Hidayatullah.com–Inggris mengatakan delapan tentaranya telah tewas di Afganistan, adalah angka kematian yang paling buruk dalam waktu 24 jam. Perdana Menteri Gordon Brown mengatakan tentara menghadapi “musim panas yang keras” untuk memerangi para pengacau.
Lima tentara yang sedang berpatroli tewas oleh dua ledakan, merupakan angka tertinggi yang tewas dalam satu serangan.
Menurut catatan, Inggris telah kehilangan 184 tentara di Afganistan semenjak ikut membantu Amerika Serikat mengadakan invasi ditahun 2001, lebih dari 179 orang tewas ketika terjadi perang Iraq pada tahun 2003.
Lima belas tentara termasuk empat perwira, telah tewas dalam sepuluh hari terakhir dalam perang melawan pejuang Taliban.
Kekalahan besar dikhawatirkan akan mengurangi dukungan masyarakat Inggris dari perkembangan di Afganistan dan akan semakin memperburuk posisi Brown yang dalam jajak pendapat telah mendapatkan penilaian yang rendah menjelang pemilihan parlemen yang akan berlangsung pertengahan tahun 2010.
Sebagian besar surat kabar terkemuka pada edisinya hari Sabtu melaporkan tentang kekalahan itu, harian berhauan kanan meminta Brown untuk “mundur atau menarik tentara kita dari sana.”
“Kita tidak bisa berlanjut seperti ini, menyaksikan generasi yang gagah perkasa tewas lebih dari satu orang per hari. oleh sebab yang tidak jelas dan tanpa bantuan yang cukup,” kata harian itu.
Harian Times mengatakan ini adalah kematian terbesar sejak terjadi konflik Falkland di tahun 1982, ketika tentara Inggris mengambil alih kepulauan Antlantik Selatan setelah invasi oleh tentara Argentina.
“Pada sepuluh hari terakhir, masyarakat Inggris manjadi biasa dengan ritual harian dari ….pengumuman menyedihkan,” kata surat kabar tersebut.
Kepala Staf Keamanan Inggris Jock Stirrup mengatakan tentara Inggris memenangkan misi meningkatkan keamanan di Afganistan sebelum pemilihan presiden.
“Tetapi akan makan waktu dan yang akan memakan korban…Orang kita disana tahu apa yang mereka harus lakukan dan mereka tahu bahwa mereka berhasil,” katanya.
Kata Brown tidak ada alasan untuk menarik pasukan dari Afganistan sampai komunitas internasional menyelesaikan misi mereka disana dan ancaman dari Taliban telah padam.
“Ini adalah musim panas yang susah-ini belum selesai,” kata Brown kepada wartawan dalam pertemuan puncak 8 negara maju di Italia.
“Tetapi komitmen dari masyarakat internasional adalah sangat vital,” katanya.
“Penyelesaian pekerjaan yang kita mulai di Afganistan tidak berkurang. Kita harus membantu untuk menyelenggarakan pemilihan presiden yang bebas dan adil di Afganistan.”
Inggris telah meningkatkan jumlah tentaranya sekitar 9.000 orang dari sebelumnya 8.100 untuk meningkatkan keamanan menjelang pemilihan presiden di Afganistan yang akan diadakan pada tanggal 20 Agustus.
Medan yang sulit
Kritik mengenai Inggris meletakkan tentara dalam bahaya dengan tanpa mengerahkan tentara dalam jumlah yang cukup besar dan gagal memberikan tentara peralatan yang meraka butuhkan, khususnya helikopter dan kendaraan tempur bersenjata untuk menghadapi bomb pinggir jalan yang mematikan dari kelompok pejuang Taliban.
“Saya kira kami telah menjawab permintaan militer untuk tambahan peralatan pada alat-lalat tertentu-peralatan penglihatan malam dan juga kendaraan bersenjata dan perlindungan dari kendaraan ini juga helikopter,” kata Brown.
“Saya kira anda harus menyetujui bahwa medannya sangat berat. Ini adalah alasan kita mengahadapi Taliban Afganistan.”
Sebagian besar yang tewas beberapa hari yang lalu adalah karena ledakan bom, dengan Taliban menggunakan teknologi yang semakin canggih untuk meledakkan ranjau yang semakin baik dan besar dan bom yang ditaruh dijalan.
Serangan ini dimaksudkan Taliban untuk menghentikan operasi dalam skala besar oleh Inggris dan Amerika Serikat diseluruh bagian selatan Afganistan dimana kekuatan Taliban masih kuat, khususnya di Provinsi Helmand dan Kandahar.
Inggris memiliki beberapa jenis kendaraan ringan bersenjata yang di pakai di Afganistan yang telah terbukti bisa dipakai dalam medan berbukit, medan bergurun tetapi telah di hancurkan oleh bom.
Ahli perang mengatakan Inggris harus memindahkan lebih banyak helikopter pengangkut berat ke daerah itu untuk membantu membawa tentara dalam jumlah besar dalam jarak yang luas. Inggris sekarang hanya memiliki beberapa dari helikopter ini. [ebr/tm/hidayatullah.com]