Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita dari Anda

Mengenang Keramahan Muslim Joplin yang Masjid nya Dibakar

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Agustus 2012 14:31
Bagikan
Penulis dengan warga Muslim di Joplin
Bagikan

AKHIR tahun 2007, dengan delapan orang rekan dari Indonesia, saya sedang menempuh program pendek di Crowder College  Neosho Missouri USA. Sebuah kota kecil dengab jarak sekitar 6 jam berkendara dengan mobil dari bukota Missouri St. Louis. Mayoritas penduduknya menganut Kristen. Tak ada satupun masjid yang ada di kota ini.

Saat kami mengkonfirmasi ke pihak kampus tentang fasilitas tempat ibadah bagi Muslim. Mereka menjawab bahwa memang sengaja tidak disediakan dengan alasan bahwa apabila disediakan, maka akan muncul kemungkinan umat agama yang lain akan minta fasilitas tempat ibadah juga untuk mereka.

Kami putuskn untuk shalat 5 waktu kami kerjakan di salah satu kamar kami dengan berjamaah. Kebetulan, saat itu berbarengan dengab bulan suci Ramadhan, sehingga tarawih pun kami kerjakan di kamar yang ukurannya lumayan besar.

Hanya saja, yang menjadi masalah adalah shalat Jumat. Setelah kami mencari informasi, ternyata ada masjid di dua kota dekat kota kami tinggal, yakni di Springfield dan Joplin.

Setelah berdiskusi dengan pihak kampus, akhirnya mereka mau mengantar kami setiap Jumat ke masjid. Kami memutuskan untuk ke Springfield dulu, sebuah Islamic Center yang beberapa waktu lalu sempat juga terkena serangan percobaan pembakaran.

Baca Juga

Puluhan Murid SPI Jakarta Angkatan ke-13 Dinyatakan Lulus  
Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga
Hidayatullah Samarinda Dirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Outbound Seru di TSOT  Prigen Pasuruan
Tutup Dauroh, Pesantren Hidayatullah Kupang Berbagi Bingkisan Ramadhan Kepada Warga non-Muslim Sekitar

Hari Jumat yang lain, kami memutuskan untuk mencoba ke Joplin, karena ada informasi bahwa ada toko Asia yang menjual mie, beras dan tempe. Maklum, kami berdelapan berasal dari kampung yang sangat akrab dengan yang namanya tempe.

Bekas Gereja

Setibanya di Joplin dan mulai mendekati masjid, saya agak kaget dengan arsitektur bangunannya. Masjid Joplin ini ukurannya jauh lebih besar daripada yang di Springfield dan dari luar saya merasa bangunan ini mirip sekali dengan gereja.

Saat memasuki masjid, nampak sepatu-sepatu berjejer rapi dan seluruh lantai tertutupi karpet yg lembut dan tebal. Bangunan bagian dalamnya agak menyerong.

Kecurigaan saya kayaknya benar karena nampak pada bagian ujung ruangan terlihat model jendela yang khas gereja di mana mereka biasa menaruh patung Yesus. Arah kiblat diruangan masjid ini tepat di sebelah kanan pintu masuk. Sedangkan jendela lurus dengan pintu masuk.

Kekagetan saya makin berlanjut saat sang khotib mulai berkhotbah. Dari postur, warna kulit, semua mirip sekali dengan orang Indonesia, meskipun bahasa Inggrisnya sudah mirip orang Amerika.

Selesai shalat Jumat, salah satu jamaah berbincang-bincang dengan kami dan bertanya asal kami. Rraut mukanya terlihat sangat gembira dan dengan segera ia memanggil sang khotib sekaligus imam tadi. Ternyata benar, beliau asli orang Indonesia berasal dari Aceh. Namanya, Ustad Lahmudin.

Ia mengajak kami berpindah ruangan yang ternyata ruangannya cukup besar dengan banyak meja bundar di dalamnya.

“Ini adalah ruangan tempat para jamaah biasa kumpul dan makan bersama,” ujar Ustad Lahmudin.

Tampak di sebelah kanan pintu masuk terdapat area dapur dengan beberapa alat masaknya. Ia  menyampaikan bahwa di dalam kulkas juga terdapat daging halal.

“Apabila ada jamaah yang berminat, mereka bisa mengambilnya dan meninggalkan uangnya di atas kulkas, “ ujarnya sambil menunjuk tempat mangkuk kecil yang disediakan.

