untuk menyatakan keberatan atau menolak rayuan fisik atau seksual mengingat posisi otoritas McCarrick,” kata laporan itu.
Vatikan dalam laporannya juga mengatakan bahwa persahabatan McCarrick dengan mendiang Paus Yohanes Paulus II “tampaknya mempengaruhi pembuatan keputusan” oleh pemimpin Katolik itu dengan mengabaikan pengaduan yang masuk sehingga rohaniwan asal Amerika itu diangkat menjadi kardinal.
McCarrick masih harus menghadapi gugatan kriminal terpisah yang diajukan pada bulan April di Wisconsin oleh Grein terkait pencabulan yang terjadi di negara bagian itu pada 1977.*