Hidayatullah.com–Sekitar delapan dari sepuluh warga Muslim Inggris mengaku merasakan kontradiksi antara menjadi anggota masyarakat yang baik dan menjalankan agamanya. Kesimpulan ini diambil berdasarkan penelitian baru-baru ini yang dilaksanakan oleh Open Sicety Institute (OSI) dan diumumkan oleh Komisi Hak Asasi Manusia Islam bertepatan dengan digelarnya Pekan Kesadaran Islam di Inggris.
Seperti dikutip BBC, berdasarkan survey tersebut tiga persen dari total penduduk Inggris adalah pemeluk Islam. Survey ini merupakan tahap pertama dari serangkaian upaya yang ditujukan untuk membantu pemerintah Inggris dalam memahami dan menangani keprihatinan masyarakat Muslim.
Survey ini diikuti oleh lebih dari seribu responden, dan dari jumlah itu sebanyak 30 persen di antaranya mengatakan mereka puas tinggal di Inggris.
Alasannya, mereka berpendapat masyarakat Inggris toleran dan memberi kebebasan kepada kalangan Muslim, dibanding dengan negara Eropa lainnya.
Tetapi, 30 persen responden juga mengungkapkan mereka tidak puas hidup di Inggris karena media tidak secara utuh memotret Islam.
Kelompok responden itu mengatakan Inggris tidak menghormati nilai-nilai keagamaan. Sisanya, sekitar 40 persen mengaku netral atau punya perasaan yang beragam.
Meski demikian mayoritas responden merasa mereka dicurigai dan pihak berwenang tidak mengambil langkah yang cukup untuk menangani diskriminasi ini.
Hasil survey ini diumumkan ketika perdebatan mengenai integrasi Muslim ke dalam masyarakat tengah hangat di seluruh Eropa.
Islamophobia meningkat
Beberapa tahun terakhir ini, islamophobia warga Inggris meningkat tajam. Kaum muda muslim seringkali menjadi sasaran warga Inggris yang tidak suka dengan Islam. Sher Khan dari Dewan Muslim Inggris mengatakan hasil survei terbaru ini menegaskan temuan sebelumnya tentang nasib umat Islam di Inggris.
Menurutnya sejak tahun 2002, rasa takut akan Islam atau Islamophobia semakin terasa di kalangan warga dan pemerintah Inggris.
Sekitar 80% dari umat Islam di Inggris mengaku telah menjadi korban dari Islamophobia sejak Serangan 11 September dan sepertiga diantara keluhan itu terjadi di bandara-bandara Inggris.
Kaum Muda Muslin tampaknya yang paling banyak menjadi korban diskriminasi dan hal ini antara lain disebabkan mereka menggunakan kerudung maupun pakaian Islam lainnya.
Sepanjang tahun 2001 hingga 2003, jumlah warga Muslim yang diperiksa berdasarkan UU Anti Terorisme 2000 meningkat sampai 302% sementara warga kulit putih dan kulit hitam yang dihentikan aparat keamanan untuk diperiksa menimgkat 118%.
Tetapi, bagaimanapun pada sisi lain warga Muslim juga semakin berani mengungkapkan perasaan maupun pendapatnya.
“Banyak generasi baru yang merasa sudah menjadi bagian Inggris dan mereka tidak bisa berdiam diri jika menghadapi masalah-masalah seperti ini,” kata Sher Khan. (bbc)