Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita dari Anda

Aksi 212 Harus Dirawat agar Jadi Modal Kebangkitan dan Terbangunnya ‘Ummatan Wahidah’

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 Desember 2016 14:47 2:47 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 Desember 2016 14:47
Bagikan
[Ilustrasi] Umat Islam Indonesia
Bagikan

Hidayatullah.com—Dua aksi bersejarah (Aksi Bela Islam II  atau Aksi 411 dan Aksi Bela Islam III  atau dikenal Aksi 212 bukanlah akhir perjuangan. Justru dua peristiwa ini merupakan pengantar dan langkah awal untuk menemukan identitas keumatan dan cikal-bakal kebangkitan umat Islam.

Hal itu disampaikan pendiri Sirah Community Indonesia (SCI)Asep Sobari,  saat mengisi kajian subuh di Masjid Aqshal Madinah PP Hidayatullah Surabaya.

“Islam tak mengenal petak-petak bangsa. Islam hanya mengenal ummah yang konsepnya melintasi bangsa, bahkan lebih baik dari bangsa,” ujarnya belum lama ini.

Menurutnya, peristiwa Aksi Bela Islam II dan III telah membuktikan gerakan ini tidak hanya diapresiasi dan didukung oleh jutaan masyarakat Indonesia yang tinggal di tanah air, namun juga oleh mereka yang berada di luar negeri seperti Jerman, Mesir, dan lain-lain.

Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa ini bisa jadi langkah awal diterapkannya konsep “ummatun wahidah” (ummat yang satu) yang sudah pernah diterapkan sejak masa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.

Baca Juga

Puluhan Murid SPI Jakarta Angkatan ke-13 Dinyatakan Lulus  
Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga
Hidayatullah Samarinda Dirikan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Outbound Seru di TSOT  Prigen Pasuruan
Tutup Dauroh, Pesantren Hidayatullah Kupang Berbagi Bingkisan Ramadhan Kepada Warga non-Muslim Sekitar

Dengan konsep “ummah”, kata Asep, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mampu menyatukan kaum muslimin berbagai suku, etnis dan bangsa. Padahal, para sahabat kala itu memiliki fanatisme kabilah-kabilah Arab dikenal sangat tinggi.

“Pada zaman Rasulullah terdapat banyak suku. Setiap suku rata-rata dihuni 3000-5000 orang. Namun Rasulullah mampu menyatukan mereka menjadi satu dalam konsep ummah”, jelasnya.

Konsep “ummah”, kata peneliti Institute for The Study of Islamic Thought and Civilizations (INSIST) ini lebih modern dan lebih hebat daripada konsep bangsa. Bahkan, “ummah” ini lebih tinggi dari institusi negara di seluruh dunia saat ini.

Konsep ummatan wahidah min duuninnas paling cemerlang berkembang di zaman Bani Umayyah di Andalusia (Spanyol) dengan kekuasan dari Spanyol sampai Xinjiang. Konsep ummatan wahidah kala itu  mampu bertahan 100 tahun.

“Meskipun Bani Ummayah runtuh dan pecah, lalu disusul Bani Abbasiyah di Baghdad, tapi keummatannya tetap bertahan. Negaranya runtuh, tapi keummatannya tidak,” paparnya.

Ia membandingkan hebatnya konsep umatan wahidah, di mana ketika itu,  seorang muslim dari Andalusia (Spanyol) yang melakukan safar (perjalanan) ke Baghdad (Iraq), orang tidak perlu ada izin visa apalagi pakai sidik jari.

“Sementara saat ini, Negara semakin maju, kita tidak bisa masuk ke Negara manapun. Bahkan jika mau ke luar negeri masih ditanya punya rekening atau simpanan uang berapa,” ujarnya.

Sementara ketika konsep Islam digunakan, pemuda dari Andalusia  yang melakukan perjalanan ke Baghdad sampai perbatasan Xinjiang boleh.  Bahkan jika mau melakukan pernikahan di perjalanan dengan gadis setempat juga boleh. Termasuk mencari pekerjaan, tanpa permit (izin).

Jika ada yang kehabisan uang/bekal dalam perjalan, sewaktu-waktu mereka bisa mencari baitul maal (semacam lembaga zakat).

“Inilah konsep ummah yang istilahnya dan namanya datang dari Allah dan digunakan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.”