Menurut Ustad Lahmudin, masjid Joplin ini belum lama berfungsi. Tahun itu, 2007,  masih beberapa bulan saja digunakan. Maklum, masjid ini awalnya adalah sebuah gereja. Karena sepi ditinggal jamaahnya, akhirnya bangunan ini dibeli komunitas Muslim Joplin yang kebanyakan mereka bekerja di rumah sakit di kota itu.

Ustad Lahmudin sendiri sebelumnya di New York bersama Ustad Shamsi Ali dan akhirnya memutuskan pindah ke Joplin saat mendapat informasi akan dibukanya masjid ini dan belum ada imam.

“Saya menurunkan  sendiri secara perlahan-lahan patung Yesus,” ujarnya.

Selain ada ruangan shalat dan dapur, masjid ini juga dilengkapi ruang kelas yang dipakai saat Sunday Class (kelas hari minggu untuk anak-anak kecil belajar mengngaji) dan belajar Islam.

Selain diajak berkeliling, hari itu para jamaah silih berganti memasuki ruangan tempat kami berbincang-bincang. Selain menyapa, ada pelukan hangat dari mereka yang masih terkenang.

Saat ditanya tentang ukhuwah yang lebih terasa di sini daripada di Indonesia, Lahmudin menjawab ringan, “itu karena jumlah umat Muslim di sini masih minoritas berbeda dengan di Indonesia. sehingga saat mereka bertemu dengab saudara seiman, maka kebahagiaan yg luar biasa akan muncul.”

Hari Jumat yang hangat telah kami habiskan bertemu dengan saudara seiman di Masjid Joplin.

Satu momen yang tidak kami lupakan adalah saat hari Thanksgiving, di mana saat itu kampus tutup dan semua mahasiswa di asrama sedang pulang.

Dua akhwat rombingan memutuskan untuk menerima tawaran salah satu dosen kami untuk menginap beberapa hari di rumahnya.

Saya, lebih memilih mengontak Ustad Lahmudin yang telah mengijinkan kami menginap di masjid Joplin beberapa hari.

Hari pertama sebelum ke masjid, kami dijemput oleh salah satu jamaah yang merupakan seorang dokter. Sebelumnya, kami diundang mampir terlebih dulu ke rumahnya.

Meskipun menginap di masjid, selalu saja ada jamaah yang datang serta mengantar makanan. Bahkan ada jamaah yang membawa daging kalkun besar buat kami. Ada pula jamaah, seorang imigran dari Palestina yang mengajak kami ke rumahnya untuk makan bersama. Tak lupa, Ustad Lahmudin membawa kami ke rumahnya dengan menyediakan Soto yang sudah lama kami rindukan. Subhanallah, indah sekali persaudaraan antar iman.

Akhir Januari 2008, saya kembali ke Indonesia. Kenangan hangat itu telah lewat 4 tahun lamanya.

Namun betapa kagetnya mengetahui beberapa hari lalu masjid yang biasa kami gunakan shalat Jumat itu telah lumat dibakar oleh orang yang tak bertanggung jawab. [Baca: FBI Selidiki Masjid yang Dibakar]

Kabarnya, di saat kejadian, Ustad Lahmudin baru saja meninggalkan masjid setelah tengah malam.  Tiga jam kepergiannya,  masjid yang menjadi andalan kaum Muslim di daerah itu telah hangus dilalap api.

Semoga Ustad Lahmudin dan jamaah Muslim di Joplin diberikan kesabaran dalam menghadapi ujian ini di bulan Ramadhan ini. Semoga pula Allah menggantinya lebih baik.*/Dwi Susanto, Dosen di PENS-ITS, web kangtanto.com.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya JPRMI Desak Pemerintah Usir Dubes Myanmar dari Indonesia
Tulisan selanjutnya Empat Hal Yang Bisa Dilakukan untuk Rohingnya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Berita dari Anda

Diskusi Kepemimpinan LIDMI, Pendiri INSISTS Sampaikan Konsep Adab dalam Melahirkan Pemimpin Beradab

24 Desember 2022 21:00
Berita dari Anda

Muhammadiyah Yaman Gelar Audiensi dan Sosialisasi Strategi Dakwah

22 Desember 2022 10:32
Berita dari Anda

Wakil Ketua I DPRD PPU Hadiri LTC Pemuda Hidayatullah di IKN

4 Desember 2022 21:21
Berita dari Anda

Hinaan “Anjinghu Akbar” Muncul Kembali, SPI Mengecam Keras

1 Desember 2022 19:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?