Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita dari Anda

Pesantren Al Hikam Adakan Talaqqi Kitab Al-Fiqh Al-Akbar

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 April 2016 17:03 5:03 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 April 2016 17:30
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Hari Ahad (10/04/2016) kemarin, Pesantren Al Hikam Bogor mengadakan kegiatan Majelis Talaqqi, mengundang Prof. Dr. Ahmad bin Abdurrazzaq Ali Thaha Al Husaini, Guru Besar di Global University Libanon, dalam membacakan dan menjelaskan matan Kitab Al-Fiqh Al-Akbar  sehingga menyerahkan sanad kepada seluruh peserta.

Kegiatan langka yang dilaksanakan di Lantai 3 Gedung Kulliyatul Qur’an  ini mengundang antusias yang cukup banyak dari masyarakat, khususnya dari kalangan pesantren dan penuntut ilmu.

Kitab Al-Fiqh Al-Akbar adalah kitab akidah fenomenal, ditulis oleh Al-Imām Abu Hanīfah r.a. (80-150 H), menjadi kitab akidah tertua yang pernah ditulis dalam sejarah peradaban Islam.

Kitab ini ditulis  di masa tabi’in mulai muncul penyimpangan akidah khususnya dari kelompok-kelompok sempalan Khawarij, Qadariyah dan Murjiah.

Al-Imam Abu Hanifah hadir di garda terdepan untuk membela akidah Ahlus Sunnah wa al-Jāma’ah dari berbagai syubhat.

Baca Juga

Puluhan Murid SPI Jakarta Angkatan ke-13 Dinyatakan Lulus  
Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga
Hidayatullah Samarinda Dirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Outbound Seru di TSOT  Prigen Pasuruan
Tutup Dauroh, Pesantren Hidayatullah Kupang Berbagi Bingkisan Ramadhan Kepada Warga non-Muslim Sekitar

Kitab yang tidak terlalu tebal ini (dalam teks matan yang diberikan terdiri atas 42 halaman) di-talaqqi mulai pukul 10 pagi dan berakhir tepat ketika adzan maghrib berkumandang.

Syaikh Al Husaini mengawali pembacaan kitab ini dengan menjelaskan prinsip-prinsip mendasar akan akidah Ahlus Sunnah wa al-Jāma’ah.

Menurutnya, periode paling mu’tamad ada pada 3 abad pertama (periode Sahābat, Tābi’in dan Atba’ut Tābi’īn). Kata ‘qarn’ menurut Ibn Asakir bermakna 100 tahun (1 abad). Syaikh juga menerangkan tentang hadits perpecahan 73 golongan dari umat Islam, dimana kalaupun 72 golongan yang masuk ke nerakanya Allah Subhanahu Wata’ala itu berhimpun, totalnya masih sangat kecil dibandingkan golongan yang ke-73.

Golongan ke-73 inilah golongan yang selamat, firqah an-nājiyah, yang jumlahnya sangat besar, as-sawādul a’zham, dan di dalamnya Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat berada.

Al-Imam Ibn Hajar al-Atsqalāni menerangkan tentang hal ini juga dalam Kitabnya Al-Kāfi Asy-Syāfi fi Takhrij Ahādits al-Kasyyāf.

Pemikiran mu’tazilah mulai tersebar luas awal tahun 260 H, dan di awal abad ke 4 H, umat ini dihadirkan dua tokoh pembela Ahlus Sunnah yakni Imam Al-Asy’ari dan Imam Maturidi.

Kedua ulama ini tidak membuat konsep akidah baru, namun keduanya memformulasikan dari ajaran Nabi ﷺ dengan sanad yang shahih kepada para sahabat. Mereka menuliskan dalil-dalil aqli dan naqli dan sekaligus bantahan terhadap kelompok-kelompok di luar Ahlus Sunnah.

Inilah mengapa terma Ahlus Sunnah dinisbatkan kepada kedua ulama ini, sehingga Imam as-Sayyid al-Murtadha al-Husaini az-Zabidi al-Hanafi dalam Ithaf Sadat al-Muttaqin bi Syarhi Asrar Ihya’ Ulumuddin menggelari keduanya sebagai Khatim al-Lughawiyyin.

Sejak saat itulah muai banyak buku yang ditulis tentang tema-tema akidah, dan umumnya para penulisnya adalah seorang pendukung Asy’ari dan Maturidi.

Syaikh juga mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Hakim dan Ahmad bahwa kelak Konstantinopel (Istanbul) akan ditaklukkan oleh seorang panglima, sebaik-baik tentara, beliau dan pengikutnya, yakni Sultan Muhammad al-Fatih (w. 886 H), dan dia juga seorang pendukung Asy’ari dan Maturidi.

Al-Fatih dikenal sebagai sosok yang meyakini bahwa Allah tidak menyerupai makhluk, tanpa arah dan tempat dan juga seorang sufi.

Terkait Imam Abu Hanifah r.a., Syaikh menjelaskan bahwa ia hidup dari generasi salah sehingga menjadi pemuka ulama salaf, maka wajar karyanya menjadi rujukan paling utama dan tertua, padahal ia seorang Persia (terkait asal Persia ini terdapat penguat hadits dari Bukhari dan Muslim).

Ulama salaf pada umumnya sangat mementingkan penjelasn akidah, sehingga Imam Abu Hanifah r.a. pergi dari Basrah ke Kufah. Dalam perjalan 1 bulan lamanya sebanyak 20 kali dalam hidupnya hanya untuk meluruskan penyimpangan akidah.

Hal yang sama dijumpai pada Imam Syafi’i r.a. yang menulis tema akidah sebelum menulis kitab fiqh. Al Imam Abu al-Muzhaffar al-Asfarayini (w. 471 H) dalam At-Tabshir fi ad-din menegaskan siapa yang ingin memahami akidah Ahlus Sunnah maka lihatlah kepada apa yang telah dibukukan oleh Al Imam Abu Hanifah dan Al Imam Syafi’i, dan tidak ada perbedaan di antara keduanya sama sekali.*/ Wido Supraha

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akidah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kapolri: Uang Rp 100 Juta Untuk Keluarga Siyono Berasal dari Kadensus
Tulisan selanjutnya Komisi III Akan Panggil BNPT dan Kapolri Terkait Siyono

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Berita
3 Juni 2026 06:00
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Berita dari Anda

Diskusi Kepemimpinan LIDMI, Pendiri INSISTS Sampaikan Konsep Adab dalam Melahirkan Pemimpin Beradab

24 Desember 2022 21:00
Berita dari Anda

Muhammadiyah Yaman Gelar Audiensi dan Sosialisasi Strategi Dakwah

22 Desember 2022 10:32
Berita dari Anda

Wakil Ketua I DPRD PPU Hadiri LTC Pemuda Hidayatullah di IKN

4 Desember 2022 21:21
Berita dari Anda

Hinaan “Anjinghu Akbar” Muncul Kembali, SPI Mengecam Keras

1 Desember 2022 19:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?