Menjaga Nyawa Umat Islam

Konsep ummah (ummatan wahidah) juga telah menjadikan umat Islam memiliki izzah (harga diri),  bahkan bisa menjaga nyawa umat Islam, hatta, itu hanya satu orang.

Asep memberikan dua kisah sejarah, ketika konsep ummah diterapkan. Suatu ketika di zaman kekhalifahan ahun 837 M pada zaman Khalifah Al Mu’tasim Ibnu Harun al Rasyid, (795-842 M) atau akrab disapa al-mu’tasim billah ada seorang budak wanita dilecehkan (dibully) orang Romawi. Saat itu sang wanita berteriak, “Di manakah engkau Wahai Al Mu’tasim?”

Akibat pelecehan ini, Khalifah Al Mu’tasim mengerahkan ribuan pasukan  mengepung Kota Ammuriyah,  untuk melindungi kehormatan wanita Islam  dan menjaga kehormatan Islam. Dalam serangan ini,  30.000 pasukan Romawi tewas dan puluhan ribu lain lain dijadikan budak.

Kasus kedua ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz mendengar kabar ada seorang muslim yang sholeh ditawan Romawi. Maka, Umar bin Abdul Aziz langsung mengancam Romawi dengan mengatakan, “Aku bersumpah demi Allah, jika engkau tak segera mengirimnya (tawanan Muslim), maka aku akan mengirim pasukan untuk menggempurmu yang barisan awalnya ada di depanmu dan barisan akhirnya ada di tempatku (panjang kira-kira dari Damaskus sampai Romawi).”

“Itulah ummah.  Ketika seseorang mengatakan Asyhadu an laa illaaha illallah, maka setelah itu, semuanya menjadi urusan kaum Muslim.”

Banggalah Sebagai Khairu Ummah

Karena itu menurut Asep, dengan konsep ini, maka seharusnya tidak ala lagi kaum Muslim mengalami kesulitan dan terlantar. Sebab jika ada seorang muslim kesulitan, maka saudara, teman dan tetangganya harus menanggung. Jika teman/tetangga tidak mampu, maka komunitasnya akan menanggung. Komunitas tak mampu, maka Baitul mall dan Negara-lah yang harus menanggung, itulah konsep ummatan wahidah atau ummah. Hanya satu orang saja, sampai memerlukan pembelaan negara, ujar Asep.

Karena itu, mengingat pentingnya membangun ummah, maka memaparkan beberapa unsur agar pasca Aksi 411 dan Aksi 212 tidak sekedar menjadi kerumunan, namun terbangunnya sebuah konsep “ummah” yang benar-benar dipraktikkan.

Di antara elemen penting itu ada pada Surat al-Anfal ayat 72, yakni adanya iman, hijrah, jihad harta, jihad jiwa, saling melindungi, saling menolong, dan loyalitas.

“Aksi 411 dan Aksi 212 baru permulaan, kita bisa menyaksisan di sana ada modal untuk kemudian kita semakin diperkuat agar terwujud ummah  yang benar-benar bisa menjadi kenyataan,” pungkasnya.*/Luqman Hakim, penggiat komunitas PENA Jatim

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:aksi 212aksi bela IslamAksi Bela Islam IIIal Mu'tasim BillahBani AbasiyahBani UmaiyyahDr Imaduddin Khalilkhalifah al Mu'tasimkonsep Ummahpersatuan umatUkhuwahumatummahummatan wahidah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Petunjuk Nabi Tentang Sedekah
Tulisan selanjutnya Eksepsi Terdakwa Ahok Dinilai Banyak tak Berdasar Hukum

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Berita dari Anda

Diskusi Kepemimpinan LIDMI, Pendiri INSISTS Sampaikan Konsep Adab dalam Melahirkan Pemimpin Beradab

24 Desember 2022 21:00
Berita dari Anda

Muhammadiyah Yaman Gelar Audiensi dan Sosialisasi Strategi Dakwah

22 Desember 2022 10:32
Berita dari Anda

Wakil Ketua I DPRD PPU Hadiri LTC Pemuda Hidayatullah di IKN

4 Desember 2022 21:21
Berita dari Anda

Hinaan “Anjinghu Akbar” Muncul Kembali, SPI Mengecam Keras

1 Desember 2022 19:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?