Hidayatullah.com–Jumlah korban tewas dalam serangan brutal itu mencapai 46 orang di antaranya diakui AS sebagai gerilyawan Iraq. Sumber-sumber di rumah sakit dan warga setempat menyebutkan delapan warga sipil -termasuk seorang wanita dan seorang anak– juga tewas akibat berondongan amunisi tentara AS.
Kepada AFP, tanpa mau menyebutkan namanya, seorang jubir pada Divisi Infanteri Keempat (4ID) yang beroperasi di Samarra membenarkan jumlah total tewas 54 tersebut. .
Belum ada konfirmasi rinci di antara korban itu adalah dua warga Iran yang tewas dalam busnya akibat hantaman amunisi sepulang dari menjalankan ibadah umrah. Namun, kontras dengan statemen militer AS, warga dan sumber rumah sakit di Samarra menyebutkan korban tewas tidak sampai sebanyak 54 itu.
Bertentangan dengan versi AS, versi warga menyatakan sebagian besar korban adalah warga sipil. Bukan penyerang atau gerilyawan Iraq. Karena itu, mereka menilai militer pendudukan AS di Samarra telah berlaku brutal. Jadi, baik warga dan ulama setempat menyerukan secepatnya tentara Paman Sam angkat kaki.
Peristiwa ini merupakan puncak pekan kekerasan terburuk selama tujuh bulan pendudukan AS yang juga menewaskan tujuh intel Spanyol, dua warga Korea, dua Jepang, dua AS dan seorang warga Kolombia.
Menurut direktur rumah sakit itu, Abed Tawfiq, korban yang dirawat akibat tembakan dan pecahan granat dari pasukan AS berjumlah lebih dari 60 orang.
Dikatakannya, karena banyaknya orang yang luka-luka akibat tembakan pasukan AS saat bentrok dengan para gerilyawan yang menyerang iring-iringan pasukan AS pada Minggu siang dan malam itu, mereka terpaksa dirawat di lorong rumah sakit.
Kepala kepolisian kota itu, Kolonel Ismail Mahmud Mohammed mengatakan sekitar 20 orang di antaranya terluka saat tengah salat di sebuah masjid. Dikatakannya, para gerilyawan yang menyerang pasukan AS telah mundur ketika pasukan AS membalas tembakan. Mohammed menuduh pasukan AS telah menembak membabi buta dengan semua senjata mereka.
“Ada serangan dan tembak-menembak antara pasukan AS dan gerilyawan selama setengah jam. Gerilyawan mundur, dan pengeboman dimulai dengan menggunakan semua senjata ke segala arah tanpa pandang bulu,” katanya.
Sentimen anti-AS masih kental di Iraq. Usai insiden, massa bergerombol di lokasi kejadian sembari memekikkan slogan-slogan pro-Saddam. Seorang warga melepaskan tembakan ke udara ketika rombongan wartawan ramai tiba di lokasi. (ap/afp/mi/jp)