Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Amerika dan Barat “Pecah” Masalah Afghan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 Oktober 2009 12:01
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Friksi soal mekanisme manajemen perang Afghanistan kini menjadi isu keamanan paling hangat di Amerika Serikat (AS). Dalam sebuah pertemuan yang dipimpin langsung oleh Presiden Amerika Barack Obama di ‘ruang darurat’ Gedung Putih Rabu (30/9) kemarin, para penasehat keamanan dan politik luar negeri Obama gagal mencapai kata sepakat soal nasib pasukan AS di Afghanistan.

Dalam sidang itu, selain Obama, hadir juga wakil presiden, menlu, menhan, penasehat keamanan nasional, kepala staf pasukan gabungan, dan panglima pusat militer Amerika. Adapun Panglima Militer AS di Afghanistan, Jenderal Stanley McChrystal, yang juga merangkap sebagai Panglima Pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Afghanistan, turut mengikuti proses sidang via konferensi video.

Ketua NATO di Washington mengatakan, “Perang Afganistan bukan hanya perang Amerika, tapi juga tugas NATO.” Sementara Ketua NATO dalam pertemuan ini ikut menegaskan perang Afganistan bukan beban yang harus ditanggung sendiri oleh Amerika, tapi tanggung jawab satu tim.

Ucapan OBama disampaikan ketika sehari sebelumnya Rasmussen mengumumkan mayoritas negara anggota NATO tidak menyetujui kinerja Amerika yang meninginkan penambahan pasukan ke Afganistan. Saat ini ada friksi yang sangat tajam dalam hubungan Eropa dan Amerika terkait pengelolaan perang Afganistan. Pemerintah Obama sejak beberapa bulan lalu telah merencanakan penambahan pasukannya di Afganistan.

berbeda dengan sikap Amerika, negara-negara Eropa dan Kanada menentang penambahan pasukan di Afganistan. Berlin dan Otawa menyatakan akan tetap menarik pasukannya dari Afganistan sesuai jadual yang telah ditetapkan tahun 2010 dan 2011, sekalipun Washington mendesak mereka mengirimkan pasukannya lebih banyak ke negara ini. Saat ini ada lebih dari 30 ribu tentara NATO yang ditempatkan di Afganistan.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Berbagai sumber pemberitaan menyebutkan, dalam sidang itu terjadi friksi tajam soal penambahan jumlah pasukan AS di Afghanistan. Beberapa waktu lalu, McChrystal dalam laporannya kepada Obama menekankan bahwa tanpa penambahan pasukan, Washington tidak punya peluang sedikitpun untuk menang dalam perang Afghanistan. McChrystal secara tegas meminta pengiriman 30 hingga 40 ribu pasukan tambahan. Permintaan McChrystal itu kini menjadi isu keamanan paling hangat di Washington bahkan telah menciptakan jurang friksi antara lembaga legislatif dan esekutif AS.

Dalam hal ini, Menlu AS, Hillary Clinton, dan Wakil Khusus Urusan Afghanistan dan Pakistan, Richard Holbrooke, mendukung penuh penambahan pasukan AS di Afghanistan. Namun di lain pihak, Kepala Staf Gedung Putih, Rahm Israel Emanuel, dan Penasehat Keamanan Nasional AS, Purnawirawan James Jones menyatakan, segala bentuk penambahan harus ditangguhkan hingga pengumuman hasil akhir pilpres Afghanistan. Usulan ini secara implisit didukung oleh Menhan AS, Robert Gates. Meski demikian, suara kelompok pendukung rencana penambahan pasukan ke Afghanistan masih lebih kuat mengingat Kepala Staf Gabungan Militer AS, Laksamana Michael Mullen, dan Panglima Pusat Militer AS, Jenderal David Petraeus, juga mendukung tuntutan McChrystal.

Di satu sisi, Obama didesak opini publik untuk menepati janjinya dalam memberantas pejuang Taliban di Afghanistan. Namun di sisi lain, Obama juga menghadapi penentangan keras dari sejumlah pejabat kubu Demokrat dan para analis eksekutif serta dari negara-negara sekutunya di NATO.

Sekedar catatan, selama sembilan bulan terakhir, Obama telah meningkatkan jumlah pasukan di Afghanistan hingga dua kali lipat menjadi 68 ribu personil. Jika tuntutan McChrystal itu disepakati, maka dipastikan akan terjadi banjir korban jiwa baik di pihak militer AS maupun di pihak sipil Afghanistan. Satu hal lain yang pasti adalah penghamburan uang pembayaran pajak dalam perang di Afghanistan. Namun poin yang penting diperhatikan adalah bahwa penambahan pasukan ke Afghanistan itu tidak berarti keberhasilan operasi militer AS. Artinya, para pejabat AS termasuk McCrystal tidak dapat memastikan hasil manajemen perang di Afghanistan.

Bila pasukan NATO tetap memaksa keluar dari Afganistan, Amerika terpaksa menanggung beban berat perang Afganistan seorang diri. Padahal sesuai data terbaru, bulan Agustus lalu adalah bulan paling berdarah selama delapan tahun menduduki negara ini. Bahkan kini anggaran perang Afganistan di tahun 2010 ternyata lebih besar dari bujet perang Iraq. [cha, irb/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Usamah Bin Ladin Tersenyum di Stasiun Metro AS
Tulisan selanjutnya Menag Minta Umat Islam Laksanakan Shalat Ghaib

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha

Berita
5 Juni 2026 08:20
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?