AKHIR tahun 2007, dengan delapan orang rekan dari Indonesia, saya sedang menempuh program pendek di Crowder College Neosho Missouri USA. Sebuah kota kecil dengab jarak sekitar 6 jam berkendara dengan mobil dari bukota Missouri St. Louis. Mayoritas penduduknya menganut Kristen. Tak ada satupun masjid yang ada di kota ini.
Saat kami mengkonfirmasi ke pihak kampus tentang fasilitas tempat ibadah bagi Muslim. Mereka menjawab bahwa memang sengaja tidak disediakan dengan alasan bahwa apabila disediakan, maka akan muncul kemungkinan umat agama yang lain akan minta fasilitas tempat ibadah juga untuk mereka.
Kami putuskn untuk shalat 5 waktu kami kerjakan di salah satu kamar kami dengan berjamaah. Kebetulan, saat itu berbarengan dengab bulan suci Ramadhan, sehingga tarawih pun kami kerjakan di kamar yang ukurannya lumayan besar.
Hanya saja, yang menjadi masalah adalah shalat Jumat. Setelah kami mencari informasi, ternyata ada masjid di dua kota dekat kota kami tinggal, yakni di Springfield dan Joplin.
Setelah berdiskusi dengan pihak kampus, akhirnya mereka mau mengantar kami setiap Jumat ke masjid. Kami memutuskan untuk ke Springfield dulu, sebuah Islamic Center yang beberapa waktu lalu sempat juga terkena serangan percobaan pembakaran.
Hari Jumat yang lain, kami memutuskan untuk mencoba ke Joplin, karena ada informasi bahwa ada toko Asia yang menjual mie, beras dan tempe. Maklum, kami berdelapan berasal dari kampung yang sangat akrab dengan yang namanya tempe.
Bekas Gereja
Setibanya di Joplin dan mulai mendekati masjid, saya agak kaget dengan arsitektur bangunannya. Masjid Joplin ini ukurannya jauh lebih besar daripada yang di Springfield dan dari luar saya merasa bangunan ini mirip sekali dengan gereja.
Saat memasuki masjid, nampak sepatu-sepatu berjejer rapi dan seluruh lantai tertutupi karpet yg lembut dan tebal. Bangunan bagian dalamnya agak menyerong.
Kecurigaan saya kayaknya benar karena nampak pada bagian ujung ruangan terlihat model jendela yang khas gereja di mana mereka biasa menaruh patung Yesus. Arah kiblat diruangan masjid ini tepat di sebelah kanan pintu masuk. Sedangkan jendela lurus dengan pintu masuk.
Kekagetan saya makin berlanjut saat sang khotib mulai berkhotbah. Dari postur, warna kulit, semua mirip sekali dengan orang Indonesia, meskipun bahasa Inggrisnya sudah mirip orang Amerika.
Selesai shalat Jumat, salah satu jamaah berbincang-bincang dengan kami dan bertanya asal kami. Rraut mukanya terlihat sangat gembira dan dengan segera ia memanggil sang khotib sekaligus imam tadi. Ternyata benar, beliau asli orang Indonesia berasal dari Aceh. Namanya, Ustad Lahmudin.
Ia mengajak kami berpindah ruangan yang ternyata ruangannya cukup besar dengan banyak meja bundar di dalamnya.
“Ini adalah ruangan tempat para jamaah biasa kumpul dan makan bersama,” ujar Ustad Lahmudin.
Tampak di sebelah kanan pintu masuk terdapat area dapur dengan beberapa alat masaknya. Ia menyampaikan bahwa di dalam kulkas juga terdapat daging halal.
“Apabila ada jamaah yang berminat, mereka bisa mengambilnya dan meninggalkan uangnya di atas kulkas, “ ujarnya sambil menunjuk tempat mangkuk kecil yang disediakan.
Menurut Ustad Lahmudin, masjid Joplin ini belum lama berfungsi. Tahun itu, 2007, masih beberapa bulan saja digunakan. Maklum, masjid ini awalnya adalah sebuah gereja. Karena sepi ditinggal jamaahnya, akhirnya bangunan ini dibeli komunitas Muslim Joplin yang kebanyakan mereka bekerja di rumah sakit di kota itu.
Ustad Lahmudin sendiri sebelumnya di New York bersama Ustad Shamsi Ali dan akhirnya memutuskan pindah ke Joplin saat mendapat informasi akan dibukanya masjid ini dan belum ada imam.
“Saya menurunkan sendiri secara perlahan-lahan patung Yesus,” ujarnya.
Selain ada ruangan shalat dan dapur, masjid ini juga dilengkapi ruang kelas yang dipakai saat Sunday Class (kelas hari minggu untuk anak-anak kecil belajar mengngaji) dan belajar Islam.
Selain diajak berkeliling, hari itu para jamaah silih berganti memasuki ruangan tempat kami berbincang-bincang. Selain menyapa, ada pelukan hangat dari mereka yang masih terkenang.
Saat ditanya tentang ukhuwah yang lebih terasa di sini daripada di Indonesia, Lahmudin menjawab ringan, “itu karena jumlah umat Muslim di sini masih minoritas berbeda dengan di Indonesia. sehingga saat mereka bertemu dengab saudara seiman, maka kebahagiaan yg luar biasa akan muncul.”
Hari Jumat yang hangat telah kami habiskan bertemu dengan saudara seiman di Masjid Joplin.
Satu momen yang tidak kami lupakan adalah saat hari Thanksgiving, di mana saat itu kampus tutup dan semua mahasiswa di asrama sedang pulang.
Dua akhwat rombingan memutuskan untuk menerima tawaran salah satu dosen kami untuk menginap beberapa hari di rumahnya.
Saya, lebih memilih mengontak Ustad Lahmudin yang telah mengijinkan kami menginap di masjid Joplin beberapa hari.
Hari pertama sebelum ke masjid, kami dijemput oleh salah satu jamaah yang merupakan seorang dokter. Sebelumnya, kami diundang mampir terlebih dulu ke rumahnya.
Meskipun menginap di masjid, selalu saja ada jamaah yang datang serta mengantar makanan. Bahkan ada jamaah yang membawa daging kalkun besar buat kami. Ada pula jamaah, seorang imigran dari Palestina yang mengajak kami ke rumahnya untuk makan bersama. Tak lupa, Ustad Lahmudin membawa kami ke rumahnya dengan menyediakan Soto yang sudah lama kami rindukan. Subhanallah, indah sekali persaudaraan antar iman.
Akhir Januari 2008, saya kembali ke Indonesia. Kenangan hangat itu telah lewat 4 tahun lamanya.
Namun betapa kagetnya mengetahui beberapa hari lalu masjid yang biasa kami gunakan shalat Jumat itu telah lumat dibakar oleh orang yang tak bertanggung jawab. [Baca: FBI Selidiki Masjid yang Dibakar]
Kabarnya, di saat kejadian, Ustad Lahmudin baru saja meninggalkan masjid setelah tengah malam. Tiga jam kepergiannya, masjid yang menjadi andalan kaum Muslim di daerah itu telah hangus dilalap api.
Semoga Ustad Lahmudin dan jamaah Muslim di Joplin diberikan kesabaran dalam menghadapi ujian ini di bulan Ramadhan ini. Semoga pula Allah menggantinya lebih baik.*/Dwi Susanto, Dosen di PENS-ITS, web kangtanto.com.