Hidayatullah.com—Gereja Metodis di Inggris mengeluarkan ‘Panduan Bahasa Inklusif’ yang menasihati para pengikutnya untuk menghindari penggunaan istilah terkait gender seperti “suami” dan “istri” karena dianggap tidak mencerminkan “kenyataan bagi banyak orang”.
Melalui panduan bahasa yang dirilis pada Desember 2023, diusulkan beberapa kata lain sebagai alternatif antara lain “keluarga”, “pasangan”, dan “wali”.
“Sebagai umat Kristiani, kita perlu memiliki keberanian untuk mengikuti diskusi yang terkadang sulit, mengakui bahwa kita telah mengasingkan orang, mendengarkan dengan rendah hati, bertobat dari segala bahasa yang menyakitkan dan menjaga cara kita mendengarkan dan apa yang kita katakan atau tulis, dalam Roh Kristus,” demikian panduan bahasa yang akan diperbarui setiap enam bulan, dikutip The Christian Post pada 31 Desember.
Selain kata suami istri, pemandu bahasa gereja juga mengimbau umatnya menghindari kata orang tua dan suku agar terhindar dari penggunaan bahasa negatif.
Peraturan ini juga melarang retorika anti-Semit dan Islamofobia serta menyarankan para pengikutnya untuk menghindari penggunaan kata-kata yang menggambarkan status imigrasi seseorang atau tingkat kemampuan bahasa Inggris.
Namun tindakan Gereja Metodis itu diprotes oleh seorang pendeta karena dianggap bukan ajaran Kristen. “Ini bukan agama Kristen,” kata Pastor Calvin Robinson, seraya mengklaim bahwa tindakan gereja tersebut berakar pada teori kritis.
“Teori Kritis adalah neo-Marxisme. Ini adalah ideologi komunis, bertentangan dengan iman Kristen. Tidak mungkin menjadi komunis dan Kristen. Kita harus membuat pilihan. Terimalah ideologi yang trendi tapi beracun ini, atau terimalah perintah Tuhan,” kata pendeta di platform X itu.
Denominasi Kristen juga mengeluarkan resolusi pada tahun 2021 yang menyetujui pernikahan sesama jenis dan mengakui pasangan yang hidup bersama.*