Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita dari Anda

Mahasiswa Nanyang Terinspirasi Aceh Memuliakan Tamu Etnis Rohingya

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Desember 2015 10:39 10:39 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Desember 2015 10:30
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Empat mahasiswi dari Jurusan Komunikasi, Nanyang Technological University (NTU) Singapura memfilmkan salah budaya masyarakat Aceh; Peumulia Jamee dan pengungsi Rohingya.

Implementasi budaya memuliakan tamu ini, terlihat dari bagaimana masyarakat Aceh menyambut kedatangan para pengungsi etnis Rohingya yang terdampar di pantai Aceh Utara dari Negara Burma tengah tahun lalu. Ketika itu, banyak negara justru menghalau para pengungsi ini agar tak mendarat di negara mereka.

Keempat mahasiswi asal Singapura ini, Chiewy, Jade, Clarissa dan Aileen mengakui tingkat kepedulian dan rasa sosial masyarakat Aceh sangat tinggi.

“Kami banyak membaca dari media, bagaimana nelayan Aceh dengan heroiknya menolong para pengungsi ini di tengah laut dan kemudian membawanya ke daratan Aceh. Di sini masyarakat Aceh lainnya juga menerima dengan penuh rasa kekeluargaan, menyambut, memberikan bantuan dan menerima mereka layaknya tamu. Para pengungsi begitu dimuliakan,” kata Chiewy, saat bekunjung ke Integrated Community Shelter/ICS yang dibangun dan dikelola Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya (KNSR) di Desa Blang Adoe, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, Jumat (11/12/2015) kemarin.

Apa yang masyarakat Aceh lakukan terhadap para pengungsi ini, kata Chiewy, ternyata menjadi bagian dari budaya peumulia jamee.

Baca Juga

Puluhan Murid SPI Jakarta Angkatan ke-13 Dinyatakan Lulus  
Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga
Hidayatullah Samarinda Dirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Outbound Seru di TSOT  Prigen Pasuruan
Tutup Dauroh, Pesantren Hidayatullah Kupang Berbagi Bingkisan Ramadhan Kepada Warga non-Muslim Sekitar

“Kami terinspirasi budaya mulia ini, karenanya kami ingin membuatnya menjadi sebuah film dokumenter. Film ini nantinya menjadi tugas akhir kami sebagai mahasiswi di NTU,” jelas sutradara film dokumenter ini.

Di ICS Blang Adoe, keempatnya mewawancarai sejumlah relawan, yang selama ini menghabiskan waktu di sana dan terlibat langsung dalam penanganan pengungsi etnis Rohingya. Banyak sekali tantangan yang dihadapi pada saat awal penanganan, karena adanya perbedaan bahasa, budaya dan karakter antara para relawan asli Aceh dengan pengungsi Rohingya. Para mahasiswi ini juga mengapreasiasi, karena para relawan memilih menghabiskan waktu untuk orang lain, tidak semata untuk kepentingan dirinya.

Belakangan ini, kata Chiewy, saat ia melihat ada orang yang berbuat untuk kebaikan hidup orang lain, itu menjadi hal yang menyentuh hatinya. Membuatnya merasa, harusnya hidup kita memang bukan hanya tentang mengurusi diri kita sendiri. Tapi juga tentang bagaimana membuat keberadaan kita bisa bermanfaat buat orang lain.

“Ketika kita mati, orang-orang akan lupa berapa banyak uang yang telah kita kumpulkan, berapa banyak harta yang berhasil kita raih, tapi orang-orang takkan pernah lupa apa yang pernah kita lakukan untuk mereka,” ungkapnya. Melalui budaya peumulia jamee, tambah Chiewy, masyarakat Aceh sudah berbuat banyak sekali untuk orang lain. Sesuatu yang begitu menyentuh.

Untuk menuntaskan film ini, keempatnya juga sudah mengunjungi kamp penampungan Rohingya di Bayeun, Aceh Timur dan Langsa. Mereka akan kembali ke Aceh pada Januari mendatang, setelah membawa materi film yang telah diambil untuk proses editing. Salah seorang relawan ACT, Laila Khalidah yang diwawancarai untuk proses pembuatan film dokumenter tersebut menyatakan, sangat terkesan dan kagum karena para mahasiswi asing ini justru tertarik dengan budaya masyarakat Aceh.

“Mereka belajar banyak tentang peumulia jamee yang masih terus hidup dalam kehidupan masyarakat Aceh. Hal ini sangat luar biasa, karena justru mereka sebagai orang luar begitu peka dengan budaya kita,” katanya.

“Kedatangan mereka, sambung Laila, bentuk nyata bahwa keberadaan Rohingya di Aceh masih tetap menarik mata banyak pihak di dunia. Masih banyak orang yang terus menghimpun kepedulian, terlepas dari berbagai dinamika yang terjadi.

Laila berharap, melalui film yang digarap oleh empat mahasiswi NTU Singapura ini kian menjelaskan kepada warga Singapura dan negara lain betapa masyarakat Aceh memiliki tingkat kepedulian sosial yang sangat tinggi terhadap orang lain, sekalipun orang itu bukan dari bangsanya.

“Seperti mereka memperlakukan pengungsi Rohingya. Semua yang datang adalah tamu dan tamu harus dilayani sebaik mungkin. Ini sangat luar biasa,” jelasnya.

Sementara itu, Media Relations Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingnya (KNSR) Aceh Utara Zainal Bakri mengapresiasi kepedulian mahasiswa Singapura itu untuk mendokumentasikan kisah heroik nelayan Aceh tersebut. “Semoga film ini bisa memberikan gambaran bagaimana Aceh sangat memuliakan tamu di negeri ini,” kata dia.*/Zainal Bakri

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AcehFilm documenterPengungsi Rohingyasingapura
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Raja Salman, Amir Qatar Raja Saudi dan Pemimpin Qatar Ajak Beri Bantuan Palestina
Tulisan selanjutnya Remaja Jordan Dipuji Setelah Kembalikan Uang 200 Juta Pada Pemiliknya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Berita dari Anda

Diskusi Kepemimpinan LIDMI, Pendiri INSISTS Sampaikan Konsep Adab dalam Melahirkan Pemimpin Beradab

24 Desember 2022 21:00
Berita dari Anda

Muhammadiyah Yaman Gelar Audiensi dan Sosialisasi Strategi Dakwah

22 Desember 2022 10:32
Berita dari Anda

Wakil Ketua I DPRD PPU Hadiri LTC Pemuda Hidayatullah di IKN

4 Desember 2022 21:21
Berita dari Anda

Hinaan “Anjinghu Akbar” Muncul Kembali, SPI Mengecam Keras

1 Desember 2022 19:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?